Toko buku, seperti namanya, seharusnya menjadi tempat melakukan aktivitas yang berkaitan dengan buku. Misalnya, membaca atau membeli buku yang ada di toko tersebut.
Namun, hari ini, fungsinya bukan lagi untuk baca dan beli buku. Pengunjung boleh jadi menyambanginya hanya untuk berfoto dan mengunggahnya di media sosial.
Dengan baju bagus, pengunjung toko buku pastikan momen tidak hangus
Sebagaimana pengguna media sosial yang, di antaranya, menggunakan platform tersebut untuk eksis. Pengguna media sosial yang mengunjungi toko buku ternyata tidak mau ketinggalan.
Fenomena upload kutipan-kutipan buku yang dimiliki sudah biasa. Namun, mengunggah foto dengan proper di sebuah toko buku sungguh butuh daya upaya yang lebih daripada sekadar mengambil foto satu halaman untuk dibagikan. Alasannya, dalam foto yang dimaksud tidak hanya harus ada kutipan, tetapi juga mengedepankan penampilan.
Pada 4 Februari 2026 lalu, saya mencoba mengamati pengunjung salah satu toko buku di Sleman, Jogja. Dari banyak pengunjung yang hadir, saya dapat menghitung jari jumlah pengunjung yang tidak well-dressed dengan pakaian lucu yang sering dimuat di konten outfit of the day. Sebagian besar pengunjung tampil demikian, serta tidak akan bertahan lama di dalamnya—dan keluar tanpa membawa buku.
Meskipun demikian, yang terpenting adalah momen perginya diabadikan. Sebab dari tempat duduk juga, saya menyaksikan pengunjung mengambil foto dirinya di toko buku atau setidaknya memastikan lokasinya diketahui dari foto tersebut.
Minat literasi meningkat, orang-orang mungkin merasa perlu dilihat
Melihat fenomena ini, dapat dikatakan sebagai keinginan manusia untuk “dilihat”. Dilansir dari Humantold, perasaan dilihat didefinisikan sebagai keadaan sebagian atau sepenuhnya dari identitas, emosi, kebutuhan, atau eksistensi untuk diakui melalui berbagai cara.
Cara-cara tersebut di antaranya adalah representasi, validasi, atau dukungan. Pengakuan ini dapat membantu seseorang merasa terhubung dan lebih dipahami.
Dalam konteks pergi ke toko buku dengan pakaian menarik dan mengambil foto, survei terus menunjukkan peningkatan terhadap minat literasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan skor minat baca nasional pada tahun 2024 mencapai 72,44 persen. Angka ini meningkat dari persentase 66,77 persen pada 2023.
Di media sosial, ketertarikan terhadap buku juga menunjukkan peningkatan. Misalnya, tagar buku di TikTok setidaknya digunakan dalam 1,2 juta konten oleh pengguna. Sementara itu, tagar tokobuku digunakan dalam 492 ribu unggahan di Instagram. Angka ini menunjukkan besarnya pengaruh buku terhadap eksistensi seseorang, bahkan di dunia maya.
Sudah biasa melihat pengunjung outfit elit, beli buku sulit
Salah seorang penjaga toko buku di Jogja, Dimas (34), berbagi cerita bahwa dirinya sudah terbiasa menyaksikan tren baru pengunjung ini. Bahkan, tak jarang, Dimas sudah bisa membedakan pengunjung yang akan datang untuk membeli atau membaca buku, atau hanya mengambil foto.
“Pengamatanku, yang tampaknya gembel justru malah yang anehnya kemungkinan besar beli. Yang emang datang niat cari buku, beda. Kalau tadi yang banyak dress well gitu, kebanyakan mungkin cuma untuk foto-foto,” katanya kepada Mojok, Rabu (11/2/2026).
Lama terbiasa melihatnya, Dimas mengatakan sudah tidak mempersoalkan. Namun, terkadang tidak menampik ada perasaan dongkol. “Ya, kadang agak sebel sih. Tapi, ya sudahlah. Awal-awal dulu mungkin agak sebel ngeliatnya, cuma lama-kelamaan, aku udah bisa lebih menerima,” katanya.
Ihwal habit pengunjung yang tidak membeli ini, survei GoodStats mengungkap tren pembelian buku masih dipimpin oleh marketplace online. Posisi ini meninggalkan toko buku fisik pada tempat kedua. Namun demikian, perbedaan persentase keduanya terbilang tidak terlalu jauh dengan marketplace sebesar 65,3 persen dan toko buku 63,4 persen.
Soal ini, Dimas mengatakan, pengunjung yang datang hanya untuk foto pun tidak dapat dianggap cuma-cuma. Mereka bisa jadi membawa pengunjung baru yang kemudian membeli—menjadi pendorong dalam promosi pembelian buku langsung.
“Utamanya pengin ada orang yang beli buku, cuma kalau mereka hanya datang untuk berfoto-foto pun bagiku nggak apa-apa. Seminimalnya, mereka ada ketertarikan. Mau itu nanti dia memutuskan untuk baca buku lain kali itu nggak masalah, setidaknya itu sudah jadi pintu masuk untuk mereka lebih dekat ke buku. Itu juga sebenarnya membantu dari sisi promosi,” ujar dia.
Promosi tidak langsung, tapi nilai jual toko buku adalah “estetika”-nya
Penjualan toko buku nyatanya mengalami peningkatan dari kunjungan dengan motif mendapatkan foto yang estetik, serta memvalidasi sebagai seseorang yang literate. Menurut Dimas, penjualan di tokonya mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum tren pengunjung yang mampir untuk bergaya ini.
Dari satu unggahan seseorang yang berpengaruh di media sosial ketika mengunjungi tokonya, Dimas menyebut, terus menaikkan penjualan secara organik pada bulan-bulan setelahnya.
“Dia [pemengaruh] posting, dan rame. Akhirnya, mengundang orang-orang yang punya pengaruh di media sosial untuk datang ke sini juga, dan efeknya menggulung akhirnya. Nah, pelan-pelan jadi organik tuh penjualan di toko bukunya mulai naik,” kata Dimas.
Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan toko buku besar, seperti Gramedia yang melakukan rebranding. Tampilan toko buku umumnya dihidupkan kembali dalam wujud yang lebih terbuka, interaktif, dan manusiawi—mengutip dari rilis branding Gramedia Jalma.
Di toko buku yang kini bernama Gramedia Jalma di Blok M, Jakarta Selatan, itu diterapkan konsep third space dengan berbagai spot menarik. Bisa untuk duduk dan membaca, atau mengambil foto-foto untuk diunggah ke media sosial.
Fenomena yang bukan hanya terjadi di Indonesia
Konsep semacam ini dengan menyiasati toko buku tidak hanya sebagai tempat baca dan beli buku juga dilakukan di China. Dilansir dari Times of India, toko buku Zhongshuge di China, telah beralih menjadi tempat foto alih-alih tempat membaca buku. Sebab, penjualan buku yang belum kembali normal setelah pandemi membuat pemerintah mendorong masyarakat untuk membeli, serta toko buku yang berusaha menghadirkan interior toko yang menarik.
View this post on Instagram
“Foto-foto yang dihasilkan terlihat sangat indah,” kata salah seorang pengunjung Zhongshuge yang masuk untuk mengambil foto, Li Mengting.
Namun, pengunjung tersebut mengatakan, dirinya merasakan kesulitan di dalamnya karena kebanyakan orang yang memenuhi tempatnya. Alhasil, tidak ada tempat ideal untuk membaca buku.
Menurut arsitek, Zheng Shiwei, perubahan ini telah umum di toko-toko buku di China. Namun, dari sudut pandangnya, ia memperingatkan konsekuensi perubahan dari fungsi toko buku itu sendiri yang akan memungkinkan terjadi.
“Hal itu [perubahan toko buku menjadi tempat foto] dapat menyebabkan banyak orang pergi bukan hanya untuk tujuan membaca, yang mungkin mengakibatkan beberapa konsekuensi yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA Kisah Toko Buku Akik di Jogja yang Membuat Dian Sastro Rela Menunggu dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













