Pindah ke Lingkungan Muhammadiyah Lebih Tentram: Jauh dari Bunyi Toa Masjid yang Berisik hingga Terbebas dari Iuran dan Cap Islam Abal-abal

Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

ilustrasi - tinggal di lingkungan Muhammadiyah jauh lebih tenang tanpa takut dihakimi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Keluarga Diah (31) bisa dibilang tidak terlalu religius meski menganut ajaran Islam. Perempuan asal Wonosobo itu hanya terbiasa tinggal di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), tapi sudah mengikuti ajaran Muhammadiyah sejak duduk di bangku sekolah.

Setelah menikah dan pindah ke Jogja bersama suaminya, Diah jadi tahu betapa nikmatnya tinggal di lingkungan Muhammadiyah. Ia mengaku hidupnya jauh lebih tentram dan damai.

“Memilih masjid di lingkungan organisasi masyarakat (ormas) Islam tertentu itu menjadi penting karena bagi saya pribadi, beberapa kegiatannya cukup memengaruhi hidup saya dan keluarga,” kata Diah.

Toa masjid yang berisik, padahal sedang hamil

Pada tahun 2022, Diah memutuskan pindah bersama suaminya ke salah satu permukiman di Jogja yang mayoritas penduduknya adalah warga Muhammadiyah. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Diah mengaku dapat menjalani aktivitas dengan tenang.

Bergaul dengan tetangganya juga terasa berbeda. Diah berujar orang-orang Muhammadiyah memiliki pemikiran yang terbuka, sehingga ia tak terlalu gelisah saat melakukan aktivitas apapun di rumahnya. 

“Misalnya saat saya sedang hamil atau menjelang puasa Ramadan, saya tidak perlu rutin salawatan, tadarusan, atau terusik dengan suara toa masjid saat subuh apalagi saat musim puasa,” kata Diah.

Sebelum pindah ke Jogja dan berada di lingkungan NU, Diah sempat merasakan ketidaknyamanan tersebut. Apalagi, rumahnya berada dekat dengan masjid bernuansa corak NU. Ia pun tak bisa beristirahat dengan tenang dan selalu terbangun saat mendengar ‘bunyi-bunyian’ dari toa masjid.

“Suaranya itu sampai teriak-teriak, meski sudah pakai mic. Padahal aku lagi hamil,” kata Diah.

Tak menyesal usai pindah ke lingkungan Muhammadiyah

Pengalaman tidak mengenakkan itu rupanya juga dialami oleh saudara-saudara Diah. Saat mencoba menegur pihak masjid, Diah dan saudara-saudaranya justru disalahkan balik. Alhasil, mereka tidak bisa melaporkan ketidaknyamanan tersebut secara langsung karena kalah suara.

“Mereka malah nyalahin aku pas ditegur, ‘kenapa kamu malah tinggal di sini? Kenapa nggak kamu saja yang pindah?’ Dan itu bikin aku deg-degan waktu lagi hamil,” tutur Diah.

Karena keduanya tak bisa mencapai kesepakatan, Diah dan keluarganya akhirnya mengalah dan memutuskan pindah ke Jogja. Mereka pun tak menyesali keputusan tersebut karena akhirnya bisa menjalani kehidupan yang guyub.

“Di lingkungan Muhammadiyah hidupku lebih adem-ayem. Nggak ada lagi suara petasan usai tarawih, nggak ada lagi salawatan dengan nada teriak-teriak, dan alhamdulillah sehat juga untuk bayiku yang baru lahir,” jelas Diah.

Bahkan belum lama ini, saudara-saudara Diah juga akhirnya mengikuti jejaknya karena melihat anak Diah yang jarang rewel. Sementara menurut mereka, anaknya sering rewel karena terganggu dengan suara yang berisik.

“Beberapa dari mereka ada yang ‘ngungsi’ juga ke rumah saudara terutama jelang lebaran,” kata Diah.

Beban iuran dan tekanan sosial di lingkungan lama

Selain resah dengan kebiasaan toa masjid di lingkungan NU tempat tinggalnya dulu, Diah juga merasa risih saat harus diminta iuran. Hampir tiap bulan, kata Diah, ada saja iuran yang harus dibayar terutama pada hari-hari tertentu seperti pengajian akbar.

Pernah satu kali Diah menolak iuran karena ekonominya sedang sulit, tapi Diah justru kena nyinyiran dari tetangganya. Jika ia lakukan terus-menerus, Diah takut akan dikucilkan di lingkungannya.

Belum lagi, jika Diah tidak ikut pengajian yang berlangsung sampai larut malam. Seolah-seolah dirinya menyimpang dari ajaran Islam. “Aku jadi kayak merasa bukan bagian dari Islam karena dicap nggak mau berkontribusi,” kata Diah.

Untungnya, Diah sudah tidak mengalami kejadian itu semua sejak pindah ke lingkungan Muhammadiyah di Jogja. Tidak ada iuran dan pengajian yang terkesan memaksa, tidak ada lagi suara bising dari toa masjid yang bikin risih, dan tidak ada lagi pengucilan dari lingkungan sekitar.

“Aku bisa iuran seikhlasnya tanpa ada yang menyindir atau menghakimi. Yang paling penting, aku tidak dicap berdosa karena kurang berkontribusi atau tidak ikut pengajian,” jelas Diah.

Toleransi yang bertumpu pada teologi amal ala Muhammadiyah

Pengalaman tinggal di lingkungan Muhammadiyah bikin Diah sadar bahwa sejatinya ajaran Islam memang tidak memaksa dan tidak menyulitkan umatnya. Bahkan dari segi iuran, warga juga dilibatkan dalam mengambil keputusan. 

“Semua itu dimusyawarahkan dan sangat transparan.” Tegas Diah.

Muhammadiyah, kata Diah, juga lebih terbuka dengan toleransi. Sesuai dengan Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 108 yang melarang umat Islam menghina ajaran agama lain, agar tidak menimbulkan kebencian.

Melansir dari laman resmi Muhammadiyah, perilaku menghargai keragaman telah menjadi aktivitas eksistensial yang telah diajarkan oleh pendirinya. Ketika sebagian kelompok Islam banyak berteori dan berdebat tentang hakikat dan batas-batas toleransi antar umat beragama, Muhammadiyah telah jauh melangkah dari debat itu sejak era KH. Ahmad Dahlan.

Bagi Muhammadiyah, wujud toleransi itu bisa langsung dilaksanakan dengan membangun pelayanan sosial atau bertumpu pada teologi amal, dibanding melakukan perdebatan yang narsistik atau berbelit-belit.

“Secara organisasi, Muhammadiyah terbukti tidak pernah melakukan diskriminasi terhadap ormas lain, bahkan yang ada selalu menjalin kerja sama untuk kebaikan Indonesia.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: PSHT Tetap di Hati meski Belajar di Lingkungan Muhammadiyah yang Punya Tapak Suci atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version