ADVERTISEMENT

Profesi Penjaga Toilet SPBU, Pekerjaan yang Dipandang Remeh karena Gengsi Padahal Menyenangkan

Penjaga Toilet SPBU: Profesi Menyenangkan tapi Disepelekan. MOJOK.CO

Menjadi penjaga toilet SPBU adalah pekerjaan yang menyenangkan. Pekerjaannya terlihat sederhana, memberikan penghasilan tetap, tetapi masih dianggap kurang bergengsi sehingga disepelekan oleh calon mertua dan masyarakat.

***

ADVERTISEMENT

Bagi pengendara yang sedang dalam perjalanan, toilet SPBU barangkali hanya tempat singgah untuk buang air kecil, mencuci muka, atau sekadar membasuh tangan. Setelah urusan selesai, mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan tanpa perlu memikirkan siapa yang memastikan fasilitas tersebut tetap bersih. Namun, bagi Deni (29), toilet SPBU justru menjadi tempatnya mencari nafkah selama hampir dua tahun terakhir.

Sabtu (31/10/2026), saya berkesempatan berbincang dengan Deni di rumahnya. Kebetulan, hari itu ia mendapat jadwal masuk malam. Di tengah obrolan, ia bercerita bahwa pekerjaannya sebagai petugas kebersihan SPBU sebenarnya tidak terlalu berat. Ia juga merasa nyaman dengan lingkungan kerjanya. Hanya saja, ada satu hal yang kadang membuatnya sedih: pekerjaan tersebut masih dianggap rendah oleh sebagian orang.

Menjadi penjaga toilet SPBU tidak harus bergelar tinggi

Deni mendapatkan pekerjaan itu melalui kesempatan yang diberikan kepada warga sekitar SPBU. Ia menjelaskan bahwa dirinya bekerja langsung di bawah pengelola SPBU, berbeda dengan beberapa petugas kebersihan lain yang direkrut melalui vendor.

“Sudah hampir dua tahun bekerja di sana. Kalau saya sih dari pengelola, tapi ada yang dari vendor. Cuma karena saya kan dari warga sekitar SPBU jadi dapat jatah bekerja di SPBU,” ceritanya.

Bagi Deni, pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menyebut gaji bulanannya sekitar Rp1,9 juta. Selain menerima gaji tetap, ia juga memperoleh tunjangan hari raya (THR) dan fasilitas BPJS.

Artinya, pekerjaan yang sering dianggap sepele ini bukan sekadar pekerjaan sambilan atau bahkan dikira mengandalkan uang pemberian pengguna toilet. Ada hubungan kerja dan penghasilan tetap yang menjadi pegangan Deni setiap bulan.

Toilet SPBU gratis, bukan berarti penjaganya tidak digaji

Salah satu hal yang kerap memunculkan kesalahpahaman ketika membicarakan penjaga toilet SPBU adalah persoalan uang dari pengguna. Sebagian orang masih mengira bahwa penghasilan penjaga toilet sepenuhnya berasal dari uang yang diberikan pengunjung setelah menggunakan kamar mandi.

Padahal, Deni menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima uang tambahan dari pengguna toilet. Ia memahami bahwa fasilitas toilet di tempatnya bekerja memang tidak dipungut biaya.

ADVERTISEMENT

“Kalau uang tambahan tidak pernah, karena kan ada aturan toilet SPBU itu gratis. Jadi tidak ada uang tambahan dan kami tidak melanggar aturan itu,” ujarnya.

Penjelasan tersebut sejalan dengan keterangan Pertamina yang dimuat Kompas pada November 2021. Unit Manager Communication Relations dan CSR MOR III Pertamina, Eko Kristiawan, menyebut bahwa penggunaan toilet SPBU Pertamina pada dasarnya gratis. Apabila pengunjung memberikan uang kepada petugas, pemberian tersebut bersifat sukarela, bukan kewajiban.

Dengan demikian, gratisnya fasilitas toilet tidak berarti orang yang menjaga kebersihannya bekerja tanpa penghasilan. Dalam kasus Deni, upah tetap berasal dari pengelola SPBU, bukan dari pungutan kepada pengguna.

Petugas kebersihan yang membuat seseorang ditolak calon mertua

Di balik kenyamanan bekerja, Deni ternyata menyimpan pengalaman yang cukup menyakitkan. Ia mengaku pernah diremehkan karena pekerjaannya. Bahkan, persoalan tersebut pernah merembet hingga urusan hubungan asmara.

“Ya pasti kalau diremehkan, di lingkungan saya itu kalau pekerja kayak saya masih dicap pekerjaan rendahan, Mas. Saya saja pernah ditolak sama calon mertua pasangan saya karena tahu kerjaan saya cuma menjadi penjaga toilet di SPBU. Sedih dan ngenes, Mas,” katanya.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa stigma terhadap pekerjaan kebersihan bukan sekadar persoalan komentar iseng. Dalam pengalaman Deni, pekerjaan yang dijalaninya bahkan menjadi pertimbangan seseorang untuk menerima atau menolak calon menantu.

Meski begitu, Deni mengaku tidak pernah malu menyebut pekerjaannya. Ketika ditanya bekerja di mana, ia biasanya menjawab bekerja di SPBU bagian kebersihan. Baginya, itu memang nama pekerjaan yang sedang dijalani.

Ia juga merasa stigma tersebut tidak hanya melekat pada penjaga toilet. Hampir semua pekerjaan yang berhubungan dengan kebersihan, menurutnya, kerap mendapatkan penilaian serupa: pekerjaan rendah dan identik dengan kerja kasar.

Gengsi tidak membuat orang bertahan hidup

Deni mengaku cukup sering menemukan orang yang enggan bekerja sebagai penjaga toilet SPBU. Alasannya bermacam-macam, tetapi menurut pengamatannya, gengsi menjadi salah satu alasan yang paling kentara.

Padahal, ia sendiri merasa belum tentu ingin berpindah pekerjaan meskipun ada kesempatan mendapatkan pekerjaan lain dengan penghasilan serupa. Selain gaji tetap, lingkungan kerja yang nyaman menjadi alasan dirinya bertahan.

“Belum tentu sih, Mas. Masih nyaman di sini, tidak terlalu berat dan kebetulan lingkungannya nyaman. Bisa ketemu banyak orang seperti yang pernah saya ceritakan soal perantau yang hilir mudik beristirahat di musala SPBU itu,” ujarnya.

Penelitian Akira Sai dan sejumlah peneliti lain yang diterbitkan dalam jurnal Sanitation Value Chain pada 2020, berjudul Personal Hygiene, Dignity, and Economic Diversity among Garbage Workers in an Urban Slum of Indonesia, memperlihatkan bahwa pekerja sanitasi dan kebersihan dapat menghadapi persoalan martabat serta pengucilan sosial. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pekerja memiliki cara tersendiri untuk menemukan nilai dan harga diri dalam pekerjaan yang mereka jalani.

Pada akhirnya, pekerjaan Deni mungkin tidak terdengar mentereng ketika diceritakan kepada calon mertua atau orang-orang yang masih mengukur seseorang berdasarkan profesinya. Namun, selama pekerjaan itu memberikan penghasilan, perlindungan kerja, dan ruang untuk menjalani kehidupan dengan nyaman, rasanya tidak ada alasan untuk menganggapnya lebih rendah daripada pekerjaan lain.

“Selain gaji, ya karena sudah nyaman saja, Mas. Senang kerja di sini, karena tidak terlalu berat. Bosan sedikit nggak terlalu ngaruh,” tutup Deni.

Barangkali, yang perlu dibersihkan bukan hanya toilet SPBU, melainkan juga cara pandang sebagian orang terhadap pekerjaan yang selama ini mereka anggap rendahan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Penjaga Toilet SPBU: Pekerjaan yang Terlihat Ringan tapi Kerap Diserang Kebosanan dan Siasat Mengatasinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.