Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Menjadi anak pintar dan siswa berprestasi tapi tanpa privilege, apalagi hidup dalam kemiskinan, di desa menjadi takdir yang bagi dua narasumber Mojok layak dirutuki. Sebab, realita hidup tersebut membuat mereka harus menjalani kehidupan buruk yang jauh dari impian mereka. Punya otak pintar pun pada akhirnya terasa sia-sia karena kondisi orang tua di desa tidak memberi dukungan pendidikan

***

Hanya senyum getir dan air mata yang menggenang ketika dua narasumber Mojok, panggil saja Janna (perempuan 26 tahun) dan Iskan (laki-laki 28 tahun), saat menunjukkan bukti deretan prestasi yang pernah mereka raih sepanjang sekolah (SD-SMA) sebagai bukti kalau dulu mereka adalah anak pintar dan siswa berprestasi. 

Janna dulu selalu menjadi andalan sekolah di banyak ajang olimpiade akademik. Di sekolah pun, terutama di masa SMA, ia selalu langganan peringkat 1 paralel jurusan IPS. 

Iskan tidak jauh berbeda. Mengambil jurusan IPA, Iskan sangat menggandrungi Fisika dan Kimia. Rasa ingin tahunya besar. Ia paling bersemangat dan selalu dapat nilai bagus setiap praktikum. 

Jadi anak pintar tapi sial tidak dapat dukungan pendidikan orang tua di desa

Sejujurnya, selain faktor takdir, Janna dan Iskan menyebut bahwa kepintaran yang mereka miliki sama sekali tanpa ada dukungan orang tua mereka. 

Janna dan Iskan sama-sama tumbuh di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Mereka hidup di tengah-tengah keluarga tanpa privilege. Miskin kalau kata Iskan. 

Karena situasi tersebut, orang tua masing-masing cenderung tidak menaruh perhatian serius pada pendidikan anak. Sekolah pokoknya ya hanya untuk mengikuti keumuman saja: umumnya orang tua lain menyekolahkan anak, orang tua mereka pun ikut menyekolahkan anak. 

“Nggak ada waktu buat mikir ngelesin anak, karena uang keluarga kami cuma cukup untuk hidup. Mereka juga nggak sekolah, jadi nggak bisa mendampingi anak belajar. Jadi mau nggak mau, aku harus belajar sendiri biar pinter,” kenang Iskan, Senin (20/4/2026). 

“Kalau aku seringnya iri ya. Pas SMP dan SMA dulu, ada temen yang kalau dapat peringkat tiga besar saja, langsung dapat hadiah atau diajak jalan-jalan sama orang tua. Kalau aku, sekalipun juara lomba atau juara paralel, jadi siswa berprestasi, ya sudah begitu saja. Nggak ada apa-apa,” sementara begitu pengakuan Janna. 

Sial jadi anak pintar di desa tapi hidup dalam kemiskinan, sekolah mentok sampai SMA

Sebagai siswa berprestasi (di angkatan dan jurusan berbeda), Janna dan Iskan tentu saja punya bayangan kuliah. Di masa menjelang kelulusan, masing-masing bahkan sempat sangat aktif berkonsultasi ke guru BK untuk menentukan jurusan dan potensi beasiswa.

“Guruku sangat optimis. Karena aku siswa berprestasi, bakal mudah bagiku buat tembus universitas ternama. Bakal mudah juga kalau mau cari beasiswa. Aku semangat banget denger itu, karena aku pengin kuliah,” kata Janna. 

Sayangnya, optimisme Janna tidak disambut dengan ekspresi serupa oleh orang tuanya. Bagi orang tuanya di desa, buat apa perempuan sekolah sampai tinggi-tinggi? SMA saja sudah cukup. Yang penting sudah pernah sekolah. Daripada tidak pernah sama sekali. Bagi orang desa tanpa privilege seperti Janna, pendidikan tinggi akhirnya terasa mustahil dicapai. 

Itu membuat Janna mati kutu. Tidak bisa membantah. Hanya bisa pasrah dan diam-diam nangis kejer di kamar kala mendapati banyak temannya, meskipun perempuan, mendapat dukungan orang tuanya untuk kuliah di mana pun. 

Lebih dari itu, dalam kasus Iskan, kemiskinan orang tuanya di desa membuat mimpi kuliah harus dikubur dalam-dalam. 

“Alasannya bukan sekadar orang tua nggak sanggup membiayai karena kemiskinan. Tapi sebagai laki-laki, aku harusnya nggak mikir buat kuliah. Laki-laki itu ditakdirkan buat kerja, jadi tulang punggung,” beber Iskan. 

Jika dicermati, ternyata sama saja: dalam situasi orang tua yang hidup dalam kemiskinan di desa, mau anak laki-laki atau perempuan, ternyata sama-sama tidak punya kans untuk mengejar mimpi. 

Dipaksa menikah, berakhir jadi istri dan ibu yang menderita

Atas kesimpulan orang tua Janna (buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi?), Janna akhirnya dipaksa menikah. Harapannya, dengan menikah, beban ekonomi orang tua Janna berkurang karena Janna sudah menjadi tanggung jawab suaminya. 

Janna ingat betul. Ia hanya terduduk pedih di pelaminan, saat orang tua dan para tamu undangan merayakan momen tersebut. 

“Awalnya aku mencoba menerima takdirku. Tapi lama-lama aku menderita. Kehidupanku hanya berkutat di rumah, antara dapur (masak), kamar mandi (mencuci pakaian), dan sapu (bersih-bersih rumah),” ujar Janna dengan suara bergetar. 

Setelah punya anak, alih-alih memberi kebahagiaan baru bagi hidup Janna, ia justru merasa semakin menderita. Ia bahkan sempat mengalami baby blues di awal masa melahirkan: merasa si bayi telah merenggut dunianya yang harusnya ia habiskan untuk mengajar banyak mimpi. 

“Aku menikah nggak lama setelah lulus SMA. Setelah bertahun-tahun pernikahan, aku masih belum menemukan kebahagiaan. Aku masih sering merenung, aku ini dulu siswa berprestasi, tapi malah berakhir seperti ini,” tuturnya lirih. 

Terus hidup dalam kemiskinan di desa

Sementara Iskan, sejak lulus SMA, harus kerja serabutan karena tidak mendapat dukungan gara-gara kondisi orang tua di desa . Nguli ia lakukan. Jadi tukang gali sumur ia jalani. Semua hasil pekerjaan tidak semata untuk hidupnya sendiri, tapi juga untuk menggantikan peran orang tua terhadap adik Iskan. 

“Konsepnya kan begini, orang tua biayai aku. Maka setelah aku kerja, aku harus gantian, menanggung biaya adikku,” ungkap Iskan. 

Dulu, saat ada anak desanya yang beruntung bisa kuliah, Iskan biasanya akan nimbrung ke anak kuliahan itu. Minta diceritakan perihal bagaimana kehidupan di bangku perkuliahan, terutama soal ilmu-ilmu yang dipelajari. 

Karena memang Iskan suka ilmu, rasa ingin tahunya besar. Untuk menebus kegagalannya kuliah sebab alasan kemiskinan dan tanpa dukungan pendidikan dari orang tua di desa, ngobrol dengan anak kuliahan menjadi salah satu upayanya untuk tetap update pengetahuan. 

“Aku suka pinjam buku kuliah anak kuliahan. Aku suka baca-baca esai atau opini di media online. Di titik itu, aku sering merutuki takdirku. Merasa harusnya aku bisa mengeksplorasi banyak hal seandainya punya privilege orang tua berduit,” beber Iskan. 

Ya tapi bagaimana lagi. Sudah terlanjur. Saatnya kembali menggali sumur dan terus menjalani hidup dalam kemiskinan di desa. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version