Meski tidak benar-benar selera, di masa-masa sekarang membeli makanan atau jajanan dari pedagang yang lapaknya sepi, apalagi jika pedagangnya lansia, ternyata tidak merugikan diri sendiri. Kita hanya merogoh recehan, sementara para pedagang itu sedang menghapus air matanya diam-diam.
***
Sudah sejak SMA di Kabupaten Semarang hingga kuliah bekerja di Jogja, Ihza (25), perempuan pekerja kreatif itu punya kecenderungan membeli makanan atau jajanan dari pedagang yang lapaknya sepi atau bahkan lansia.
Kebiasaan itu ia tiru dari sang ibu. Sebab, di daerah asalnya di Kabupaten Semarang, ibunya kerap tanpa pikir panjang untuk melarisi—terutama pedagang lansia.
“Mbah-mbah ini sepi, nggak ada yang beli. Kalau kita berpikiran sama kayak kebanyakan orang alias nggak melarisi, nanti beliau pulang nggak bawa apa-apa buat kebutuhan hidup,” begitu tutur sang ibu suatu kali, yang masih diingat jelas oleh Ihza.
“Akhirnya aku jadi selalu sentimentil tiap lihat lansia tapi masih kerja, masih jualan. Aku pasti teringat simbahku di rumah, sudah lansia dan memang tinggal menikmati waktu di rumah. Tapi di jalan, banyak mbah-mbah usia 70-an tahun lebih, dengan tubuh bungkuk, jalan tertatih-tatih, masih harus jualan,” ungkap Ihza, Senin (18/5/2026).
Perihal indikator enak dari ramai atau sepinya orang jualan
Semasa kuliah, kebiasaan Ihza jajan dari pedagang sepi atau lansia dianggap “agak lain” oleh sejumlah temannya. Alih-alih mengikuti selera teman-temannya, Ihza justru lebih semangat jajan kalau lihat pedagang pentol, gorengan, bakso, atau es potong jadul dari pedagang lansia yang jelas-jelas tampak sepi pembeli.
Beberapa teman mahasiswi Ihza memang cenderung pemilih. Mereka jelas lebih memilih lapak-lapak yang direkomendasikan karena terkenal nikmat.
Kalau tidak, ya membeli dari lapak-lapak yang tampak ramai. Karena sudah menjadi indikator umum: Lapak ramai, berarti memang enak. Sementara kalau sepi, anggapan mereka sudah pasti karena memang tidak enak.
“Ya memang, kadang ada (pedagang sepi atau lansia) yang, mohon maaf, produk jualannya nggak seberapa enak. Tapi banyak juga yang enak kok. Murah juga,” tutur Ihza.
Tapi sebenarnya, melarisi mereka bukan perkara enak atau tidak enak. Itu lah kenapa belakangan ini Ihza merasa sangat terharu. Pasalnya, ia mendapati banyak konten di media sosial berisi semacam campaign: Di tengah situasi ekonomi seperti sekarang, melarisi pedagang yang lapaknya sepi atau lansia ternyata begitu bermakna. Bukan semata bagi kita, tapi bagi mereka.
Pedagang lansia jualan bukan untuk kaya, recehan sangat berharga
Ada seorang kepala negara yang baru-baru ini pidato: Rakyat Indonesia tidak punya mimpi menjadi orang kaya.
Bagi Ihza, memang ada benarnya. Sejauh pengalamannya bersinggungan dengan para pedagang lansia yang lapaknya sepi, mereka tetap jualan hingga usia 70-an tahun lebih bukan karena mengejar kaya. Tetapi sekadar untuk bertahan hidup sehari-hari.
“Kepala negara udah memastikan nggak akan bikin mereka kaya. Mereka cuma butuh makan, cuma mode bertahan. Barangkali mereka juga punya tanggung jawab di rumah, entah pasangan (suami/istri) atau cucu. Kalau kepala negara udah nggak bisa diharapkan, yang bisa dilakukan cuma saling tolong sesama sipil,” beber Ihza dengan suara bergetar.
Sejauh pengalaman Ihza, para pedagang lansia yang lapaknya sepi seringkali memberi harga murah untuk dagangannya. Jelas lebih murah dari lapak-lapak langganan teman-temannya yang ramai pembeli. Dengan kata lain, para pedagang lansia itu sebenarnya hanya butuh “recehan”. “Kita bisa membeli di lapak lain dengan harga lebih mahal tanpa mikir. Maka, uang recehan buat beli di lapak lansia yang sepi pembeli, nggak bikin aku rugi kok,” ucap Ihza.
Justru, lanjut Ihza, uang yang kita keluarkan memang hanya recehan. Namun, bagi para pedagang itu, uang recehan itu ibarat harta karun.
Itu lah kenapa, amat sering Ihza menemui situasi: Ketika ia membeli pedagang lansia yang sepi pembeli, sontak saja si pedagang langsung melayani dengan penuh antusias, senyum mengembang di wajahnya dari yang semula murung.
“Tahu nggak, aku pernah ya, lihat pedagang lansia yang waktu lapaknya sepi, diam-diam beliaunya nangis. Air matanya netes, tapi nggak ada suaranya. Pas aku datang buat beli, air mata itu langsung dihapus, berubah jadi senyum sumringah,” ujar Ihza.
Dagangan pedagang lansia yang lapaknya sepi mungkin tidak sesuai selera, tapi tidak ada ruginya
“Ya memang murah, tapi nggak enak, nggak sesuai selera.” Kalimat semacam itu pernah Ihza dengar dari salah satu temannya.
Perkara rasa yang tidak sesuai, memang ada yang begitu adanya. Hanya saja, sebenarnya tidak bikin rugi-rugi amat, setidaknya bagi Ihza sendiri.
Pasalnya, ketika Ihza tidak selera pada apa yang ia beli, pilihannya adalah membagikan pembelian tersebut kepada orang lain.
“Misalnya, bisa kuberi ke pacarku. Atau ada juga kok teman kosku yang suka makan tanpa rewel. Enak nggak enak, tetap dilahap. Dan itu nggak ada ruginya buatku, Karena belinya juga murah,” kata Ihza.
Uang receh yang sangat berharga buat uang biaya sekolah anak
Saya mengamini apa kata Ihza: Betapa uang recehan amat sangat berharga bagi pedagang-pedagang seperti itu.
Pada Januari 2026 lalu, saat dalam perjalanan dari Rembang ke Jogja, saya berhenti di sebuah Indomaret di daerah Semarang atas.
Tidak lama dari saya duduk, ada seorang ibu-ibu penjual jamu menghampiri. Menawarkan botol jamu beras kencur ke sebuah mobil yang terparkir dan orang-orang yang duduk di kursi depan Indomaret. Tidak ada yang tertarik.
Lalu ia mendatangi saya yang duduk ngemper. Ibu-ibu itu bilang: Harga satu botolnya seharusnya Rp10 ribu. Tapi asal laku, ia tidak masalah jika dibeli Rp7 ribu. Saya lalu mengeluarkan uang Rp20 ribu: Membeli dua botol untuk harga aslinya (Rp10 ribu perbotol).
“Mas, ya Allah matur nuwun. Buat anak besok bayar sekolah, Mas,” ujar si ibu.
Reaksi itu membuat saya mbrebes mili. Padahal saya membeli dengan harga asli, bukan harga yang sudah turun. Karena memang, uang berapa pun yang ia dapat, memang seberharga itu di tengah penolakan-penolakan yang ia terima saat menawarkan jamunya ke banyak orang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
