Ganti Motor Honda PCX 150 Berujung Menyesal karena Bawa Petaka dan Bikin Boncos, Seketika Rindu dengan Yamaha Mio Sporty

Honda PCX 150 lebih buruk dibanding Yamaha Mio Sporty. MOJOK.CO

ilustrasi - Honda PCX 150 nggak cocok untuk gaya-gayaan orang miskin. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Salah satu alasan Udin berganti haluan ke Honda PCX 150, karena ia sempat dihina oleh guru SMA-nya saat mengendarai Yamaha Mio Sporty. Kini ada sedikit penyesalan dalam diri, sebab ternyata Honda PCX 150 itu tak cocok untuk tubuhnya yang pendek. 

Yamaha Mio Sporty bikin malu

Bagi anak SMA yang rumahnya jauh dari sekolah, motor adalah kebutuhan. Sebelum adanya sistem zonasi dan jasa ojek online seperti sekarang, Udin beruntung ditawari motor pribadi oleh orang tuanya.

“Sebetulnya bisa diantar ya, tapi ayah ibuku sibuk bekerja sedangkan aku nggak terbiasa naik angkot atau bus,” kata Udin kepada Mojok, Minggu (1/3/2026).

Meski begitu, Udin tak bisa memilih jenis motor yang ia sukai. Waktu itu ibunya sudah mewanti Udin bahwa pilihan motornya terbatas. Padahal, kalau boleh memilih, Udin lebih suka motor lakik tapi matic.

Tapi apa mau dikata, ia hanya bisa menerima pilihan orang tuanya untuk membeli motor Yamaha Mio Sporty bekas. Ketidak percayaan diri Udin semakin kuat saat guru SMA-nya mengejek motor Udin.

“Guruku itu memang suka mem-bully tapi malah aku yang dicap nakal sama dia,” kata Udin, “waktu itu dia bilang motorku jelek, tapi akunya banyak gaya,” lanjutnya.

Tak terima dengan ejekan gurunya, Udin langsung merengek minta motor baru ke orang tuanya. Beberapa hari ia ngambek tak mau berangkat sekolah kalau tidak dibelikan motor. Sampai akhirnya ibu Udin menyerah dan membawanya ke toko. Di sanalah Udin melihat motor PCX 150.

Honda PCX 150 jadi idaman semasa SMA

Biasanya, Udin hanya melihat PCX 150 di jalan tapi saat melihat detailnya dari dekat, Udin langsung terkesima dengan kegagahan motor tersebut dibandingkan motor Yamaha Mio Sporty-nya sekarang.

Salah satu alasan Udin tertarik dengan Honda PCX 150 karena dia menerapkan keyless system, teknologi pengaman modern yang mana kuncinya berbentuk remote (fob) atau smartphone.

“Di lingkungan kota metropolitan, Surabaya yang banyak curanmor, kayaknya kok fitur ini penting ya,” kata Udin.

Namun, Udin sebetulnya tak benar-benar menyimak penjelasan petugas. Toh, kata dia, informasi itu bisa dia dapatkan dari internet. Sehingga saat itu, ia hanya membayangkan betapa kerennya pakai PCX 150 nanti di sekolah.

“Aku akhirnya pilih PCX 150 warna merah dan orang tuaku langsung mengiyakan,” ucap Udin.

PCX 150, mengingatkan kenangan indah bersama motor lama

Sayangnya, bayangan Udin ke sekolah pakai PCX 150 langsung sirna. Alih-alih tampak keren di mata murid dan gurunya, Udin justru terjatuh di parkiran. Saat ia hendak memundurkan motor, tubuhnya yang kecil tak kuat menopang tubuh motor yang tergolong besar dibanding skuter matic lainnya.

Badannya pun sampai lecet-lecet karena kejadian itu. Namun, yang lebih parah adalah peristiwa itu dilihat oleh teman-temannya. Dengan menahan rasa malu, Udin langsung berdiri dan mengendarai motornya kembali sepulang sekolah.

Parahnya, peristiwa ini tak hanya Udin alami di sekolah. Ia sering mengaku kesusahan saat harus melewati gang-gang sempit. Apalagi, jika di jalan terdapat truk-truk besar yang menyebabkan macet. 

Tanpa buru-buru untuk menyalip, Udin memilih jaga jarak daripada celaka karena sulit membelok-belokkan setir. Seketika, kejadian itu membuatnya rindu dengan Yamaha Mio Sporty-nya.

“Ternyata walaupun bentukan Yamaha Mio Sporty kecil, aku lebih nyaman pakai dia daripada PCX 150,” ucap Udin.

Ubah warna Honda PCX 150, malah bawa sial

Masalah makin runyam saat Udin mengganti warna motornya dari merah maroon ke warna hitam. Lama-lama, kata Udin, ia bosan juga dengan warna merah maroon. Lalu mengganti spionnya yang lebih kecil.

“Kalau dihitung-hitung ya lumayan. Bisa hampir Rp1 juta. Belum lagi perawatannya kan, kayak konsisten beli Pertamax, biaya service, dan lain-lainnya,” ucap Udin.

Ia juga berharap perubahan tersebut dapat meningkatkan suasana hatinya sekaligus menepis kesialan. Namun, pendapat Udin tak sama dengan ibunya. Setelah PCX 150 miliknya dicat warna hitam, ibu Udin langsung kebingungan.

“Ibuku bilang bakal sulit kalau mau perpanjangan motor karena harus ganti status warnanya dulu di STNK dan harus keluar duit lagi,” ucapnya.

Benar saja, sebelum mengubah status warna di STNK, Udin sempat terkena denda sebesar Rp500 ribu. Ia sempat bersungut-sungut pada polisi, walaupun secara aturan hal itu memang melanggar.

Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 288, mengubah warna cat atau menutupi warna asli dengan stiker secara menyeluruh pada motor, dapat didenda maksimal Rp500 ribu atau pidana kurungan paling lama dua bulan. 

“Masalahnya aku ditodong harus bayar Rp1 juta, kalau mau ganti warna lagi dari hitam ke merah (warna asli) aku boncos lagi lah. Rp750 ribu biayanya. Mumet!” ucapnya.

Alhasil, Udin tetap mempertahankan warna hitam pada motornya sambil masih mencari alternatif lain agar dendanya tidak terlalu mahal. Yang penting, kata dia, kali ini SIM-nya masih aman dapat diperpanjang.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Beli Honda PCX buat Pamer Sukses ke Tetangga yang Tak Punya Motor Mahal, Awalnya Dielu-elukan Berujung Memprihatinkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version