Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

ilustrasi - Rela kerja di Jakarta meski nggak kuat. Bertahan untuk bayar utang keluarga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Saya punya cita-cita financial freedom di umur 25 tahun setelah menikah, tapi hal itu nggak mungkin bisa dicapai kalau kerja di Indonesia karena saya juga generasi sandwich,” ucap pekerja migran asal Jakarta yang kerja di Jepang, Cahya Mulia.

Pilih kerja di Jepang karena nggak punya modal ke Australia

Jepang atau Australia. Dua negara ini jadi pertimbangan awal Cahya Mulia (23) saat memutuskan kerja di luar negeri. Sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara, Cahya mengaku tinggal di keluarga sederhana. 

Menginjak remaja, ia sudah harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri sekaligus membayar utang-utang keluarganya. Sayangnya, pemuda asal Jakarta ini menyadari jika mimpinya itu tak akan terwujud jika dia masih berkutat untuk mencari kerja di Jakarta.

“Sebagai generasi sandwich yang harus membagi penghasilan saya untuk memenuhi ekonomi keluarga dan merintis cita-cita di masa depan, saya harus berpenghasilan 2 kali lipat UMP Jakarta,” kata Cahya saat dihubungi Mojok, Rabu (25/2/2026).

Berangkat dari motivasi tersebut, Cahya mulai belajar Bahasa Inggris dan mengobrol langsung bersama turis-turis yang datang di Kota Tua, Jakarta. Ia pun mulai mencari informasi tentang kerja di luar negeri dari nol.
Setelah mengumpulkan berbagai informasi, pilihannya jatuh di negara Australia. Namun ternyata, ia harus mengumpulkan modal sebesar Rp50 juta untuk syarat minimal kerja di sana.

Awalnya, Cahya sudah bertekad untuk mengumpulkan uang tapi kemudian ia dapat informasi kalau kerja di Jepang juga tak terlalu buruk. Berdasarkan testimoni dari sekitar, tenaga kerja asing yang kerja di sana berpotensi dapat gaji lebih besar serta keamanannya terjaga.

Oleh karena itu, Cahya memutuskan ikut program Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Jakarta untuk kerja di Jepang, sembari tak menutup kemungkinan untuk work and holiday visa (WHV) di Australia.

Gila-gilaan kerja di Jepang

Di sebuah LPK di Jakarta, Cahya harus belajar Bahasa Jepang mulai dari nol. Termasuk soal budaya dan etika kerja di sana. Dari berbagai bidang pekerjaan yang ditawarkan, Cahya memilih pelatihan khusus caregiver atau perawatan pada lansia.

“Awalnya aku harus ikut wawancara perusahaan Jepang, baru dimasukkan asrama belajar. Jadi saya mulai dari 0 itu tentang jejepangan, baru belajar di LPK sampai berangkat,” kata Cahya.

Pertengahan tahun 2024, Cahya akhirnya kerja di Jepang. Tiba di sana, Cahya mengaku sedikit syok karena tugasnya tidak sesederhana dengan apa yang ia pelajari selama ini.

“Kerjanya gila, sering lembur, dan nggak sesantai itu sampai tangan sakit-sakitan. Bikin aku kangen keluarga, rindu masakan ibu. Belum lagi kalau musim dingin, rasanya seperti mau meninggal,” kata Cahya.

Sebagai caregiver, Cahya harus sepenuhnya disiplin. Mulai dari bangun tidur, menghangatkan masakan yang dibuat tadi malam untuk sarapan, berangkat kerja, dan mengurus lansia. Malamnya, ia masih harus belajar kosakata baru, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan bikin konten sebelum tidur.

Tak hanya itu, Cahya juga terkejut dengan beberapa peraturan ketat dibandingkan tempat kelahirannya, Jakarta. Saat kerja di Jepang, Cahya jarang melihat orang menerobos lampu merah, bahkan terdapat jarak 5 langkah antara kendaraan dengan zebra cross.

Kendaraan yang melintas pun tak terlalu ramai, orang-orang juga tidak boleh terlalu berisik saat nongkrong atau kumpul-kumpul di luar.

Perlahan bisa melunasi utang keluarga

Meski awalnya tak betah dan belum bisa beradaptasi, Cahya harus bertahan demi mendapat gaji lebih besar. Ia juga harus pandai mengatur pengeluarannya, karena harga di Jepang juga tidak murah.

“Rata-rata gaji yang ku dapatkan dalam sebulan adalah Rp16 juta dan harus ku bagi untuk menabung, bayar utang, dan memenuhi kebutuhan hidup,” ujar Cahya.

Sekilas, angka Rp16 juta memang terlihat lebih besar dibandingkan UMP Jakarta. Namun, sebagian besar uangnya seringkali harus ia kirimkan ke keluarga, sebab utang-utangnya masih menumpuk, yakni sekitar Rp70 juta.

Setelah meninggalkan Jakarta sekitar 1,5 tahun dan kerja di Jepang, Cahya perlahan bisa melunasi utang-utang itu. Mimpi-mimpinya pun mulai menjadi kenyataan dan masa depannya mulai tertata lagi. 

“Dari aku yang dulunya minta satu boxer ke orang tua aja nggak mampu kebeli, sekarang aku bisa beli boxer sendiri bahkan untuk satu keluarga juga uangnya masih lebih,” kelakar Cahya.

Cahya juga bersyukur karena doa dari orang tua dan kekasihnya selama ini selalu mengiringi langkah Cahya. Dari sang ibu yang awalnya berat melepas kepergian anaknya, sekarang ia lebih ikhlas. 

Begitu pula kekasihnya yang setia dan sabar menunggu di Jakarta untuk menjalani hubungan jarak jauh (LDR). “Bahkan cewek saya yang awalnya nggak mau LDR ikut bertekad bantu ekonomi saya dengan nyusul saya kerja di Jepang lewat LPK yang sama. Karena itu, saya benar-benar ngerasain surga dunia.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version