ADVERTISEMENT

Gen Z Memilih Sisihkan Gaji buat Self Reward daripada Nabung, Dicap Boros tapi Jadi Kemewahan Terakhir In This Economy

Gen Z, Tabungan.MOJOK.CO

Bagi pekerja Gen Z, menabung terasa mustahil di tengah gaji UMR yang pas-pasan. Sehingga, doomspending alias “menghamburkan” uang hari ini menjadi pelarian untuk tetap waras.

***

ADVERTISEMENT

Di kantornya yang terletak di kawasan Sleman, Kinasih (25) adalah karyawan paling muda. Status ini sering kali membuatnya menjadi sasaran empuk pertanyaan interogatif dari rekan kerja yang lebih senior. 

“Sudah punya tabungan berapa?”

“Gaji bulan ini sudah disisihkan buat nabung, kan?”

Kondisi makin menyebalkan ketika Kinasih ketahuan membeli barang yang sedikit mahal, atau memegang tiket konser musisi idolanya. Nasihat bernada cibiran otomatis keluar dari mulut para senior. 

Ia langsung dicap sebagai representasi Gen Z yang tidak tahu prioritas. Hobi menghambur-hamburkan uang, dan lebih memilih boros ketimbang memikirkan masa depan.

“Padahal nabung nggak nabung tetap miskin,” kata Kinasih, Rabu (14/10/2026).

Stigma ini memang sudah menempel erat pada anak muda masa kini. Banyak generasi di atasnya menganggap Gen Z terlalu gampang mengeluarkan uang untuk kesenangan instan yang dibalut dengan dalih self reward.

Fenomena doomspending di kalangan Gen Z

Di mata para pakar keuangan, apa yang dilakukan Kinasih dan jutaan anak muda lainnya disebut doomspending. Ini merujuk pada perilaku menghabiskan uang untuk barang atau pengalaman yang memberi kepuasan instan, justru karena mereka merasa pesimistis dan kehilangan kendali atas kondisi ekonominya di masa depan.

ADVERTISEMENT

Ketidakpastian ekonomi yang terus membayangi, ancaman gelombang PHK, inflasi yang tidak masuk akal, hingga gejolak politik, membuat anak muda merasa masa depan terlalu suram untuk direncanakan. 

Bagi sebagian Gen Z, menabung perlahan terasa sebagai aktivitas yang sia-sia.

Mereka merasa kekhawatiran finansial yang mereka hadapi sehari-hari tidak pernah benar-benar dipahami oleh generasi sebelumnya. Nasihat-nasihat keuangan konvensional tentang pentingnya membeli rumah atau berinvestasi dianggap sudah tidak relevan dengan realitas kehidupan yang mereka jalani hari ini.

Anggapan ini didukung oleh sebuah survei yang dilakukan pengembang aplikasi finansial Frich, yang menemukan bahwa 47 persen responden Gen Z sama sekali tidak memiliki dana darurat. Temuan yang diperoleh melalui analisis terhadap satu juta pengguna tersebut membuktikan betapa rentannya kondisi keuangan anak muda saat ini.

Self reward adalah cara tetap waras

Namun, rentan bukan berarti bodoh. Kinasih sangat sadar dengan kondisi keuangannya. Ia punya hitung-hitungannya sendiri: menabung atau tidak menabung, ia akan tetap miskin.

Bagaimana tidak, gajinya sebagai pekerja di Sleman hanya berkisar di angka UMR. Sementara itu, biaya hidup di Jogja dan sekitarnya terus merangkak naik. 

Ditambah lagi, Kinasih adalah seorang sandwich generation. Setiap kali hari gajian tiba, uangnya hanya numpang lewat. Pos-pos pengeluaran sudah terkunci buat bayar uang kos, jatah makan dan transportasi harian, serta kewajiban mentransfer uang bulanan untuk orang tua di kampung.

“Jadi tiap gajian kayak cuma numpang lewat. Nggak ada sisa buat ditabung,” ujar pekerja Gen Z ini.

Karena memang sudah mentok, ia memilih merayakan sisa uang recehnya untuk self reward. Mekanisme pelarian ini ia lakukan semata-mata agar dirinya tetap waras dalam menjalani rutinitas sebagai pekerja.

Bentuk self reward Kinasih sebenarnya jauh dari kata mewah. Ia hanya sesekali makan enak di tempat yang agak mahal. Di waktu lain, ia membeli barang yang sudah lama tertahan di keranjang e-commerce. Atau sekadar belanja bahan makanan agak banyak di swalayan untuk dieksekusi menjadi menu masakan viral di kamar kosnya.

“Jadi nggak tiap hari ngonser juga kali.”

Gen Z nabung bukan buat masa depan

Kinasih sebenarnya bisa saja menabung, tetapi tujuannya bukan untuk masa depan berjangka panjang. Ia menabung untuk kesenangan sesaat di masa kini. 

Misalnya, ia bercerita pernah rela berhemat mati-matian selama enam bulan demi bisa membeli tiket konser K-Pop. Ia menahan keinginan self reward rutin bulanan agar bisa mendapatkan self reward yang lebih besar.

Kenyataan ini juga diamini oleh Dias (25), seorang pekerja Gen Z yang juga merantau di Sleman. Ia punya alasan yang persis sama dengan Kinasih soal keputusannya memilih self reward alih-alih menabung untuk masa depannya.

Bagi Dias, menabung di era ekonomi saat ini adalah sebuah kemustahilan bagi kelas pekerja bawah. Ia sudah berhitung bahwa kebiasaan menabung hanya bisa ia lakukan jika dua syarat utama terpenuhi. 

“Pertama, gajinya kalau gajiku tiba-tiba naik secara signifikan. Setidaknya dua kali lipat dari UMR yang pas-pasan hari ini,” ujar Dias, menjelaskan syarat pertama. 

“Syarat kedua, kalau aku sudah sepenuhnya lepas dari tanggungan keluarga.”

Menurutnya, selama kedua syarat itu belum terwujud, memaksakan diri untuk hidup super irit hanya akan menambah beban stres tanpa mengubah status sosialnya. Di tengah sistem ekonomi yang membuat pekerja susah kaya, memanjakan diri sendiri lewat self reward adalah satu-satunya kemewahan terakhir yang masih bisa ia genggam.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.