Kerja di kafe jadi tren anak muda sekarang. Fenomena ini tak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, tapi juga merambah ke daerah seperti Jogja. Khusunya bagi pelajar dan pekerja. Masalahnya, kedua entitas ini tidak bisa menyatu. Beberapa orang yang pernah kerja di Jakarta mengaku tidak nyaman saat kerja di kafe Jogja.
***
Komunitas Kopi Indonesia mencatat, ada sekitar 3 ribu kedai yang tersebar luas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak hanya itu, kebanyakan pembelinya adalah anak muda seperti mahasiswa maupun pekerja, mengingat Yogyakarta sebagai Kota Pelajar yang berisi banyak kampus seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Institut Seni Indonesia (ISI) hingga Universitas Amikom.
Yogyakarta juga dikenal sebagai kota industri berbasis kreatif, riset, dan kuliner. Sebuah penelitian dari UGM bersama Jogjakarta Incorporated mengungkap, Jogja juga berpotensi sebagai kota industri riset.
Tak pelak, ada banyak warga dari luar daerah yang tergiur untuk kerja di Jogja. Salah satunya Kenia (30) dan Channia (26) yang pernah kerja di Jakarta. Menurut mereka, kerja di kafe Jogja jadi menyebalkan karena isinya banyak mahasiswa.
Realita karyawan di Jogja yang kerja di kafe sampai lembur
Baik Kenia dan Channia mengaku, awalnya suka kerja di kafe karena lebih kondusif dibandingkan rumah. Sehingga, alih-alih pulang ke rumah setelah ngantor, mereka lebih memilih kerja di kafe sampai malam.
“Sebagai perempuan yang sudah menikah, aku pasti terdistraksi terutama dengan pekerjaan rumah. Jadi kurang nyaman untuk bekerja. Keinginan tidur semakin besar,” kata Channia saat dihubungi Mojok, Rabu (1/3/2026).
Begitu pula Kenia, pekerja industri kreatif yang lebih suka kerja di kafe karena lingkungannya lebih kondusif. Namun, keduanya mengaku, akhir-akhir ini kafe bukan jadi tempat yang nyaman lagi. Selain bikin boros, lingkungan kafe kini tidak lagi cocok untuk kerja, apalagi kafe yang dekat dengan kampus.
Kerja di kafe bareng mahasiswa nggak beretika
Channia sendiri sering kerja di kafe sekitar UGM, karena rumahnya dekat dari sana. Kalau tidak karena terpaksa work from home, Channia tidak akan ke sana karena saking ramainya pengunjung yang kebanyakan adalah mahasiswa.
“Kalau ramai aku susah fokus, aku juga introvert yang energinya cepat habis di tengah lautan manusia,” kata Channia yang pernah kerja di Jakarta.
Tapi mau bagaimana lagi, dibandingkan ketiduran di rumah, Channia akhirnya pergi juga untuk kerja di kafe. Namun, ada satu kejadian yang akhirnya bikin dia menyerah dan jengkel saat kerja di kafe.
“Awalnya aku mau ketemu sama teman di salah satu kafe di Jogja. Kami sengaja pilih ruangan sepi seperti indoor. Tak lama kemudian, ada rombongan mahasiswa masuk. Aku tahunya mereka mahasiswa karena mereka kenceng banget ngobrol soal departemen tempat mereka kuliah,” tutur Channia.
Gerombolan yang dimaksud Channia tak hanya 3-5 orang, lebih dari itu mereka seolah tak memikirkan pengunjung lain yang terganggu dengan kebisingan yang mereka hasilkan.
Bahkan, Channia saja yang duduk di samping mereka tak bisa fokus mendengarkan pembicaraan salah satu orang, karena saat ada satu orang yang berbicara, orang lainnya langsung merespons dengan suara yang keras disusul dengan banyak tawa.
“Jujur sangat berisik dan mengganggu, sampai aku dan temanku memutuskan pindah ke ruangan lain,” kata Channia.
Sebetulnya, kata Channia, wajar saja jika pengunjung datang untuk ngobrol tapi kalau sudah mengganggu sampai sebegitunya, wajar saja ia merasa kesal. Sebab, kafe tersebut adalah tempat umum untuk semua orang, kecuali jika mereka menyewa satu ruangan privat sehingga tak bikin pengunjung lain risih dan merasa terusir.
“Aku berharap untuk lebih banyak kafe yang menyediakan tempat untuk bekerja (focus area) dan mungkin kesadaran diri masing-masing orang untuk bisa menghargai satu sama lain,” ucapnya.
Bikin daftar hitam kafe “redflag“
Kejadian yang dialami Channia juga pernah dirasakan Kenia. Ia paham, kafe adalah tempat umum sehingga tak bisa menegur langsung pengunjung lain yang datang karena ramai.
Namun, sepengalamannya menjajal kerja di kafe sekitar Jogja, ada saja pengunjung yang tetap tidak tahu aturan atau mengabaikan etika bersama. Dan kebanyakan mereka adalah mahasiswa jika dilihat dari kesibukan dan obrolan mereka soal kuliah.
“Walaupun ada tanda dilarang berisik untuk menjaga ketenangan, mereka masih berisik,” kata Kenia bersungut-sungut, “kayak mereka yang paling sibuk sedunia saja,” lanjutnya.
Karena tak mungkin pindah ke kafe lain untuk kerja, Kenia memilih diam, pasang headset dan menyalakan musik dengan kencang alih-alih menegur. Esoknya, ia memasukkan kafe tersebut ke daftar hitam—kafe yang nggak layak dikunjungi untuk kerja.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
