Gen Z kerap dianggap tak loyal dan kutu loncat, karena suka pindah-pindah kantor. Namun, bagi mereka itu tak masalah; lebih baik mulai dari nol ketimbang mengorbankan kewarasan di kantor toksik.
***
Dalam tiga tahun terakhir, Rina (27) sudah dua kali pindah kantor. Karier profesionalnya dimulai di sebuah perusahaan startup di Jogja tak lama setelah ia lulus kuliah.
Hanya bertahan sembilan bulan, ia angkat kaki dan pindah menjadi staf sales di sebuah perusahaan kecantikan.
Di tempat kedua ini, ia cuma sanggup bertahan setahun lebih sedikit, sebelum akhirnya kembali menyodorkan surat pengunduran diri.
“Makanya, aku sendiri nggak masalah disebut kutu loncat,” ujar Rina, Rabu (14/10/2026).
Kini, pekerja Gen Z ini masih berstatus pengangguran dan sekadar mengandalkan proyek freelance dari beberapa relasinya.
Diceramahi soal loyalitas
Bagi generasi yang lebih tua, rekam jejak Rina dianggap sebagai aib.
Di mata mereka, ia adalah representasi dari anak muda, terutama Gen Z, yang bermental “kutu loncat”–pekerja yang tak bisa diam, tak punya loyalitas, dan dicap tidak akan pernah bisa berkembang.
“Biasanya sih boomers yang sering ngomong gitu,” kata Rina.
Rina bercerita, stigma itu dihadapinya langsung saat menyerahkan surat resign di perusahaan terakhir. Alih-alih langsung ditandatangani, surat itu sempat ditahan.
Atasannya justru menceramahinya panjang lebar soal betapa pentingnya sebuah loyalitas pada perusahaan. Sang bos menasihati bahwa pekerja yang terlalu pilih-pilih dan hobi pindah tempat akan hancur kariernya, karena pada akhirnya ia harus terus-menerus memulai semuanya dari nol.
“Sampai aku sendiri nggak tahu. Dia itu menahan biar aku nggak jadi resign, atau memang karena meluapkan kekesalan aja dengan ngata-ngatain,” kisahnya.
Ada alasan masuk akal di balik keputusan resign
Padahal, Rina punya alasan yang kuat di balik setiap keputusannya. Di startup pertamanya, lingkungan pertemanannya sebenarnya sangat menyenangkan. Gaji pas-pasan ala staf baru pun tak terlalu ia persoalkan.
Masalahnya ada pada kepastian status. Ia hanya dikontrak jangka pendek tanpa kejelasan jenjang karier. Ketika sembilan bulan berlalu, kontraknya memang habis.
Menyebutnya tidak loyal sebenarnya sangat salah kaprah. Sebab, ia pergi lantaran kontraknya memang sudah habis, dan ia tak tertarik memperpanjannya.
“Jadi dibilang resign pun juga keliru, kan emang habis kontrak,” tegas Gen Z ini.
Sementara di perusahaan keduanya, situasinya berbalik. Secara prospek, tempat itu menjanjikan. Namun, ekosistem di dalamnya sangat toksik.
Rina dikelilingi oleh rekan kerja yang hobi saling sikut, atasan yang rewel, hingga beban kerja yang sama sekali tidak masuk akal. Bertahan di sana, bagi Rina, cuma bikin fisik dan mental jadi tak sehat.
Gen Z resign bukan karena tak tahan banting
Apa yang dialami Rina adalah potret dari dunia kerja hari ini. Anak muda masa kini memang punya kecenderungan untuk tak berlama-lama di satu kantor.
Survei Gateway Commercial Finance terhadap lebih dari 1.000 responden, misalnya, menemukan bahwa rata-rata pekerja Gen Z hanya bertahan sekitar 1,8 tahun di satu tempat kerja.
Bahkan, hanya seperempat dari mereka yang sudi berkomitmen untuk bertahan dalam jangka panjang di perusahaan saat ini.
Keinginan untuk angkat kaki ini juga terekam jelas dalam survei Jakpat pada Februari 2024. Survei tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 69 persen pekerja mengaku sudah berencana resign dari pekerjaannya (saat survei dilakukan), meskipun mayoritas belum menentukan waktu pastinya.
Lantas, apakah ini membuktikan bahwa anak muda sekarang bermental tempe? Temuan Deloitte justru membantah keras tersebut.
Tingginya angka resign pada Gen Z bukan karena mereka “tidak tahan banting,” tapi karena pergeseran nilai kerja. Anak muda saat ini menolak berkompromi ketika terjadi ketidaksesuaian ekstrem antara ekspektasi dengan realitas eksploitatif di meja kantor.
Bagi Gen Z, kewarasan di atas segalanya
Bagi Rina, loyalitas buta pada korporat adalah omong kosong peninggalan masa lalu. Ancaman soal “harus memulai lagi dari nol” yang dilontarkan mantan bosnya sama sekali tak lagi terdengar menakutkan.
Ia amat sadar, memulai karier dari awal di tempat yang memanusiakan manusia jauh lebih baik ketimbang harus mempertahankan posisi di tempat yang pelan-pelan merusak mentalnya.
“Buat apa dipuji sebagai karyawan loyal, jika setiap pagi ia harus menahan mual sebelum berangkat ke kantor,” pungkasnya.
Penulis: Ahma Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Gen Z Memilih Sisihkan Gaji buat Self Reward daripada Nabung, Dicap Boros tapi Jadi Kemewahan Terakhir In This Economy atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan