PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

Ilustrasi - PNS tetap WFO saat WFH (Mojok.co/Ega Fansuri)

Esther (43) adalah salah seorang PNS yang memilih untuk tidak work from home (WFH). Alasannya sederhana, WFH tidak efektif bagi pekerja yang terbiasa berangkat ke kantor, kemudian bekerja dari kantor seperti dirinya. Apabila dipaksakan, bukannya berdiam di rumah, ia malah akan bepergian dan menghabiskan lebih banyak BBM dibandingkan ketika work from office (WFO).

Dari percobaan WFH saja, sudah kentara tidak bisa

Esther tahu dirinya tidak bisa melakukan WFH sedari pemberlakuan work from anywhere (WFA) atau WFH menjelang Lebaran. Di instansinya bekerja, Esther mendapatkan kebebasan untuk tidak pergi ke kantor mulai dari hari Rabu (18/3/2026) sampai dengan Jumat (20/3/2026).

Namun selama tiga hari itu, tidak ada satu hari pun dirinya tidak pergi ke kantor.

“Libur Lebaran diberi WFH dari Rabu sampai Jumat, tapi aku lebih pilih ke kantor aja daripada di rumah,” kata dia kepada Mojok, Selasa (7/4/2026).

Esther tidak sendirian. Jakpat pernah melakukan survei pada tahun 2022 yang menunjukkan bahwa mayoritas lebih memilih untuk WFO, sekalipun telah terbiasa melakukan WFH selama pandemi. Survei tersebut menghasilkan 44 persen responden lebih memilih WFO, sedangkan hanya 15 persen dari responden memilih WFH.

Salah satu alasan utama WFO lebih digemari adalah karena lebih efektif daripada tempat kerja lainnya. Pekerja mengaku, membutuhkan komunikasi dan koordinasi yang lebih lancar dengan rekan kerja karena interaksi langsung.

Post-Pandemic Workplace Preference (Sumber: JAKPAT Survey Report 2022)
Post-Pandemic Workplace Preference (Sumber: JAKPAT Survey Report 2022)

WFH bikin boros BBM karena PNS malah jalan-jalan

Dari survei yang sama, alasan WFH dipilih adalah berkurangnya biaya untuk transportasi. Menurut responden, mereka bisa menghemat biaya ketika tidak harus pergi ke kantor.

Selain itu, mereka juga memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel dan lebih dekat dengan keluarga.

Namun, menurut Esther, sebagian rekan kerjanya justru menunjukkan sebaliknya. Mereka tidak mengurangi biaya transportasi untuk ke kantor, tetapi mengalihkannya untuk bepergian ke tempat lain, seperti mal, destinasi wisata, atau lainnya.

WFH seakan-akan menjadi kesempatan bagi sebagian orang untuk bepergian pada waktu kerja karena fleksibilitas yang dimiliki.

“Soalnya temanku diberi WFH malah jalan dan liburan,” kata dia.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan tujuan kebijakan WFH sehari dalam sepekan bagi PNS atau ASN pada hari Jumat untuk menekan mobilitas sekaligus efisiensi energi BBM. Justru, lebih banyak destinasi yang bisa dituju saat WFH—bukan hanya kantor—memungkinkan lebih banyak mobilisasi dan penggunaan BBM.

Maka tak heran, Esther mempertanyakan efektivitas kebijakan ini.

“Gimana efektifnya kalau WFH malah dipakai jalan?” kata dia.

Lebih baik WFO ke kantor agar tergoda mengikuti “jalan yang salah”

Dengan alasan itu, Esther lebih memilih untuk menggunakan kendaraannya pergi ke kantor pada hari yang sebenarnya telah ditetapkan bagi PNS atau ASN untuk bekerja dari rumah. Hingga hari ini, ia juga tetap pergi ke kantor pada hari Jumat.

Menurut dia, menggunakan BBM untuk pergi ke kantor lebih efektif daripada WFH yang bisa menimbulkan godaan untuk bepergian ke lebih banyak tempat. Kalau begitu, ia bisa jadi akan menghabiskan lebih banyak BBM.

“Mending ke kantor, motornya kan dipakai ke kantor nggak jalan-jalan,” kata dia.

“Makanya mending WFO daripada WFH. Nanti, malah nggak hemat bensin karena dipakai jalan-jalan,” kata dia menambahkan.

Selain alasan berupaya menghemat BBM sebagaimana mestinya, dia mengaku kondisi rumah tidak kondusif seperti kantor dalam mendukung pekerjaan. Kondisi rumah seakan-akan menggoda pekerja untuk berleha-leha dan tidak terlalu fokus bekerja.

Hal ini juga dibuktikan dengan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa WFH dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan pekerja. Bekerja dari rumah dapat menimbulkan konflik antara urusan pekerjaan dan personal.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version