ADVERTISEMENT

Orang Kota Ngebet Punya Rumah di Desa padahal Tak Cocok, Tampak Asri tapi di Baliknya Bikin Risi

Orang kota ngebet punya rumah di desa padahal tidak cocok, tampak asri tapi bikin risih MOJOK.CO

Ketika narasi slow living, frugal living, hingga work life balance kian mengemuka, tidak sedikit orang kota membayangkan menghabiskan sisa hidup dengan tinggal di sebuah rumah di desa. Padahal keasrian rumah di desa tidak melulu seindah yang dibayangkan. Gangguan tetangga maupun tuntutan sosial bukanlah satu-satunya tantangan. 

***

Jika bicara soal tinggal di rumah desa, kebanyakan orang yang Mojok ajak berbincang mesti fokus pada persoalan dinamika relasi sosial. Kalau tidak gangguan tetangga yang dianggap mengganggu privasi ya tuntutan srawung yang cenderung toksik alih-alih guyub. 

Namun bagi Taufan (22), seorang pemuda desa asal Kulon Progo, DIY, orang kota yang hendak membeli atau membangun rumah di desa harus siap dengan tantangan lain yang justru berasal dari si rumah itu sendiri. Hal itu Taufan sampaikan kepada beberapa teman kuliahnya—di sebuah PTN di Sleman—yang saat melihat keasrian suasana desa Taufan langsung membayangkan kelak akan menghabiskan masa pensiun dan slow living di desa. 

“Mereka pernah main ke rumahku (di Kulon Progo), pernah juga kan KKN di desa-desa. Mereka ini kan orang kota, ada yang dari Jakarta, ada yang dari Bekasi. Ya takjub lihat suasana asri di desa. Rumah dikelilingi pohon, atau rumah di pinggir kali, atau rumah yang berdekatan dengan persawahan,” ungkap Taufan, Minggu (6/9/2026). 

“Ya mereka mengaku siap dengan dinamika sosialnya. Karena yang mereka lihat dari luar kan keramahan warga desa. Mereka juga siap meninggalkan gemerlap kota. Tapi ada hal-hal lain yang mereka, orang kota, ketahui soal tantangan rumah di desa,” sambungnya. 

Rumah di desa dekat sawah-sungai terlihat asri, tapi bikin risi dan waswas

Mulai dari yang basic dulu. Taufan membeberkan, rumah di desa memang tampak asri dan sejuk. Sangat mendukung impian menjalani hidup dengan segar dan slow living

Bagaimana tidak. Kehidupan sehari-hari diiringi dengan pemandangan sawah, udara sejuk dari perkebunan, hingga gemericik air sungai. 

“Tapi harus terbiasa karena alam yang asri juga ditinggali oleh beragam jenis binatang. Ular bisa tiba-tiba masuk rumah, laron bisa mengganggu sewaktu-waktu, kelabang, kalajengking, kodok. Mereka bisa suka-suka bertamu ke rumah,” ujar taufan. “Belum lagi tokek di sela-sela dinding rumah.” 

Orang desa jelas sudah terbiasa. Namun, hal itu bakal menjadi tantangan adaptasi tersendiri bagi orang kota yang cenderung jijikan. Taufan berani menjamin, pasti orang kota bakal risih dan selalu overthinking tiap malam hari. Takut kalau tiba-tiba dirambati ular, disengat kelabang, atau tiba-tiba saja ada kodok melompat ke kasur. 

Tidak bisa tenang karena kesan horor-mistis yang selalu didengungkan

Meski awalnya mengesankan asri, teman-teman Taufan—yang orang kota itu—pun mengamini bahwa suasana di desa Taufan sangat mirip dengan suasana desa dalam film-film horor. Sebut saja KKN di Desa Penari dan Waktu Maghrib.

Kepada mereka Taufan menjelaskan, bukan hanya kesan, tapi banyak desa di Kulon Progo memang dikaitkan dengan cerita horor-mistis tertentu. Desa A punya cerita soal hantu apa, Desa B punya sebuah tempat angker, Desa C selalu diliputi kejadian ganjil di malam-malam tertentu, dan sejenisnya. 

“Persoalan rumah pun begitu. Ada rumah warga yang sebenarnya nggak gimana-gimana, tapi kemudian berkembang cerita kalau tanah tempat rumah itu berdiri dulunya pernah kejadian hal mistis, begitu-begitu lah,” beber Taufan. 

“Ada juga rumah yang awalnya nggak gimana-gimana. Tapi kemudian mencuat cerita ada orang yang dihantui penampakan saat melintasi rumah tersebut,” imbuhnya. 

Apalagi jika rumah berdiri di dekat pepohonan. Desas-desus keberadaan sosok kuntilanak atau genderuwo pasti langsung berembus kencang. Dan kalau ada rumah yang berdiri di area perkebunan, pocong menjadi jenis demit yang disebut sering menampakkan diri di sekitar sana. 

Paket sering nyasar, maps alamat rumah di desa bikin kurir kebingungan

Melambungnya platform toko online seperti Shopee pada akhirnya menjangkiti warga di desa Taufan di Kulon Progo untuk belanja online. Hanya saja maps alamat rumah di desa yang tidak mudah presisi membuat drama perkuriran terjadi. 

Kepada teman-temannya (para orang kota) itu Taufan mewanti-wanti, jangan harap sekali pesan maka paket pesanan bisa langsung diterima di teras rumah. Yang lebih sering terjadi adalah si kurir kebingungan, sehingga paket pesanan malah nyasar atau dititipkan di rumah orang lain. 

Taufan berasumsi, orang kota terbiasa hidup dengan kemudahan akses. Kalau pesan paket ya paketnya akan datang tepat di alamat tujuang yang sudah tercantum di aplikasi. 

Maka dari itu, sebelum kelak memutuskan punya rumah di desa, harus siap betul dengan tantangan paket pesanan nyasar di rumah orang lain. Karena hal itu niscaya terjadi. 

Sinyal internet gampang tersendat bikin stres 

Se-slow living-slow living-nya di desa, di zaman sekarang, orang pasti butuh akses internet. Karena di sanalah sumber informasi dan hiburan berpusat. 

Hanya saja, perlu diperhatikan, di desa seperti desa Taufan di Kulon Progo, akses internet tidak selalu lancar dan kencang. “Kalau hujan deras atau mati listrik, sinyal internet tiba-tiba tersendat dan bisa terputus sama sekali,” ungkap Taufan. 

Taufan sendiri saja, tiap dua momen tersebut terjadi, sudah langsung merasa gabut bahkan stres. Hanya karena sejak kuliah ia sudah terbiasa dengan sinyal internet tanpa hambatan di daerah urban seperti Sleman. 

Maka ia tidak bisa membayangkan jika teman-temannya yang sebelumnya terbiasa hidup serba lancar di kota harus menghadapi situasi semacam itu saat tinggal di desa. Pasti campur-aduk antara emosi dan burnout, mengingat mereka selama ini sudah sangat ketergantungan dengan layar gawai dan media sosial. Sementara untuk mengaksesnya butuh sinyal internet yang lancar. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 7 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version