MOJOK.CO – Dari jualan buku bekas di Shopee, saya mengantongi cuan sampai 10 juta dalam waktu 1 bulan. Sungguh alternatif usaha yang potensial.
Saya pernah berpikir bahwa cara paling masuk akal menghasilkan uang dari buku yang sudah selesai saya baca adalah dengan menuliskan resensinya di media massa. Syukur-syukur redaktur memuatnya, saya dapat honorarium, lalu uangnya bisa saya pakai untuk beli buku lagi. Sebuah siklus yang terdengar indah, meskipun kenyataannya honorarium tulisan tidak selalu datang secepat tagihan listrik.
Sampai akhirnya saya menemukan cara lain yang lebih cepat untuk menghasilkan uang dari tumpukan buku bekas tersebut. Cara saya adalah dengan menjualnya di Shopee. Iya, jualan buku bekas. Nama toko saya adalah Subuh. Silakan mampir ya.
Ide menjual buku bekas online ini berawal dari iseng dan gabut saja. Sebagai pembaca buku, saya memiliki banyak buku yang sudah selesai saya baca dan berakhir menumpuk begitu saja di lemari. Akhirnya, saya menjual buku-buku tersebut di Shopee.
Siapa sangka, kegiatan iseng berjualan buku bekas di Shopee bisa meraup omzet Rp10 juta dalam waktu kurang lebih satu bulan. Saking cepatnya buku-buku tersebut terjual, saya sampai bingung sendiri. Apakah buku tersebut laris manis karena saya menjualnya kelewat murah atau memang minat baca masyarakat Indonesia sebenarnya tinggi?
Buku bekas di Shopee itu tidak selalu buku murah
Salah satu kesalahan saya ketika pertama kali berjualan adalah mengira harga buku bekas harus selalu jauh lebih murah daripada harga buku baru. Ternyata, pasar buku bekas di Shopee tidak sesederhana itu.
Harga sebuah buku tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisiknya, tapi juga tahun terbitan, popularitas penulis, kelangkaan, dan selera pasar. Kesemuanya mempengaruhi harga jualnya.
Sebagai orang yang suka membaca buku sejak kecil, saya memiliki banyak koleksi buku cetakan pertama yang saat ini populer kembali. Dua di antaranya yang paling populer dan banyak orang buru adalah buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer cetakan Lentera Dipantara.
Saya menjual buku-buku tersebut 3 kali lipat dari harga awal beli. Sebagai contoh, novel Bumi Manusia yang saya beli dengan harga Rp95 ribu di 2005, saya jual kembali di Shopee dengan harga Rp210 ribu pada 2026 dan langsung terjual dalam hitungan 1 jam saja sejak saya upload. Nyaris semua buku Pramoedya Ananta Toer yang cetakan Lentera Dipantara saya jual 3 kali lipat harga beli dan langsung laku keras.
Bayangkan saja. Saya memiliki nyaris semua buku Pramoedya Ananta Toer cetakan Lentera Dipantara, mulai dari tetralogi Pulau Buru, novel-novel tipisnya sebut saja Bukan Pasar Malam, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, hingga tulisan seriusnya seperti Panggil Aku Kartini, Arok Dedes, hingga Arus Balik.
Hanya dari menjual buku karya Pramoedya Ananta Toer cetakan Lentera Dipantara saja, saya sudah bisa mengantongi Rp3 juta rupiah dalam sehari saja. Jauh di atas UMR beberapa kota, kan.
Kondisi buku menguning bukan berarti kehilangan nilai jual
Sebelum berjualan buku bekas, saya juga sempat berpikir bahwa kondisi fisik merupakan faktor paling menentukan dalam transaksi. Saya membayangkan pembeli akan menghindari buku yang sudah menguning, memiliki bercak, atau sampul yang ujungnya mulai terkelupas.
Ternyata dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Nyatanya, saya pernah menjual novel Amba karya Laksmi Pamuntjak terbitan KPG (cetakan pertama) yang kondisinya sudah menguning dengan harga Rp90 ribu. Padahal dulu saya membelinya seharga Rp70 ribu saja.
Pengalaman serupa terjadi ketika saya menjual novel Entrok karya Okky Madasari cetakan pertama. Novel ini dicetak ulang oleh Gramedia pada 2026, tapi banyak pembaca yang kurang suka dengan desain sampulnya sehingga memilih mencari buku bekas cetakan lama (dengan sampul yang menurut mereka lebih bagus).
Dari situ saya belajar bahwa membeli buku bekas di Shopee tidak selalu mencari barang yang sempurna. Sebagian dari mereka justru mencari edisi tertentu yang mungkin sudah tidak mudah ditemukan.
Meskipun demikian, kita harus jujur dengan kondisi buku. Saya selalu berusaha menyebutkan kekurangan fisik buku, termasuk halaman menguning, bercak, atau jika ada bagian buku yang sobek/rusak.
Buku sastra punya pasar tersendiri
Selama berjualan buku bekas di Shopee, saya juga menemukan kecenderungan menarik mengenai selera pembeli.
Buku sastra karya Pramoedya, Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono hingga Eka Kurniawan dan novel sastra dengan tema berat atau peraih Kusala Sastra Indonesia cenderung banyak diminati ketimbang novel romance populer.
Sebagai contoh, buku karya Nukila Amal (Calaibi) pemenang Khatulistiwa Award 2004 lebih cepat terjual ketimbang novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye.
Tentu saja, ini bukan berarti novel populer tidak memiliki pembeli. Saya hanya menceritakan pola transaksi di lapak jualan buku bekas saya sendiri di Shopee.
Ada kemungkinan, pembeli buku bekas memiliki motivasi yang berbeda dari pembeli buku baru. Sebagian mungkin mencari bacaan murah, tetapi sebagian lainnya sedang berburu buku yang sudah sulit mereka temukan, edisi tertentu, atau karya penulis yang memiliki komunitas pembaca yang loyal.
Mereka ini tidak sekedar membeli buku, tapi juga sedang mencari pengalaman membaca yang mungkin tidak bisa mereka dapatkan dari edisi terbaru.
Buku bekas terbitan penerbit indie justru memiliki peluang lebih menarik
Temuan lain yang cukup mengejutkan dari pengalaman saya berjualan buku bekas di Shopee adalah buku terbitan penerbit independen atau indie justru lebih banyak diminati.
Beberapa buku dari penerbit indie seperti Marjin Kiri, Banana, Post Press, atau EA Books justru lebih cepat mendapatkan pembeli ketimbang sejumlah buku terbitan penerbit besar.
Fenomena ini menarik karena ketika masih baru, buku dari penerbit besar tentu memiliki keunggulan distribusi. Kamu akan mudah menemukan buku tersebut di toko buku jaringan besar. Sementara itu, buku indie terkadang hanya beredar melalui toko buku tertentu. Namun, ketika sudah masuk pasar buku bekas, situasinya justru berubah.
Pembaca yang mencari buku indie biasanya sudah tahu apa yang ingin mereka beli. Mereka tidak datang ke lapak saya di Shopee untuk melihat-lihat, melainkan mencari judul yang mungkin sudah tidak tersedia di toko buku langganannya.
Bagi penjual buku bekas, memahami kelompok pembeli seperti ini menjadi keuntungan tersendiri. Dan tentu saja, mendatangkan cuan.
Deskripsi produk di Shopee bisa menjadi penentu transaksi
Karena sebagian besar buku yang saya jual adalah koleksi pribadi, jadi saya sudah membaca semua buku tersebut. Hal tersebut membuat saya tidak kesulitan ketika ada calon pembeli yang bertanya tentang isi buku.
Saya juga belajar bahwa deskripsi produk di Shopee tidak cukup hanya berisi judul, nama penulis, penerbit, dan kondisi fisik buku. Melainkan juga tentang isi buku tersebut.
Saya pernah menjual buku berjudul Nyanyian Kematian Sirenes. Ketika saya upload buku tersebut dengan deskripsi standar (judul, penerbit, dan penulis), buku tersebut tidak kunjung laku. Namun, saat saya menjelaskan bahwa buku tersebut adalah penelitian sosiologis tentang pelanggan Starbucks, tidak sampai satu hari setelah saya ubah deskripsinya, bukunya langsung terjual.
Menjual buku bekas tidak harus mengeluarkan modal besar
Jika ada yang bertanya apakah bisnis buku bekas, khususnya di Shopee, membutuhkan modal besar? Pengalaman saya menunjukkan bahwa seseorang bisa memulainya dari koleksi pribadi.
Pengeluaran paling besar dari jualan buku bekas yang saya lakukan justru dari admin marketplace Shopee. Sisanya saya hanya mengeluarkan biaya membeli kertas packing. Selama ini, saya tidak melakukan packing mewah (dengan bonus), saya hanya berusaha mengemasnya dengan aman.
Jika menghitung kasar, saya mendapatkan untung sekitar 10-15% dari setiap buku lawas yang saya jual. Angka tersebut bisa berkali lipat lebih besar jika buku bekas yang saya jual adalah buku langka dan banyak dicari orang.
Namun, bukan berarti semua buku otomatis bisa dijual tinggi. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan jika ingin mencoba bisnis ini
Pertama, kenali buku yang akan kamu jual. Kedua, lakukan pengecekan harga pasar. Ketiga, gunakan foto produk yang jelas. Keempat, buat deskripsi yang menarik dan informatif. Terakhir, jangan lupa menghitung biaya administrasi marketplace. Omzet yang terlihat besar belum tentu menjadi keuntungan bersih yang sama besarnya.
Saya sendiri masih menganggap aktivitas ini sebagai cara memanfaatkan koleksi pribadi agar lebih produktif. Namun, menjual kurang lebih 90 buku dengan omzet bersih Rp10 juta membuat saya melihat buku bekas sebagai barang yang memiliki nilai ekonomi, bukan sekedar barang sisa konsumsi.
BACA JUGA The Lucky Boomerang 1995: Surga Buku Impor yang Bergaya Vintage di Tengah Gang Kota Jogja dan artikel menarik lainnya di rubrik CUAN.