MOJOK.CO – Mie ayam laris, penitip gorengan malah rugi? Cek simulasi biaya, komisi, dan sisa dagangan. Jangan sampai kamu bekerja keras tanpa menghitung upah!
Pelanggan warung mie ayam bisa menambah dua gorengan tanpa banyak berpikir. Pemilik warung memperoleh tambahan penerimaan, sementara pelanggan menuntaskan makan siang dengan perut lebih kenyang.
Namun, siapa yang membawa pulang keuntungan dari gorengan itu? Apakah penjaga warung mengantonginya sendiri, atau pembuat gorengan ikut menikmati hasil setelah bangun lebih pagi untuk mengaduk adonan?
Pertanyaan itu punya pijakan nyata. Mojok, pada 1 September 2026, menulis tentang warung rumahan di pinggiran Jogja yang mematok harga mie ayam Rp8.000. Pemiliknya juga menerima titipan tahu goreng dari warga. Artinya, sebagian pelengkap makan menghubungkan dua usaha dengan pembukuan dan risiko masing-masing.
Harga gorengan pun masih menyisakan ruang untuk hitungan receh. IDN Times Jogja pada 24 Agustus 2026 menyebut harga tempe atau tahu goreng mulai Rp1.000–Rp2.000 sepotong.
Saya memakai harga mie ayam Rp8.000 dan gorengan Rp1.000 sebagai patokan simulasi. Saya menetapkan volume, resep, komisi, dan ongkos tambahan sebagai asumsi, bukan mengaku memegang buku kas warung tertentu.
Cara ini membantu kita menguji pembagian risiko tanpa mengarang pengalaman pedagang. Harga riil dapat berubah menurut pemasok, ukuran gorengan, dan lokasi. Pelaku usaha perlu mengganti angka acuan dengan nota belanjanya sebelum mengambil keputusan.
Warung mie ayam sebaiknya jangan gegabah menyulap omzet menjadi laba
Anggap sebuah warung menjual 100 porsi mie ayam sehari. Perkalian 100 dengan Rp8.000 menghasilkan omzet Rp800.000.
Kalau warung mempertahankan penjualan itu selama 30 hari, omzet bulanannya mencapai Rp24 juta. Namun, pemilik masih harus membayar mie, ayam, bumbu, gas, tenaga kerja, serta berbagai biaya usaha sebelum menghitung laba.
Penjualan 100 porsi mie ayam juga tidak otomatis menghabiskan seratus gorengan. Seorang pelanggan mungkin cukup memesan mie, sementara pelanggan lain memilih kerupuk atau mengambil dua bakwan sekaligus. Pemilik warung perlu membaca pola itu sebelum meminta tambahan pasokan. Keramaian hanya memperbesar kesempatan, bukan menjamin pembelian.
Sekarang tambahkan satu pemasok yang menitipkan 100 bakwan. Dalam simulasi ini, warung mie ayam menjual setiap bakwan seharga Rp1.000, menyerahkan Rp800 kepada pembuat, dan mengambil komisi Rp200.
Kedua pihak menetapkan pembayaran hanya untuk jumlah penjualan. Sementara itu, pembuat menanggung seluruh sisa tanpa memperoleh pendapatan tambahan dari sisa itu.
Misalkan pelanggan membeli 80 bakwan. Kasir menerima Rp80.000, tetapi warung mie ayam hanya memperoleh komisi Rp16.000. Warung harus menyerahkan Rp64.000 kepada penitip. Komisi tersebut pun belum menjadi laba bersih karena warung tetap menyediakan tempat, pelayanan, dan pengelolaan penjualan.
Kasir memang mengumpulkan Rp880.000 dari mie ayam dan gorengan. Akan tetapi, hak penitip mencapai Rp64.000. Warung hanya berhak menghitung Rp816.000 sebagai pendapatannya sebelum mengurangi biaya usaha sendiri. Jangan memasukkan uang tetangga ke kantong keuntungan, meskipun kedua pihak memakai laci kas yang sama.
Hitung kerja pembuat gorengan, bukan cuma bahan
Untuk menaksir biaya gorengan, saya memakai acuan resmi tahun 2026. Tabel harga Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY pada 12 Oktober mencantumkan tepung terigu kemasan Rp11.761, wortel Rp14.000, dan minyak goreng kemasan Rp21.750. Tabel dinas memakai satuan rupiah per kilogram. Perhitungan berikut mengikuti satuan tersebut, termasuk untuk minyak.
Saya mengasumsikan satu batch menghasilkan 100 bakwan wortel berukuran kecil dengan kebutuhan satu kilogram terigu, satu kilogram wortel, dan setengah kilogram minyak. Ketiganya menghabiskan Rp36.636: Rp11.761 untuk terigu, Rp14.000 untuk wortel, serta Rp10.875 untuk minyak.
Saya menghitung konsumsi minyak, bukan seluruh stok dalam wajan. Produsen tetap perlu menimbang kebutuhan nyata karena ukuran dan cara menggoreng mengubah hasil.
Saya lalu mengalokasikan Rp5.000 untuk bumbu, Rp4.000 untuk LPG, Rp1.000 untuk air dan listrik, serta Rp3.000 untuk pengantaran. Saya juga memasukkan penyusutan peralatan Rp2.000 dan menghargai dua jam kerja pembuat sebesar Rp20.000. Selanjutnya, saya menetapkan alokasi ini sebagai asumsi biaya, bukan mengutip tarif baku atau standar upah resmi.
Penjumlahan itu menghasilkan biaya Rp71.636 untuk 100 gorengan bakwan, atau Rp716,36 per buah produksi. Saya mengasumsikan pembuat memakai dapur rumah tanpa membayar sewa tambahan. Pembuat harus menambahkan sewa, bunga pembiayaan, atau pengeluaran lain apabila usahanya menanggung biaya tersebut.
Kalau warung mie ayam menjual seluruh 100 gorengan bakwan, pembuat menerima Rp80.000 dan meraih laba operasional simulasi Rp8.364 setelah menghitung imbalan kerjanya. Namun, penjualan 80 bakwan hanya menghasilkan penerimaan Rp64.000.
Biaya produksi tetap mencapai Rp71.636 karena pembuat telanjur menggoreng 100 buah. Akhirnya, perhitungan penuh menunjukkan rugi ekonomi Rp7.636 setelah memasukkan imbalan kerja pembuat.
Uang masuk tetap bisa menipu mata
Perhitungan di atas menyisakan Rp12.364 setelah memasukkan biaya selain tenaga sebesar Rp51.636. Namun, pembuat gorengan harus memakai selisih itu untuk membayar dua jam kerja sekaligus memperoleh keuntungan.
Kalau dia langsung menyebut seluruhnya laba, dia sedang menggratiskan tenaganya sendiri. Kompor mungkin membantu mematangkan bakwan, tetapi tidak menghapus ongkos waktu manusia.
Dengan biaya dan harga setor tersebut, pembuat membutuhkan penjualan sedikitnya 90 bakwan di warung mie ayam untuk mencapai titik impas biaya penuh. Penjualan 89 buah hanya menghasilkan Rp71.200, sedangkan 90 buah menghasilkan Rp72.000. Jadi, sisa 11 bakwan saja sudah membuat model ini gagal menutup seluruh biaya.
Bagi risiko sebelum warung mie ayam menambah titipan
Perhitungan itu tidak menempatkan pemilik warung mie ayam sebagai penjahat. Warung menyediakan akses kepada pelanggan dan ikut menanggung biaya pelayanan. Masalah muncul ketika kedua pihak hanya membicarakan komisi, lalu mengabaikan sisa dagangan, waktu pembayaran, dan nilai kerja pembuat.
Coba geser harga setor dari Rp800 menjadi Rp900 tanpa mengubah harga konsumen. Pada penjualan 80 gorengan bakwan, penitip menerima Rp72.000 dan memperoleh selisih Rp364 setelah menghitung semua biaya simulasi. Warung memperoleh komisi Rp8.000. Perubahan Rp100 memindahkan Rp8.000 antarpihak; perubahan itu tidak menciptakan uang baru. Karena itu, kedua pihak perlu menilai kebutuhan masing-masing sebelum memilih pembagian.
Jadwal pembayaran juga menentukan napas usaha. Kalau warung mie ayam menyetor setiap tiga hari dengan penjualan 80 buah gorengan setiap hari pada harga setor Rp800, kewajibannya kepada penitip pada akhir hari ketiga mencapai Rp192.000.
Penitip tetap harus menyediakan modal untuk produksi berikutnya. Kedekatan sebagai tetangga tidak membuat toko tepung menerima pembayaran berupa janji.
Kedua pihak bisa memulai perbaikan dengan mencatat jumlah titipan, penjualan, sisa, dan pembayaran setiap hari. Setelah mengumpulkan catatan beberapa hari, mereka bisa menyesuaikan jumlah produksi dengan permintaan nyata. Mereka juga perlu menyepakati siapa menanggung kehilangan, kerusakan, dan sisa, bukan menunggu masalah untuk mulai berunding.
Warung mie ayam boleh mengejar omzet besar. Penitip gorengan juga berhak mengejar keuntungan tanpa menghapus nilai tenaganya sendiri.
Kalau keduanya hanya merayakan meja ramai sambil mengabaikan pembukuan, mereka mungkin sedang merawat persahabatan yang diam-diam menguras salah satu dompet. Kedua pihak sebaiknya menghitung bersama, bukan cuma tersenyum bersama lalu membiarkan satu pihak membawa pulang capek dan gorengan dingin.
BACA JUGA Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam dan artikel menarik lainnya di rubrik CUAN.