Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO

Ilustrasi - Ngekos di Jogjangekos setelah menikah, tinggal bareng mertua, kesehatan mental pasangan baru, biaya ngekos di Jogja, ngekos, pasangan baru, kesehatan mental, pilihan redaksi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Mamad memilih ngekos setelah menikah daripada harus tetap tinggal bersama mertuanya di desa. Memang, di perantauan finansialnya begitu empot-empotan. Namun, bagi dia, tantangan hidup di Jogja jauh lebih ringan daripada harus mengorbankan kesehatan mentalnya.

***

Di banyak desa di Indonesia, khususnya di Jawa, ada sebuah hukum tidak tertulis yang diamini banyak orang tua. Ya, anak yang baru menikah sebisa mungkin tetap tinggal di rumah orang tua atau mertua. 

Alasannya beragam, mulai dari dalih “biar ada yang menemani”, hingga urusan bakti anak kepada orang tua. Namun, bagi Muhammad (27), atau yang akrab disapa Mamad, tradisi ini ternyata memiliki harga yang harus dibayar mahal: kesehatan mental.

Mamad adalah seorang pemuda yang bekerja di sektor swasta di Jogja. Sudah satu setengah tahun ia mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, perjalanannya tidak langsung mulus. Enam bulan pertama pernikahannya dihabiskan dengan tinggal di rumah mertuanya di Kebumen, Jawa Tengah, sebelum akhirnya ia sadar bahwa ngekos setelah menikah adalah jalan keluar yang ia butuhkan.

Sebelum itu, Mamad memilih menjadi “pejuang laju”. Setiap hari Senin subuh, ia berangkat dari Kebumen menuju Jogja untuk bekerja, lalu kembali pulang pada akhir pekan. Istrinya, yang merupakan ibu rumah tangga, tetap tinggal di rumah atas permintaan sang mertua.

Baginya, keputusan untuk ngekos setelah menikah bukan berarti lari dari tanggung jawab, melainkan cara untuk membangun pondasi keluarga yang lebih mandiri.

Tinggal bareng ortu/mertua bikin mental ambyar

Di media sosial seperti TikTok atau Twitter, curhatan tentang nggak enaknya tinggal bersama mertua sering kali viral. Banyak orang menganggap itu berlebihan. Namun, bagi mereka yang belum bisa ngekos setelah menikah seperti Mamad, tekanan batin itu sangat nyata 

Memang, sih, tidak ada kekerasan fisik, atau tindakan ekstrem lain. Tetapi, yang ia rasakan adalah tekanan batin.

“Tinggal di rumah orang lain, meskipun itu mertua sendiri, rasanya seperti bertamu yang nggak ada selesainya,” kenang Mamad, Minggu (16/2026). “Tahu kan rasanya bertamu gimana? Kadang resah, kadang pengen cepet pulang.”

Sebagai lelaki yang sudah mengepalai keluarga sendiri, Mamad merasa privasinya terkikis. Segala hal kecil dalam rumah tangga mereka tak luput dari pengawasan dan komentar mertua. Mulai dari urusan bangun pagi, menu makanan, hingga cara mereka berinteraksi sebagai suami-istri. 

Ada rasa sungkan yang terus-menerus menggelayuti. Ia cuma bisa memendam rasa tidak nyaman karena merasa harus selalu tampil “sempurna” sebagai menantu.

Kondisi ini diperparah dengan fakta ilmiah. Secara psikologis, tinggal bersama mertua dapat memicu stres interpersonal yang kronis. Bagi seorang istri, rasa tidak berdaulat di dapur atau rumah sendiri bisa meningkatkan hormon stres.

Mamad pun menyadari bahwa tantangan ekonomi saat ngekos setelah menikah bakal jauh lebih ringan daripada mengorbankan kesehatan mental dia dan istrinya.

Memilih boyong istri ke kos sederhana di Jogja

Setelah enam bulan penuh tekanan, Mamad mengambil keputusan besar. Ia memilih memboyong istrinya ke Jogja. Keputusan ini bukan tanpa tentangan, karena mertua awalnya masih ingin anaknya tetap di rumah. 

Namun, Mamad teguh. Ia lebih memilih dompetnya yang menangis daripada batin istrinya yang tersiksa.

“Awalnya ya sedikit conflicted. Tapi sebagai suami harus tegas ambil keputusan,” ungkapnya. “Bagiku sih lebih baik membayar biaya sewa daripada kesehatan mental berantakan jika terus menunda buat ngekos setelah menikah.”

Mamad menyewa sebuah kamar kos campur di tengah Kota Jogja dengan harga Rp850 ribu per bulan. Kamar itu sangat sederhana. Jauh dari kata mewah, bahkan mungkin terlihat sempit bagi sebagian orang. Namun, bagi Mamad dan istrinya, kamar itu mereka rasakan sebagai kebebasan.

Secara matematis, pilihan ini sangat berisiko. Gaji Mamad hanya Rp3,2 juta per bulan. Jika dipotong biaya kos sebesar Rp850 ribu, maka sisa uang mereka tinggal Rp2,35 juta untuk kebutuhan makan, listrik, transportasi, dan tabungan. Jumlah ini tentu sangat pas-pasan untuk hidup berdua di kota seperti Jogja.

Apalagi, harga rumah di Jogja saat ini terus meroket. Kenaikan harga properti di Jogja bisa mencapai 10 hingga 15 persen per tahun, jauh melampaui kenaikan upah minimum (UMK) yang rata-rata hanya merangkak di angka 5 sampai 7 persen.

Bagi buruh seperti Mamad, menabung untuk membeli rumah sendiri terasa seperti mengejar mimpi yang terus menjauh.

“Banyak orang bilang, lebih baik tinggal bareng mertua biar bisa nabung buat beli rumah. Tapi buat apa punya tabungan banyak kalau tiap hari istri saya stres dan kami sering berantem karena tekanan orang tua? Rumah bisa dicari nanti, tapi kesehatan mental istri saya tidak ada cadangannya,” ujar Mamad mantap.

Ngekos setelah menikah dan cara self-reward sederhana di tengah keterbatasan

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang semakin mencekik, Mamad tidak tinggal diam. Selepas pulang kerja kantoran, ia tidak lantas beristirahat. Ia memakai jaket hijaunya dan mulai menarik ojek online (ojol). Ia mengakui bahwa manajemen keuangan saat ngekos setelah menikah memang menantang, sehingga narik ojol menjadi napas tambahan bagi keuangan mereka.

Hasil dari aspal Jogja itu ia gunakan untuk hal-hal yang ia sebut sebagai “self-reward”. Kadang, uang hasil ojol ia pakai untuk mengajak istrinya makan enak di warung favorit atau sesekali menonton film di bioskop.

“Itu cara kami merayakan kebebasan. Meskipun cuma makan sate atau nonton film, rasanya beda kalau uangnya hasil usaha sendiri dan makannya tanpa rasa sungkan ditanya-tanya mertua,” katanya sambil tersenyum.

Kini, kebahagiaan mereka terasa makin lengkap. Istri Mamad sedang hamil. Di kamar kos yang sederhana itu, Mamad merasa bisa menjadi suami yang lebih perhatian. Ia bisa mengelus perut istrinya, mengobrol tentang masa depan calon anak mereka, atau sekadar membantu pekerjaan rumah tangga tanpa harus merasa diawasi atau dinilai oleh orang lain.

Kemesraan mereka justru tumbuh subur di tengah keterbatasan ekonomi. Tanpa campur tangan mertua, Mamad dan istrinya belajar menjadi dewasa bersama.

“Finasial memang agak empot-emptan, tapi semua bakal ada jalan. Yang penting sekarang, mental health aman,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version