ADVERTISEMENT

Gen Z Tinggalkan Pekerjaan Gaji UMR Semarang dan Pilih Menjadi Pelayan Gereja Bergaji Sejuta Namun Bahagia

Memilih Menjadi Pelayan Gereja Gaji Sejuta Namun Gen Z Tetap Bahagia. MOJOK.CO

Di tengah keriuhan Simpang Lima dan desakan biaya hidup Kota Semarang yang kian mencekik, Arsi (26) dan Phillip (31) memilih menjadi pelayan di Gereja Pantekosta Serikat Indonesia (GPSI) Rehobot dengan santai. pilihan keduanya seringkali dianggap aneh bagi Gen Z yang mengejar gaji besar dan karir mentereng. Keduanya malah mendedikasikan seluruh hidup menjadi pelayan gereja secara penuh waktu meski bergaji sejuta.

***

Bagi banyak anak muda perkotaan, keputusan pasutri ini terdengar seperti aksi nekat. Dilansir dari Detik, tren hustle culture memaksa generasi usia produktif memeras tenaga hingga tetes terakhir demi mencukupi gaya hidup dan cicilan. Badan Pusat Statistik mencatat upah minimum di kota-kota besar Jawa Tengah kerap membuat pekerja muda megap-megap bertahan hidup. Namun, Arsi dan Phillip justru mencoret diri dari daftar pencari slip gaji bulanan sejak hampir tiga tahun lalu.

“Dulu suami saya pernah bekerja secara normal menjadi web developer, namun semenjak memutuskan untuk masuk ke gereja dan menjadi pelayan, dia tinggalkan pekerjaan itu, katanya jauh lebih tenang dan tidak pernah merasa kekurangan,” kata Arsi kepada Mojok, Senin (28/09/2026).

Phillip membenarkan keputusan tersebut. “Dulu kepala saya penuh target tenggat waktu dan layar monitor setiap hari. Uang memang masuk rekening tiap bulan, tapi batin saya terus merasa kosong dan gelisah. Menjadi pelayan gereja memberi saya ruang bernapas yang tidak pernah saya temukan di meja kantor,” tambah Phillip.

Realitas dapur dengan gaji Rp1 juta sebulan

Dunia luar sering mengukur kelayakan hidup lewat angka nominal. Menjalani hari sebagai pelayan gereja penuh waktu menempatkan mereka pada kondisi ekonomi yang serba tidak menentu. Uang saku operasional untuk dapur pribadi mereka berada jauh di bawah garis upah minimum kota mana pun di Pulau Jawa.

Setiap bulan, mereka menerima bantuan saku sekitar Rp1 juta, angka yang bahkan kerap menyusut tergantung kondisi kas jemaat. Untuk kebutuhan makan harian, mereka mengandalkan kemurahan hati umat yang kerap membawakan beras, minyak goreng, atau makanan matang usai ibadah mingguan.

“Uang sejuta itu memang kecil bagi orang luar. Tapi beras selalu ada di dapur dan kami tidak pernah tidur dalam kondisi perut kelaparan. Kalau ada umat yang membawa sayur atau telur, kami memasak apa yang tersedia di meja,” jelas Arsi lugas.

Menjadi pelayan gereja karena meneruskan amanah dari orang tua

Langkah mereka bukan sekadar pelarian impulsif anak muda yang muak pada rutinitas kantor. GPSI Rehobot menyimpan sejarah panjang keluarga yang berakar sejak dekade 1980-an. Arsi dan Phillip lahir dari rahim tradisi keluarga yang serupa: keduanya sama-sama anak pendeta senior.

“Kami berasal dari latar belakang keluarga yang sama, orang tua kami berdua adalah pendeta senior. Jemaat gereja yang dulu orang tua kami pimpin memang menaruh harapan besar agar ada anak kandung yang bersedia meneruskan tongkat estafet penggembalaan ini. Keluarga besar pun sepenuhnya mendukung pilihan hidup kami berdua untuk masuk ke pelayanan altar,” ungkap Arsi.

Tinggal di lingkungan tempat mereka menjadi minoritas juga tidak memicu friksi sosial. Tetangga sekitar justru menghargai dedikasi pasutri muda ini dalam menjaga tempat ibadah warisan tersebut.

“Orang tua kami merawat tempat ini sejak tahun 80-an dengan cara yang sama: berserah dan tekun. Warga kampung di sekitar sini memperlakukan kami dengan sangat baik dan rukun,” imbuh Phillip.

Menepis vonis utopis kaum gen z yang menginginkan gaji besar

Sebagai perempuan muda yang masuk kategori generasi baru, pilihan Arsi sering mengundang kerutan dahi kawan-kawan sebayanya. Berbagai survei ketenagakerjaan menunjukkan kalangan Gen Z kerap didera kecemasan finansial akut akibat ketidakpastian karier dan inflasi. Menyerahkan hidup sepenuhnya pada persembahan sukarela terdengar tidak masuk akal bagi kalkulasi masa kini.

“Dilihat dari sudut mana pun, orang luar pasti memandang kami aneh, naif, atau bahkan bodoh. Banyak kawan sebaya saya dari kalangan Gen Z yang mencemaskan tabungan hari tua, dana darurat, dan asuransi. Kalau dari kami yang sudah hampir tiga tahun menjadi fulltimer pelayan gereja, tidak pernah merasa kekurangan. Karena kami selalu percaya kalau kami membantu agama Tuhan, maka kami akan dibantu Tuhan. Utopis dan naif memang, tapi kami merasakannya sendiri,” sergah Arsi.

Saya menanyakan bagaimana mereka mengatasi situasi gawat darurat ketika saldo tabungan mereka mendekati nol rupiah. Arsi menjawab tanpa ragu sedikit pun.

“Ketika ada kebutuhan mendadak, bantuan selalu datang lewat jalan yang tidak pernah kami duga sebelumnya. Kadang jemaat mendadak datang mengantar obat atau makanan, kadang keluarga turun tangan tanpa kami minta. Kami tidak memelihara rasa panik karena kami melihat pertolongan itu nyata setiap hari,” tegasnya.

Bahagia menjadi pelayan gereja tanpa harus terjerat dengan beban kerja yang memuakkan

Bagi pasutri ini, ketenangan batin jauh melampaui gengsi status sosial pekerja kantoran. Mereka menolak ikut terseret dalam perlombaan pamer materi yang kerap menyiksa kesehatan mental pekerja kota.

Hari-hari mereka kini terisi dengan kerja fisik dan batin yang nyata: menyapu ruang ibadah, merapikan Alkitab di bangku kayu, mendengarkan keluh kesah jemaat lanjut usia, dan mendoakan warga yang terbaring sakit.

“Kami meski menjadi pasangan muda di sini, namun kami tidak pernah merasa kekurangan, puji Tuhan kami selalu cukup, meski kami berdua tidak bekerja secara normal seperti orang lain yang formal maupun informal, namun kami merasa tenang bekerja di sini, melayani umat itu pekerjaan paling menyenangkan,” pungkas Arsi.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pekerjaan Impian Cuma Omong Kosong, Bagi Gen Z Gaji Besar Lebih Penting atau liputan Muchamad Aly Reza di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version