ADVERTISEMENT

Punya Mertua Orang Have Dikira Hidup Terjamin karena Dekengan Materiil, Padahal Sering Tekanan Batin

Punya mertua orang have (orang kaya) dikira hidup terjamin padahal tekanan batin MOJOK.CO

Tidak sedikit orang mengira bahwa punya mertua orang have (orang kaya) membuat hidup terjamin—terutama karena potensi warisan. Sepintas memang terlihat begitu. Namun kenyataannya justru penuh tekanan mental. 

***

“Pinter memang cari istri anak orang kaya, warisan banyak.”

“Dia mah enak hidupnya terjamin karena mertuanya orang kaya.” 

Celetukan-celetukan semacam itu kerap tertuju ke Reva (27), bukan nama asli. Memiliki mertua orang have (pengusaha dan peternak besar) di lingkungannya secara otomatis membuat orang sekitar memandang hidup Reva terkesan serba enak. Kondisi ekonomi Reva sendiri yang biasa saja pada akhirnya tidak begitu diperhitungkan, karena dalam bayangan orang: kalau Reva kesusahan toh tinggal menengadahkan tangan ke mertua. 

Lebih dari itu, Reva dan istri dianggap pasti sudah disediakan bagian warisan yang bisa menjadi modal hidup mereka di masa mendatang. Hidup aman lah. “Bahkan temen-temenku ada yang nyeletuk, misalnya aku nggak kerja pun, kayaknya masih akan tetap hidup karena dekengan mertua yang orang have itu,” ujar pemuda asal Jawa Timur tersebut, Sabtu (19/9/2026). 

Reva mengaku kesal dan tersinggung dengan cara pandang tersebut. Seolah ia menikahi istrinya dengan motif ingin jadi benalu. 

Mungkin ada benarnya, tapi….

Celetukan-celetukan tersebut di satu sisi, Reva akui mungkin ada benarnya. Sebab, ada kalanya ketakutan Reva terhadap ketidakpastian hidup mulai terkikis karena merasa punya dekengan materi yang kuat. 

Misalnya, yang paling utama adalah soal anak. Sesekali ia membayangkan, kelak anaknya pasti tidak akan merasa kekurangan karena memiliki simbah yang tidak hanya orang have tapi juga dikenal loyal ke keluarga. 

Sementara untuk Reva sendiri, ia merasa jika di satu sisi menemui kesulitan ekonomi, mertuanya tidak segan memberi bantuan ekonomi. Karena tentu saja mertuanya tersebut tentu tidak ingin melihat anaknya (istri Reva) mengalami kesulitan. 

“Di sisi itu mertuaku sebenarnya orang baik. Aku dulu direstui menikahi putrinya bukan karena latar belakang ekonomi. Syarat utamanya yang penting aku ini berpendidikan,” ujar Reva. 

“Tidak jarang pula aku diminta resign sama bapak mertuaku. Dia mau kasih modal lah buat bikin usaha. Tapi memang masih kutolak,” sambungnya. 

Dari situ saja, Reva tidak bisa memungkiri bahwa hidupnya memang terbilang aman—berkat istrinya yang merupakan anak orang have. Anak bungus pula. Akan tetapi, ia tidak nyaman jika orang-orang sekitar melihat hanya dari itu saja. Sebab, ada bagian-bagian yang menurutnya menjadi tekanan batin tersendiri sebagai seorang laki-laki sekaligus kepala rumah tangga. 

Tekanan batin: pencapaian pribadi dinihilkan karena ketiak mertua orang have (orang kaya)

Bagian paling tidak menyenangkan bagi Reva—dengan memiliki mertua orang kaya alias orang have—adalah selalu ditempatkan di bawah ketiak mertua. 

Maksudnya begini: sering kali orang mendiskreditkan jerih payah Reva sendiri. Misalnya, ketika dengan hasil menyisihkan uang hasil kerja untuk membeli kendaraan pribadi, yang ada di bayangan orang pasti kendaraan tersebut merupakan pemberian dari mertua. 

“Jadi pas aku beli mobil, terus kuunggah sebagai mobil hasil jerih payah sendiri, serius ada loh yang nggak percaya. Sangsi kalau itu hasil jerih payah sendiri, pasti ada uluran tangan mertua,” ujar Reva kesal.

Padahal, kalau toh memang dari pemberian mertua, pastinya Reva tidak harus menunggu waktu tahunan untuk menyisihkan uang. Tinggal minta ke istri agar merayu bapaknya, selang beberapa hari sudah langsung ACC ke dealer

Hal itu terjadi di banyak kondisi Reva yang lain. Bahkan ketika Reva memutuskan untuk tipis-tipis merintis usaha di marketplace, juga dikira modalnya pasti berasal dari mertua. Reva jelas sangat tersinggung. 

Tekanan batin karena sering kalah relasi kuasa, tidak ada harga diri sebagai kepala rumah tangga

Kesenjangan ekonomi antara keluarga Reva dan mertua membuatnya juga terjebak dalam relasi kuasa. Sejak menikah, Reva bahkan sudah kalah dengan keinginan mertuanya. 

Reva dan istri sebenarnya ingin menggelar acara pernikahan yang sederhana saja. Dengan biaya yang mereka upayakan sendiri. 

Namun, ego mertua Reva sebagai orang have tidak bisa menerima. Jika pernikahan dilangsungkan secara sederhana, seolah mertuanya pelit menggelontorkan uang. Alhasil, sebagian besar konsep dan biaya pernikahan digelontorkan oleh mertuanya. 

“Aku nggak naif. Hal itu membantu. Tapi di kemudian hari, banyak dari hidup kami yang harus diatur, dan itu membuatku kehilangan harga diri sebagai kepala rumah tangga,” ujar Reva. 

Misalnya, sudah sejak lama Reva dan istri berembuk untuk tinggal terpisah dari mertua. Bisa dimulai dari mengontrak terlebih dulu. Akan tetapi, syarat dari mertua agar mereka boleh hidup terpisah dari rumah mertua adalah harus di rumah sendiri, bukan ngontrak. 

Di titik itu, mertua Reva lantas meminta agar lekas membangun rumah sendiri saja. Mertua sanggup memodali. Kalau tidak mau, sementara tinggal satu rumah saja. Akhirnya, untuk sementara waktu mereka harus tinggal satu rumah terlebih dulu. Dan situasi itu berimbas pada banyak hal dari rumah tangga Reva yang akhirnya ikut diatur-atur. 

“Sering aku sumpek. Kalau sumpek, aku cuma izin mau jenguk orang tuaku. Alasan aslinya ya karena aku pengin menyendiri dulu,” ungkap Reva. 

“Ada teman yang bilang, kalau dia jadi aku, dia mah bodo amat. Mau diatur model gimana pun pasti mau, wong hidup terjamin kok. Tapi kalau aku, jujur jadi tekanan batin kalau diatur-atur terus. Seolah aku nggak bisa apa-apa hanya karena strata ekonomiku lebih rendah. Apalagi bapak mertuaku kalau ngomong selalu dikasih emebel-embel, ‘Udah lah percaya sama bapak’, susah,” gerutu Reva. 

Dipandang rendah karena tidak lebih kaya 

Di samping model orang-orang yang menganggap “enak” kehidupan Reva, ada pula yang merendahkan. Terutama di kalangan keluarga mertua (saudara-saudara istri). 

Pendapatan Reva sebagai pegawai swasta memang tidak bisa dibandingkan dengan warisan dan aset materi yang sang mertua miliki. Sehingga, teramat sering saudara istri mempertanyakan: Kenapa Reva masih keukeuh menolak diberi modal atau mengelola salah satu sektor bisnis sang mertua? Karena bagi saudara istri, bertahun-tahun kerja—dengan pekerjaan yang Reva tekuni—dianggap tidak akan bisa membuatnya kaya. 

Berkali-kali Reva mengungkapkan keresahan batinnya tersebut pada sang istri. Jawaban sang istri selalu simpel saja: Nggak usah dipikirin. Kendati begitu, Reva tidak bisa mengelak kalau ia sesekali merasa tertekan, dengan tidak mengenyampingkan rasa syukur diberi mertua orang hava yang membuatnya memiliki dekengan materi.

Ia membagikan cerita ini kepada saya untuk memberi gambaran kepada mereka yang selalu mengira bahwa kehidupan Reva isinya melulu soal yang enak-enak saja. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 21 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version