Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Ilustrasi - Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Rasa-rasanya ada kesalahpahaman terhadap paket intimate wedding yang disediakan wedding organizer (WO). Banyak orang sudah terlanjur memahami bahwa intimate wedding itu sama artinya dengan frugal wedding—menekan anggaran. Padahal keduanya adalah dua hal berbeda. 

***

Banyak kalangan Gen Z yang ingin melangsungkan pernikahan dengan model intimate wedding. Ceruk ini pun dimanfaatkan oleh sejumlah WO untuk memasukkan paket intimate dalam pilihannya. 

Ada dua alasan utama kenapa Gen Z menginginkan intimate wedding. Satu, untuk membangun nuansa pernikahan yang khidmat dan intim di lingkup keluarga dan orang terdekat saja. Dua, bayangannya pernikahan dengan konsep tersebut bisa menekan biaya. 

Alasan nomor satu masih relavan. Namun, menurut Adiawati (38), salah seorang pemilik wedding organizer (WO) di Malang, Jawa Timur, rasa-rasanya ada kesalahpahaman untuk alasan kedua. 

Kesan itu ia tangkap, salah satunya, ketika mengikuti sebuah obrolan tentang intimate wedding di media sosial Threads. Banyak orang yang merasa kaget ketika melihat nominal hampir menyentuh Rp100 juta untuk intimate wedding. 

“Namanya doang intimate wedding, tapi biayanya nggak intimate.

“Lah, kalau budget segitu sama aja dong dengan biaya nikah gede-gedean.” 

Begitu kira-kira balasan kepada pengakuan seorang pengguna Threads yang membocorkan tentang biaya menggelar pernikahan dengan paket intimate wedding. Sementara bagi si pengguna: intimate wedding kan memang sebuah konsep, bukan serta-merta perkara biaya. 

Intimate wedding bisa saja tidak mengubah kemewahan 

Konsep intimate wedding mulai populer disinyalir sejak pandemi Covid-19. Saat itu, pernikahan digelar “seadanya”: cukup akad di KUA dan menjamu tamu dari keluarga dekat saja. Alhasil, secara otomatis biayanya yang dikeluarkan lebih murah. 

Dari situ, istilah intimate wedding kemudian diasosiasikan sebagai alternatif menikah dengan budget minimalis. Sementara budget minimalis tersebut sebenarnya lebih cocok disebut frugal wedding—hanya saja istilah “frugal” memang baru muncul belakangan. 

“Nah, aku itu beberapa kali nerima klien orang kaya. Pengin nikah intimate. Ya intimate versi mereka, ya tidak mengurangi kemewahan dan biaya,” jelas Adiawati, Rabu (3/6/2026). 

Intimate itu kesan yang dibangun, intimate wedding dan budget murah itu dua hal berbeda

Bagi Adiawati, intimate adalah sebuah konsep di mana sebuah pernikahan dibangun dengan suasana khidmat, hangat, dan intim. Dan untuk mencapai suasana tersebut, kadangkala memang tidak mengurangi kemewahan. 

Misalnya, dalam intimate wedding tamunya 50-100 orang. Namun, alokasi budget kemudian digunakan untuk sewa venue, dekorasi, fotografer, hingga hiburan (seperti home band) yang proper untuk mendukung terciptanya suasana intimate. 

Venue bisa saja di tempat indah nan Instagramable. Dekorasi bisa saja minimalis, tapi dirancang dengan detail-detail tertentu. Fotografer pun ambil profesional dengan jam terbang cukup tinggi, sehingga dokumentasi yang dihasilkan pun merupakan dokumentasi terbaik. Dan itu semua butuh biaya yang tidak murah. 

“Jadi intimate itu kesan yang dibangun dalam acara. Di mana mempelai dan tamu undangan merasakan suasana khidmat,” terang Adiawati. “Belum lagi, misalnya biar acara semakin intim, tamu dimanjakan dengan menu fine dining mewah atau baju pengantin yang nggak mau biasa-biasa saja.” lanjutnya. 

Tamu undangan bukan sekadar figuran

Ketika ada orang yang kaget bahkan menuding intimate wedding biayanya tidak intimate, bagi Adiawati, sepertinya memang ada salah paham yang harus diluruskan. 

Intimate wedding dengan budget murah adalah dua hal berbeda. Bahkan perkara jumlah tamu pun bisa berbeda. 

Misalnya, Adiawati pernah mendapati adanya klien yang pengin membangun nuansa intim. Namun, tamu undangannya tidak jauh berkurang dari pernikahan konvensional pada umumnya.

“Tetap undang 500-600 tamu. Sementara standard intimate, ya paling banyak 300 tamu lah. Tapi memang, konsepnya adalah bagaimana memberi kesan khidmat pada banyak tamu itu,” kata Adiawati. “Ya lihat aja acaranya El Rumi dan Syifa Hadju. Konsepnya intimate, tapi kan mewah sekali itu.” 

“Kalau ditanya, model intimate-nya gimana? Macam-macam. Salah satunya, bagaimana dalam acara tersebut, tamu-tamu undangan yang terdiri dari orang-orang terdekat dibuat bagaimana merasa terlibat di dalam acara. Jadi bukan sekadar figuran,” sambungnya. 

Pasalnya, dalam pernikahan konvensional dengan jumlah tamu besar, seringkali para tamu yang datang diposisikan hanya sebagai figuran. Mereka datang, duduk menyimak acara, makan, berfoto, lalu pulang. Mereka tidak dilibatkan secara interaktif. Sementara dalam konsep intimate wedding, para tamu undangan bisa dilibatkan secara interaktif dan emosional. 

Yang ingin Adiawati sampaikan, sebenarnya tidak sepenuhnya salah ketika orang menganggap intimate wedding sebagai alternatif pernikahan dengan budget minimalis. 

Namun, jangan kaget pula ketika ada sebuah wedding organizer menyodorkan paket intimate wedding dengan harga mahal. Karena sekali lagi, intimate adalah konsep, dan itu lain hal dengan biaya murah. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version