Ketika orang tua mengikuti makan malam bersama bareng anak-anak yang telah dewasa, alih-alih merasakan kehangatan, justru diserang kesepian hebat. Layar ponsel telah menjadi jurang pemisah, membuat kerenggangan di meja makan begitu terasa. Yang tampak hanyalah kepura-puraan yang disebut sebagai waktu kumpul keluarga.
***
Farley Ledgerwood sebenarnya menikmati suasana restoran. Suara denting di piring seperti semacam suara ASMR baginya. Juga cahaya hangat dari lampu-lampu restoran yang menyirami wajah-wajah pengunjung: menyaksikan wajah-wajah cerah (seperti tanpa masalah) memberi sensasi hangat tersendiri di batin Farley.
Lebih dari itu, Farley memandang makan malam bersama di restoran sebagai momen menjalin keterhubungan dan kehangatan melalui percakapan. Itulah kenapa ia selalu membuat waktu kumpul keluarga.
Awalnya seperti itu. Namun, kini, di usia 65 tahun, Farley memutuskan dan menegaskan tidak akan mau lagi diajak makan malam bersama lagi oleh tiga anaknya. Sebab, momen makan bersama anak-anak yang telah dewasa saat ini ternyata berubah menjadi momen menyebalkan dan sia-sia, seperti yang ia curahkan dalam jurnal hariannya yang dikutip dari GLOBAl English Editing, Rabu (25/2/2026).
Merasa kesepian saat makan malam bersama: bapak bercerita tapi anak tak menyimak karena fokus ponsel
Puncak kekesalan Farley terjadi usai makan malam bersama di sebuah restoran Italia.
Pria asal California itu bercerita, bayangkan, ketika menu-menu yang bikin ngiler itu terhidang di meja, dan anggota keluarga bisa berkumpul bersama, tapi yang terasa justru hambar dan asing.
Di sela menyantap pesanan masing-masing, Farley bercerita perihal apa yang ia kerjakan di rumah belakangan: memperbaiki kebocoran di garasi rumah. Tidak ada yang langsung menyahut, sekali menyahut “Maaf, apa yang kamu katakan?”
Di titik itu Farley sadar kalau sepanjang makan malam bersama itu, sedari awal matanya hanya menatap tiga kepala yang menunduk: mata dan wajah fokus menatap ponsel, sementara jari-jari mereka sibuk mengetik dan menggulirkan layar ke atas dan ke bawah secara berulang.
Tiga anak Farley: Sarah tengah sibuk memasukkan barang-barang ke keranjang akun e-commerce-nya. Michael tenggelam dalam email kerjanya, dahinya berkerut karena konsentrasi. Sementara Emma terbuai dengan apa yang melintas di Instagram, sesekali tersenyum pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kami di meja.
Makan malam bersama anak-anak: upaya bapak menebus masa lalu tapi tidak berguna
“Saat itu saya merasa terpukul. Kita bisa berada di mana saja, di kamar yang terpisah, bahkan di kota yang terpisah. Kedekatan fisik sungguh tidak berarti jika yan terjadi hanyalah jarak yang diciptakan oleh sinar cahaya ponsel,” tutur Farley.
Makin terpukul lagi ketika seorang pelayan datang untuk mengisi gelas air di meja Farely. Pelayan itu menatap Farley dengan penuh pengertian sembari berujar, “Saya melihat ini sepanjang waktu.”
Gejala makan malam bersama yang justru menciptakan kesepian itu sebenarnya sudah sejak lama Farley sadari. Hanya saja, ia berpikir, masih bisa mengupayakan sebuah pertemuan yang hangat.
Lebih dari itu, Farley sebenarnya ingin menebus rasa bersalah. Sebab, semasa tiga anaknya masih kecil, Farley melewatkan terlalu banyak momen karena harus bekerja keras di sebuah perusahaan asuransi.
“Permainan sekolah dan pertandingan sepak bola mereka yang terlewatkan itu meninggalkan hutang yang telah saya coba bayar sejak saya pensiun dini pada usia 62 tahun,” ungkap Farley.
“Saya pikir waktu bersama mereka yang terlambat ini lebih baik daripada tidak ada waktu sama sekali,” sambungnya.
Didorong rasa penebusan itulah Farley selalu punya harapan, bahwa setiap makan malam bersama yang dijadwalkan akan berlangsung berbeda: satu sama lain benar-benar saling bicara.
Jika itu terjadi, Farley tentu akan lega karena merasa telah menjadi bapak yang berguna. Tidak seperti apa yang anak-anak mereka ungkapkan tentang Farley: bapak yang bertahun-tahun absen dari kehidupan anak-anaknya, seperti dicurahkan Farley dalam jurnal lain berjudul, “35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga“.
Habiskan uang jutaan rupiah hanya untuk diabaikan dalam momen kumpul keluarga
Jika mau berhitung, Farley sudah menggelontorkan ratusan dollar perbulan dan puluhan juta pertahun demi mengajak tiga anaknya bertemu dalam sebuah makam malam.
Kalau dirupiahkan, perbulan pria California itu bisa merogoh dompet sebanyak Rp3 jutaan. Dalam setahun, hampir Rp40 juta.
“Tetapi biaya finansialnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan beban emosional. Setiap makan malam membuat saya merasa lebih terisolasi daripada jika saya hanya tinggal di rumah dengan buku,” ucap Farley getir.
Kata Farley, kesepian paling buruk adalah ketika dikelilingi oleh orang-orang terdekat, tetapi seolah-olah mereka tidak melihat keberadaanmu: mengabaikanmu. Rasanya, bagi Farley, seperti menjadi hantu di pesta sendiri.
Apa yang keliru?
Situasi semacam itu membuat Farley kerap dihantui macam-macam pertanyaan setiap malam:
“Apakah saya membosankan?”
“Apakah aku menjadi tidak relevan?”
“Apakah seperti ini semua keluarga sekarang?”
Sampai akhirnya Farley memutuskan untuk memanggil tiga anaknya ke kediamannya.
“Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya terlalu menghargai hubungan kami untuk membiarkannya memburuk menjadi ritual kosong. Saya bilang saya ingin koneksi yang nyata. Saya ingin percakapan, bukan sesi scroll ponsel,” ucap Farley.
Reaksi tiga anak Farley beragam. Sarah bersikap defensif, bersikeras bahwa ia tidak selalu menggunakan ponsel tiap bertemu. Lalu Michael tampak lega, karena baginya makan malam selalu membuatnya tidak jenak karena harus membagi fokus antara hadir di meja makan atau mengurus pekerjaan yang terus bermunculan di email.
Sementara Emma sebenarnya tersinggung dengan apa yang dikatakan Farley. Akan tetapi, saat Farley meminta Emma untuk menyebutkan topik obrolan dalam beberapa pertemuan makan malam bersama terakhir, Emma tidak bisa menjawab: mengaku tidak ingat satu pun.
Duduk bersama tapi tidak saling peduli: kepura-puraan yang disebut waktu kumpul keluarga
Farley benar-benar serius memperbaiki keberjarakan dengan anak-anaknya itu, agar tidak mengalami kesepian berkepanjangan.
Oleh karena itu, setelah menghentikan agenda makan malam bersama di restoran dan memanggil tiga anaknya, Farley memutuskan untuk menemui anak-anaknya secara individual untuk kegiatan di mana anak-anaknya beraktivitas tanpa ponsel.
“Michael dan saya pergi ke pertandingan bisbol. Sulit untuk memeriksa email ketika mata fokus mengamati bola. Sarah dan saya mulai melakukan sesuatu yang kreatif bersama pada hari Sabtu pagi. Tangan yang sibuk untuk kegiatan itu tidak dapat menggeser-geser layar. Sementara Emma dan saya menjadi sukarelawan di badan amal lokal sebulan sekali. Mengemasi kotak dan benar-benar berbicara sementara tangan kami sibuk dengan sesuatu yang bermakna,” beber Farley.
Agenda makan malam bersama di restoran memang sudah diakhiri. Sebagai gantinya, Farley membuat waktu khusus kumpul keluarga tiap hari Minggu di rumahnya.
Sebagai tuan rumah, Farley memberlakukan satu aturan ketat: ponsel disimpan dalam keranjang dekat pintu. Awalnya tidak menyenangkan bagi anak-anaknya. Akan tetapi, secara bertahap, waktu kumpul keluarga itu benar-benar berubah menjadi momen untuk saling bicara dan berbagi cerita.
“Benar-benar saling bicara. Tentang ketakutan dan mimpi, tentang tantangan di tempat kerja, tentang perjuangan mengasuh anak mereka alias cucu-cucu saya,” ungkap Farley.
Farley bukannya anti-teknologi. Namun, duduk bersama tapi tidak saling peduli—karena sibuk di layar ponsel masing-masing—adalah kepura-puraan dalam sebuah keluarga yang dibalut dalam waktu kumpul keluarga. Dan Farley tidak mau terus-menerus ada dalam lingkaran seperti itu.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
