ADVERTISEMENT

Profesi Perawat Hewan Kerap Dipandang Sebelah Mata, tapi Menjadi Pahlawan di Desa

perawat hewan

Menjadi perawat hewan tentu tidak semudah yang dibayangkan. Merawat hewan pun tidak hanya soal ketelitian, ada kesabaran dan perjuangan yang mungkin jarang dilihat orang.

***

Adel, 27 tahun, mungkin tidak akan masuk daftar profesi yang sering dibicarakan anak muda ketika ditanya soal pekerjaan impian. Ia bekerja sebagai perawat hewan, pekerjaan yang membuatnya harus berhadapan dengan ternak sakit, kandang, obat-obatan, hingga peternak yang menunggu kabar kesembuhan hewannya.

Ia adalah lulusan D3 Kesehatan Hewan UGM Karena sang bapak yang juga “mantri” hewan alias paramedik veteriner Awalnya ia ingin masuk ke jurusan dokter hewan namun rejekinya memang ke paramedik tersebut.

“Dulu memang pengennya masuk ke dokter hewan, karena bapak saya juga seorang mantri di kampung. Namun ternyata rezeki dari Allah diminta ke paramedik,” kata Adel kepada saya pada sebuah percakapan singkat di WhatsApp, Minggu (13/09/2026).

Perawat hewan bukan sekadar mengurus hewan

Bagi Adel, pekerjaannya tidak berhenti ketika jarum suntik sudah dicabut atau obat sudah diberikan. Ada rasa penasaran yang ikut dibawa pulang: sembuh nggak ya?

Profesi ini juga bukan pekerjaan yang bisa disamakan begitu saja dengan dokter hewan. Perawat atau paramedik veteriner bekerja dalam pelayanan kesehatan hewan dengan tugas yang mendukung penanganan medis, termasuk pemberian obat tertentu dan penyuluhan kesehatan hewan. Dalam struktur Puskeswan, paramedik veteriner menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan hewan di lapangan.

Ketika ada kambing sakit, Adel yang dicari

Salah satu pengalaman yang paling diingat Adel terjadi ketika ia masih berada di awal masa bekerja. Ia mendapat pasien seekor kambing yang mengalami miasis atau serangan belatung.

Kondisinya tidak sederhana. Luka pada bagian bahu kambing itu sudah parah. Bahkan, menurut Adel, lubangnya sampai membuat tulang terlihat karena bagian tersebut digerogoti belatung.

“Waktu itu saya masih awal-awal kerja. Kambingnya sudah sampai bolong bahunya, kelihatan tulangnya karena digigitin belatung,” cerita perempuan yang kini tinggal di Bondowoso, Jawa Timur.

Untungnya, peternak mau bekerja sama selama proses pengobatan. Adel menangani kambing tersebut dan terus memantau perkembangannya. Beberapa hari kemudian, kambing itu berangsur sembuh.

Bagi Adel, kasus tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membuatnya semakin yakin terhadap pekerjaannya.

“Sejak itu saya jadi yakin kalau Allah menitipkan pekerjaan ini buat bantu masyarakat, khususnya peternak,” ujarnya.

Di desa, ternak bukan sekadar hewan peliharaan. Bagi sebagian peternak, hewan ternak merupakan aset yang bisa dijual ketika keluarga membutuhkan uang. Ketika seekor kambing sakit, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi hewan, tetapi juga nilai ekonomi yang melekat padanya.

Menjadi perawat hewan tidak selalu soal bayaran

Menjadi perawat hewan juga membuat Adel berhadapan dengan situasi yang tidak selalu berjalan ideal. Pernah suatu ketika seorang peternak memanggilnya untuk mengobati kambing yang sakit mata. 

Kambing tersebut sudah disuntik dan diberi obat tetes mata. Setelah Adel selesai menangani pasien, datang seorang yang memiliki pangkat kemudian merekam proses tersebut. 

Setelah itu, pembicaraan soal pembayaran justru tidak berlanjut. Adel mengaku dirinya memang termasuk orang yang sungkan untuk menanyakan soal pembayaran. Padahal, obat itu dibeli dengan uang pribadinya.

“Ya karena aku orangnya sungkanan, jadi yaudahlah,” katanya.

Saya kemudian bertanya apakah pengalaman seperti itu membuat pekerjaan ini terasa tidak sebanding secara ekonomi.

“Insyaallah sebanding,” jawabnya.

Jawaban itu menunjukkan bahwa persoalan pekerjaan Adel bukan semata-mata soal berapa uang yang masuk setelah satu pasien selesai ditangani. Ada kepuasan lain yang ia dapat ketika peternak kembali mengabarkan ternaknya sudah sehat.

“Kalau mereka ngasih kabar ternaknya sudah sembuh, itu kepuasan tersendiri,” katanya.

Profesi yang tidak pernah dilihat oleh masyarakat

Menariknya, Adel justru mengaku belum pernah mendapat perlakuan yang membuatnya merasa profesinya diremehkan. Tidak ada orang yang mengatakan kepadanya, “Cuma ngurus hewan,” atau mempertanyakan alasan sekolahnya jika akhirnya bekerja merawat ternak.

Artinya, stigma tersebut tidak selalu hadir dalam pengalaman setiap perawat hewan. Namun, ketidakterkenalan terhadap profesi ini tetap membuat pekerjaan mereka jarang mendapat sorotan.

Padahal skalanya tidak kecil. Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian 2024 mencatat terdapat 4.826 paramedik veteriner dalam layanan Puskeswan di Indonesia. Pada tahun yang sama, terdapat 1.801 Puskeswan dan 2.021 medik veteriner yang tercatat dalam data tersebut.

Artinya, pekerjaan kesehatan hewan tidak hanya bergantung pada dokter hewan. Ada tenaga lain yang ikut bekerja di lapangan dan berhadapan langsung dengan masyarakat serta ternak mereka.

Pada 2023, ANTARA juga melaporkan sebanyak 9.384 tenaga medik dan paramedik veteriner dilibatkan dalam pengawasan kesehatan hewan kurban secara nasional.

Pahlawan yang datang ketika ternak sakit

Mungkin menyebut Adel sebagai pahlawan terdengar berlebihan. Ia sendiri tidak pernah meminta sebutan itu. Namun, ada alasan sederhana mengapa pekerjaan ini penting.

Ketika kambing peternak sakit dan sudah mengalami luka sampai tulangnya terlihat, ada seseorang yang datang untuk merawatnya. Ketika pengobatan selesai, orang itu masih menunggu kabar apakah pasiennya benar-benar sembuh.

“Udah nggak usah takut dianggap remeh atau penghasilan kecil. Maju dulu aja,” kata Adel ketika saya bertanya apa yang ingin ia sampaikan kepada anak muda yang ingin masuk profesi tersebut.

Menurut Adel, rasa lega ketika satu ternak berhasil diselamatkan jauh lebih berarti daripada kekhawatiran akan dianggap remeh.

“Kita nggak akan dianggap remeh ketika kita berada di tempat yang tepat,” ujarnya.

Bagi peternak, Adel mungkin bukan dokter yang namanya terpampang di depan klinik. Ia juga bukan sekadar orang yang datang membawa suntikan dan obat.

Ia adalah orang yang datang ketika ternak mereka sakit, membantu mengembalikan hewan itu ke kondisi sehat, lalu menunggu kabar dari kandang.

Dan di desa, kadang-kadang kepahlawanan memang sesederhana itu: membuat seekor ternak kembali sehat agar pemiliknya tidak kehilangan salah satu sumber penghidupannya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Indonesia Jadi Negara “Penyiksa” Hewan Tertinggi Dunia: Hukum Lemah, Kekerasan Jadi Hiburan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.