Menjadi penjaga toilet SPBU sepintas terlihat sebagai pekerjaan ringan. Belum tahu saja bahwa ia harus menghadapi kebosanan luar biasa.
Di tengah lalu lalang pengendara yang singgah untuk mengisi bahan bakar, toilet SPBU menyimpan rutinitas lain yang jarang diperhatikan: para penjaga toilet SPBU dan petugas kebersihan yang harus bertahan menghadapi pekerjaan repetitif dan waktu senggang yang panjang.
Bagi sebagian pengendara, SPBU hanya menjadi tempat untuk mengisi bahan bakar, buang air, atau sekadar melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Namun, bagi penjaga toilet SPBU, tempat singgah tersebut menjadi ruang kerja yang mempertemukannya dengan berbagai cerita perjalanan orang-orang yang datang silih berganti.
Deni (29), seorang pegawai kebersihan di SPBU sekitar Jalan Wates, punya cara sendiri untuk menghadapi kebosanan selama bekerja. Selain sesekali bermain HP, ia lebih sering mengobrol dengan pengendara yang beristirahat di musala. Dari obrolan sederhana itu, ia menemukan banyak cerita yang membuat pekerjaannya tidak terasa monoton.
Menjadi penjaga toilet SPBU, bukan tukang pungut uang
SPBU tempat Deni bekerja termasuk salah satu SPBU besar di jalur barat Yogyakarta. Lokasinya kerap menjadi tujuan singgah pengendara yang menempuh perjalanan jarak jauh. Karena area SPBU cukup luas, pengelola membagi wilayah kerja para petugas kebersihan agar mereka bisa menjalankan tugas masing-masing.
Deni mendapat bagian menjaga kebersihan toilet dan musala yang berada di dekatnya. Ia ingin meluruskan anggapan sebagian orang mengenai pekerjaan penjaga toilet SPBU.
“Aku kedapatan bertugas menjadi penjaga toilet di SPBU, bukan yang jagain untuk minta uang karena habis buang air ya, tapi sebagai penjaga kebersihan toilet dan musala di dekat toilet itu,” jelas Deni kepada saya, Jumat (30/10/2026), melalui pesan WhatsApp.
Tugas hariannya cukup sederhana. Ia membersihkan toilet, memastikan persediaan air, sabun, dan tisu tetap tersedia, mengosongkan tempat sampah, serta merawat kebersihan musala dan tempat wudu.
“Kalau secara pekerjaan tidak berat, sekali shift itu cuma berjaga membersihkan toilet, memastikan air, sabun, tisu, dan tempat sampah tersedia. Membersihkan musala dan tempat wudu, dan paling membersihkan depan toilet sama musala itu saja sih,” terangnya.
Meski begitu, pekerjaan tersebut tetap menuntut konsistensi. Pengguna toilet datang silih berganti, sementara kebersihan fasilitas umum harus terus terjaga.
Pekerjaan ringan, tetapi kebosanan sering datang
Ada konsekuensi lain dari pekerjaan yang menurut Deni tidak terlalu berat: waktu senggang yang cukup panjang. Ketika tidak ada toilet yang perlu dibersihkan atau perlengkapan yang harus diisi ulang, ia harus menunggu sampai pekerjaan berikutnya muncul. Situasi seperti ini terkadang membuatnya bosan. Bukan karena tidak menyukai pekerjaannya, melainkan karena rutinitas yang terus berulang setiap hari.
“Nah, karena kerjanya cukup ringan dan banyak waktu senggangnya, maka sering banget bosan gitu. Biasanya kalau sedang bosan saya main HP atau bercengkrama dengan beberapa orang yang sedang singgah dan beristirahat di musala SPBU tersebut,” ungkapnya.
Bermain HP memang menjadi salah satu pilihan penjaga toilet SPBU mengusir rasa bosan. Namun, Deni justru lebih sering memilih mengobrol dengan orang-orang yang singgah. Baginya, percakapan sederhana bisa menjadi hiburan sekaligus cara mengisi waktu selama berjaga.
Musala SPBU menjadi tempat bertukar cerita
Musala di dekat toilet ternyata punya fungsi lain selain menjadi tempat beribadah juga menjadi rest area. Bagi Deni, tempat tersebut juga menjadi ruang pertemuan dengan pengendara yang ingin beristirahat sejenak.
Ia sering menjumpai orang-orang dengan tujuan perjalanan berbeda. Ada yang baru pulang merantau dari luar kota menuju Jogja. Ada pula yang hendak meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan di daerah lain.
“Kalau bermain HP itu jarang sih mas, malah seringnya ngobrol sama orang-orang yang lagi istirahat di musala. Mereka datang membawa cerita masing-masing, ada yang baru pulang merantau dari luar kota dan balik ke Jogja, bahkan ada yang baru mau berangkat merantau ke luar Jogja. Pokoknya ada-ada saja kisah yang saya temui di tempat istirahat itu,” cerita Deni.
Dari pengalaman tersebut, Deni punya pandangan sendiri tentang musala SPBU.
“Bahkan saya merasa bahwa tempat paling jujur di SPBU itu ya ada di musala, selain untuk ibadah, di sana juga tempat untuk pengendara bisa beristirahat,” tambahnya.
Pernyataan Deni memang lahir dari pengamatannya sehari-hari. Ia melihat musala sebagai tempat orang-orang berhenti sejenak dari perjalanan, mengambil napas, dan terkadang berbagi cerita dengan orang yang baru mereka kenal.
Penjaga toilet SPBU lain juga punya siasat mengusir bosan
Kebiasaan Deni ternyata bukan satu-satunya cara penjaga toilet SPBU mengatasi kebosanan. Wawan (35), senior Deni yang juga bekerja di bagian kebersihan, punya kebiasaan serupa. Ia memanfaatkan waktu senggang dengan mengobrol atau mencari kopi di angkringan sekitar SPBU.
“Kalau saya selain ngobrol sama orang-orang, kadang saya mencari angkringan, beli kopi, terus duduk di depan toilet SPBU itu mas. Karena kebetulan kan saya seringnya dapat shift malam, jadi pengguna toilet SPBU tidak sebanyak kalau siang,” ujar Wawan.
Perbedaan waktu kerja turut memengaruhi aktivitas mereka. Wawan lebih sering mendapat shift malam, ketika jumlah pengguna toilet tidak seramai siang hari. Karena itu, ia punya kesempatan lebih banyak untuk menikmati kopi sembari menunggu pengunjung berikutnya.
Penjaga toilet SPBU bukan sekadar urusan kebersihan
Pekerjaan Deni sebenarnya punya kaitan langsung dengan kualitas pelayanan fasilitas publik. Kementerian Pekerjaan Umum melalui publikasi Standar Toilet Umum Indonesia menjelaskan bahwa toilet umum harus menyediakan fasilitas sanitasi yang bersih, aman, dan higienis. Persediaan air, ventilasi, pencahayaan, serta kondisi bangunan turut menentukan kelayakan fasilitas tersebut.
Sementara itu, penelitian Ratna dan Surya Andika Sjalamuddin dalam jurnal Saintek (2019), berjudul Analisis Perbedaan Beban Kerja Tiap Shift pada Operator SPBU COCO dan DODO yang Beroperasi 24 Jam di Daerah Istimewa Yogyakarta, menemukan perbedaan beban kerja antarsift. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa shift siang cenderung lebih ramai dan membuat operator merasa lebih lelah.
Memang, penelitian itu membahas operator SPBU, bukan penjaga toilet SPBU. Namun, kajian tersebut memperlihatkan bahwa pembagian shift dan kepadatan aktivitas menjadi bagian penting dalam kehidupan kerja di lingkungan SPBU.
Kementerian Ketenagakerjaan juga menetapkan Kepmenaker Nomor 125 Tahun 2021 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Bidang Operasi SPBU. Regulasi tersebut mengatur kompetensi operasional, termasuk aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta perlindungan lingkungan.
Bagi Deni, menjadi penjaga toilet SPBU dan memastikan tempat tersebut tetap bersih merupakan tanggung jawab utamanya. Namun, selama pekerjaan itu berjalan, ia juga menemukan hiburan yang tidak selalu tersedia di tempat lain: percakapan dengan orang-orang yang datang membawa cerita perjalanan masing-masing.
Mungkin bagi pengendara, singgah di SPBU hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi Deni, setiap kedatangan orang bisa menjadi awal percakapan baru untuk mengusir kebosanan selama bekerja.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan