Bagi kelas pekerja di Jogja bagian barat, jajan pasar dan kukusan menjadi penyelamat ketika harus pandai mengatur siasat menu sarapan. Selain murah, juga sebagai bentuk menyelamatkan isi dompet.
***
Pagi di Gamping, Sleman, tidak selalu dimulai dengan sarapan di warung atau kafe. Di pinggir jalan dekat Pasar Jambon, ada pekerja yang cukup membawa pulang beberapa potong arem-arem, sosis solo, dan jagung rebus untuk mengisi perut sebelum memulai pekerjaan.
Di lapak sederhana milik Sumiyati (45-an), jajan pasar dan makanan kukusan bukan sekadar dagangan. Bagi sebagian pekerja yang menjadi pelanggan tetapnya, makanan-makanan itu adalah cara sederhana untuk tetap bisa sarapan tanpa membuat isi dompet cepat habis.
Jajan pasar dan kukusan menu sarapan andalan kelas pekerja di Jogja bagian barat
Rabu (4/11/2026) pagi, saya mampir ke lapak jajan pasar dan kukusan milik Sumiyati yang berada di pinggir jalan raya kawasan Gamping, Sleman. Lokasinya cukup strategis, tepat di depan sebuah gereja dan tidak jauh dari Pasar Jambon. Kendaraan berlalu-lalang cukup padat, terutama ketika orang-orang mulai berangkat bekerja.
Pagi itu saya membeli beberapa jajanan untuk sarapan. Di sela-sela Sumiyati menata dagangannya, saya bertanya sejak kapan ia berjualan di lokasi tersebut.
“Sudah lama, Mas, semenjak pandemi jualan di sini. Kalau sebelum pandemi itu jualannya di dekat pasar, tapi karena memang sewanya cukup mahal akhirnya pindah dengan pinjam tempat di depan ruko orang,” ceritanya.
Sumiyati sudah menyiapkan dagangan sejak dini hari. Untuk makanan kukusan, ia harus membeli sendiri bahan-bahannya dan mulai mengolah sejak pukul 04.00. Sementara itu, jajan pasar berasal dari sejumlah orang yang menitipkan dagangan kepadanya. Mereka biasanya mengantarkan makanan sekitar pukul 05.00.
Pilihan dagangannya cukup beragam. Ada gorengan dengan harga serba Rp1.000, nasi bungkus Rp5.000 dengan lauk gudeg, sambal teri, atau oseng usus, hingga risol mayo dan sosis solo. Untuk kukusan, ia menyediakan telur rebus, ubi, jagung, dan sesekali kentang.
Menurut Sumiyati, nasi bungkus menjadi salah satu dagangan yang paling cepat habis. Namun, makanan kukusan juga memiliki pelanggan tersendiri.
“Kalau pelanggan yang sering banget itu malah pekerja-pekerja kantoran sama itu, Mas, yang kerja di gudang Indomaret Ringroad. Sama kebanyakan ibu-ibu yang mau bawain bekal anaknya sekolah sama suaminya buat bekal kerja,” ujarnya.
Dari tanggal muda hingga tanggal tua, Bu Sumiyati hafal isi dompet pelanggannya
Ada hal menarik dari kebiasaan Sumiyati melayani pelanggan. Ia rupanya bisa memperkirakan kondisi keuangan seseorang hanya dari jajanan yang dibeli.
Kebiasaan itu terbentuk karena banyak pelanggan datang hampir setiap hari. Sumiyati mengenali wajah sekaligus pola belanja mereka. Baginya, perubahan jumlah makanan yang dibeli sering kali menjadi petunjuk bahwa seseorang sedang berada di tanggal muda atau justru menunggu gajian berikutnya.
“Kalau tanggal muda itu biasanya beli nasi bungkus dua sama gorengan banyak. Kalau sudah mulai tengah bulan belinya nasi bungkus satu sama gorengan. Nah, kalau tanggal tua paling mentok beli arem-arem sama sosis solo atau beli kukusan yang lebih murah. Dah, itu pasti, soalnya saya pasti menghafal mereka,” katanya sambil tertawa.
Ia juga tidak selalu memaksa pelanggan membayar sesuai harga apabila uang yang dibawa kurang seribu atau dua ribu rupiah.
“Kadang ada yang kurang seribu atau dua ribu gitu saya ikhlasin, saya suruh bawa aja, enggak usah bayar. Kalau misal masih sisa banyak dagangan saya kadang saya bonusi biar mereka seneng, kasihan soalnya saya,” lanjutnya.
Sikap tersebut bukan berarti Sumiyati tidak memikirkan keuntungan. Ia tetap harus memperhitungkan modal dan harga bahan baku. Namun, ketika harga-harga naik, ia mengaku tidak selalu menaikkan harga jual kepada pelanggan tertentu.
“Kalau sekiranya anak muda yang kerjanya cuma di gudang-gudang pinggir Ringroad gitu saya jarang naikin harganya. Ya meski itu artinya keuntungan saya tipis, tapi menurut saya hitung-hitung sedekah, Mas,” tuturnya.
Dalam kondisi ramai, dagangannya bisa habis sekitar pukul 09.00. Sumiyati biasanya membawa pulang uang sekitar Rp300.000–Rp450.000. Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah tersebut merupakan uang hasil penjualan, bukan keuntungan bersih. Ada modal dan risiko dagangan tidak habis yang harus diperhitungkan.
Yusuf dan jajan pasar yang menyelamatkan sarapan pekerja Jogja
Tidak lama setelah saya berbincang dengan Sumiyati, seorang laki-laki berseragam biru datang memilih jajanan. Namanya Yusuf (27), pekerja di salah satu gudang di pinggir Ringroad yang sudah menjadi pelanggan tetap Sumiyati.
Ia memasukkan beberapa potong sosis solo, lumpia, arem-arem, dan jagung rebus ke dalam plastik kresek. Saya kemudian bertanya apakah ia memang rutin membeli makanan di lapak tersebut.
“Wah, itu sering, Mas. Tiap hari malah. Dan Bu Sumiyati ini penyelamat sarapan saya. Kalau Bu Sumiyati tidak jualan, wah bisa kelimpungan saya, Mas. Tidak punya tempat lain buat beli jajan pasar dan kukusan,” jawabnya.
Bagi Yusuf, ada dua alasan utama memilih makanan tersebut: harganya murah dan pilihannya beragam. Ia juga mengaku tidak terlalu cocok menyantap makanan berat seperti nasi padang pada pagi hari.
“Di sini murah meriah, Mas. Rp10 ribu saja saya sudah kenyang. Kalau mau agak boros ya paling Rp15 ribu, tidak pernah lebih,” katanya.
Yusuf mengaku gajinya bahkan belum mencapai upah minimum kabupaten (UMK) Sleman. Karena itu, memilih makanan mahal setiap hari bukan pilihan yang masuk akal baginya.
Awalnya, membeli jajan pasar dan kukusan merupakan strategi untuk menghemat pengeluaran. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan hidup, kebiasaan tersebut justru semakin sulit ditinggalkan.
“Kalau sudah benar-benar kering isi dompet saya, biasanya saya menjadikan jajan pasar dan kukusan ini sebagai sarapan dan nanti untuk makan siang. Kalau sore atau malam mending beli mi instan saja buat menghemat,” ungkapnya.
Ia mengaku pengeluaran makan menjadi salah satu hal yang harus dijaga agar gaji tidak cepat habis. Bagi Yusuf, selisih beberapa ribu rupiah dari pengeluaran sarapan tetap berarti ketika masih ada kebutuhan lain yang harus dibayar.
“Awalnya itu strategi biar saya bisa menghemat pengeluaran, Mas. Namun, karena semakin hari kebutuhan hidup semakin mencekik, ya akhirnya jadi kebiasaan,” tambahnya.
Kukusan, dari kebiasaan berhemat hingga tren pola hidup sehat pekerja di Jogja
Fenomena makanan kukusan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pekerja berpenghasilan terbatas. Dalam beberapa tahun terakhir, makanan seperti ubi, singkong, jagung, pisang, dan kentang rebus juga mendapatkan perhatian sebagai bagian dari pola makan sehat.
Pada 2025, sarapan kukusan sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Bahkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut mengapresiasi tren tersebut sebagai peluang membangun kebiasaan sarapan sehat. Fenomena ini memperlihatkan bahwa makanan sederhana berbasis pangan lokal juga memiliki tempat di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
Penjelasan dari Ai Imas Faidoh Fatimah, dosen Sekolah Vokasi IPB University, dilansir dari Radar Bogor pada 9 Januari 2026, menyebutkan bahwa jagung, ubi jalar, singkong, dan pisang merupakan sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, serta sejumlah vitamin. Pengolahan dengan cara dikukus juga dapat mengurangi penggunaan minyak dibandingkan menggoreng. Meski demikian, konsumsi kukusan tetap perlu dikombinasikan dengan sumber protein dan makanan bergizi lainnya agar kebutuhan nutrisi lebih seimbang.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY melalui hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025 mencatat rata-rata pengeluaran per kapita untuk makanan penduduk Kabupaten Sleman mencapai Rp935.018 per bulan. Angka tersebut menunjukkan besarnya pengeluaran konsumsi makanan dalam kehidupan masyarakat, meskipun tentu tidak menggambarkan kondisi keuangan setiap pekerja secara individual.
Bagi Yusuf, tren makanan sehat bukan alasan utama membeli jagung rebus atau ubi kukus. Ia lebih dulu mengenalnya sebagai makanan yang murah, mudah didapat, dan cukup mengenyangkan. Sementara itu, Sumiyati tetap berjualan karena melihat adanya kebutuhan pelanggan yang terus berulang setiap pagi.
Di lapak kecil dekat Pasar Jambon itu, keduanya bertemu dalam kepentingan yang sederhana. Sumiyati membutuhkan pelanggan untuk mempertahankan dagangannya, sedangkan Yusuf membutuhkan makanan terjangkau agar bisa menjalani hari tanpa terlalu menguras penghasilan.
Pada akhirnya, tidak semua orang membeli kukusan karena sedang mengikuti tren hidup sehat. Ada pula yang membelinya karena harus mengatur pengeluaran sampai gajian berikutnya. Bagi sebagian pekerja Jogja, sebungkus arem-arem, beberapa potong sosis solo, dan sebatang jagung rebus sudah cukup menjadi penyelamat perut sebelum kembali berjibaku dengan pekerjaan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Slow Morning di Jogja Cuma Mitos yang Dibesar-besarkan Orang Jakarta, Pagi di Jogja Selalu Dimulai dengan Mumet atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan lainnya di rubrik Liputan