Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Ilustrasi perantau (Mojok.co)

Di desa, standard untuk mengukur bakti seorang anak sering kali terbatas pada kehadiran fisik. Sejauh apa pun kamu merantau, dan sebesar apa pun gaji yang kamu kirimkan ke oran tua di kampung, semuanya seolah tak bernilai jika batang hidungmu tak terlihat saat keluarga sedang punya hajat.

Bagi masyarakat desa, “pulang” adalah kata kunci. Ketika seorang anak rantau tak bisa pulang di momen-momen krusial, label sebagai anak yang “lupa daratan”, terlalu mendewakan pekerjaan, hingga cap mengerikan seperti anak durhaka akan sangat mudah disematkan oleh tetangga maupun kerabat jauh. 

Mereka yang nyinyir ini tak pernah peduli, atau tak mau tahu, bahwa di balik ketidakhadiran fisik itu, ada keringat yang diperas habis-habisan demi menghidupi keluarga.

Dicap durhaka oleh tetangga di desa saat ibu sakit

Realitas pahit inilah dialami oleh Amin (29), seorang pekerja perantauan di Cikarang. Beberapa bulan lalu, ibunya jatuh sakit dan harus menjalani rawat jalan di rumah sakit. 

Di desanya, ada tradisi ngretakne, yakni menjenguk tetangga yang baru pulang dari rumah sakit secara beramai-ramai. Momen berkumpul ini rupanya berubah menjadi ajang ngrasani.

Saat itu, Amin tak bisa pulang karena urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, sekaligus sisa uangnya sudah habis ditransfer untuk biaya berobat sang ibu. Namun, tetangga dan saudara jauh yang datang menjenguk justru sibuk mempertanyakan keberadaannya.

“Adik saya malam-malam chat, ngabarin kalau Bude dan beberapa tetangga nyindir saya. Katanya saya ini anak laki-laki pertama kok nggak ada pedulinya sama orang tua sakit, malah sibuk nyari uang terus di kota,” cerita Amin, Jumat (31/7/2026).

Mendengar kabar dari adiknya itu, Amin hanya bisa menelan ludah dan memendam amarahnya sendirian. Mereka yang sibuk mencibir itu tidak pernah tahu bahwa seluruh tagihan rumah sakit dan tetek bengek lainnya dibayar lunas dari gajinya. 

Demi menanggung semua itu, Amin harus rela memotong jatah makannya sendiri dan bertahan dengan menu seadanya di perantauan.

“Jujur saja sakit mendengarnya. Tapi ya percuma soalnya orang-orang di desa juga nggak bakal peduliin kita.”

Yang paling lantang nyinyir biasanya yang paling nol kontribusi

Mendengar keluh kesah Amin, ingatan saya seketika terlempar pada kejadian serupa yang pernah saya alami sendiri beberapa tahun silam. Konteksnya berbeda, yakni saat persiapan pernikahan adik saya di desa.

Selama hari-hari sibuk menjelang hari H, masa di mana tetangga dan saudara berkumpul untuk rewang, saya tidak bisa pulang. Saya baru bisa hadir tepat pada hari akad dan resepsi karena urusan pekerjaan di perantauan.

Ketidakhadiran saya di hari-hari persiapan itu rupanya menjadi gunjingan tetangga di desa. Saya dicap tidak sayang adik, tidak peduli pada keluarga, bahkan dituduh iri karena dilangkahi menikah lebih dulu. 

Ironisnya, saudara-saudara jauh yang paling kencang menyuarakan cibiran itu sama sekali tidak keluar uang sepeser pun untuk acara tersebut. Padahal, mereka tidak pernah tahu bahwa sebagian besar biaya katering, sewa tenda, hingga printilan lain, saya yang ikut menanggungnya.

Pulang ke desa juga butuh biaya besar

Realitas bahwa “pulang kampung tidak semudah omongan tetangga” juga diamini betul oleh Mukhlis, seorang perantau yang kini bekerja di Tangerang. Bagi Mukhlis, orang-orang di kampung sering kali gagal memahami birokrasi keras ala budak korporat dan kejamnya ongkos sosial di perantauan.

“Orang kampung itu mikirnya kalau kita niat, ya pasti bisa pulang. Mereka nggak tahu kalau di kantoran, bahkan pabrik juga, cuti itu barang mewah,” ujarnya, Minggu (2/8/2026).

“Kadang sudah diajukan dari bulan lalu, H-1 bisa dibatalkan sepihak karena ada target mendadak dari atasan. Kita ini cuma pion, kalau ngelawan ya dipecat,” imbuh Mukhlis.

Lebih dari sekadar urusan izin atasan, Mukhlis menjelaskan alasan paling masuk akal mengapa perantau malas pulang jika bukan di momen Lebaran. Menurutnya, ada tuntutan tak tertulis yang sangat menguras isi dompet.

Pulang ke desa bukan sekadar membeli tiket bus atau kereta api. Saat seorang perantau pulang, ada ekspektasi yang menanti, mulai dari membawa oleh-oleh untuk tetangga, mentraktir kawan-kawan lama yang mengira kita sukses besar di kota, hingga kewajiban nyangoni para keponakan yang jumlahnya sangat banyak.

“Kalau bukan pas Lebaran yang ada uang THR, ongkos pulang itu bisa bikin bangkrut, Mas. Tiket bolak-balik, belum lagi biaya nyangoni sana-sini.”

Berdamai dengan cap “anak lupa ortu”

Kini, Mukhlis mewakili suara banyak perantau yang memilih bersikap masa bodoh. Ia menolak tunduk pada tekanan sosial dari tetangga di desa dan kerabat yang hanya pandai menilai dari luar.

“Mending saya dicap anak durhaka karena jarang kelihatan batang hidungnya. Biarin aja mereka ngomong sampai berbusa,” kata dia.

Di balik kerasnya hidup di kota orang, para perantau ini sadar bahwa mereka tidak akan pernah bisa memuaskan standard sosial semua orang di kampung halamannya. Bagi Mukhlis, biarlah dicibir, biarlah dianggap tak tahu adat. Sebab pada akhirnya, bakti seorang anak rantau nyatanya tidak selalu berwujud kehadiran fisik.

“Bagi saya, selama kebutuhan orang tua tercukupi, saya sudah bahagia. Toh, orang tua yang paling mengerti saya juga mengerti keadaan anaknya di kota,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version