ADVERTISEMENT

Dilema Bapak Muda tiap Piket di Pos Ronda: Tahan Capek, Obrolan Tak Nyambung, dan Serba Salah

Dilema bapak-bapak di pos ronda MOJOK.CO

Memenuhi piket jaga di pos ronda menjadi tanggung jawab sosial mulia Ada yang menjalaninya dengan riang gembira. Tapi ada juga yang melakukannya dengan penuh dilema, terutama di kalangan bapak muda.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Suasana sebuah kampung di Sidoarjo, Jawa Timur, sudah berubah hening. Pintu-pintu rumah sudah tertutup. 

Sebagian banyak warga sudah terlelap di kasur hangat masing-masing. Sementara itu, empat orang bapak-bapak tengah bermain catur untuk mengusir kebosanan di pos ronda. 

Satu dari empat bapak-bapak ronda tersebut adalah Fakhrur, bapak-bapak muda usia 30-an tahun. Matanya sudah sayu karena mengantuk. Namun, ia bersikeras agar tidak ketiduran, di saat bapak-bapak ronda yang lain sedang asyik-asyiknya memainkan papan catur. 

Dilema bapak muda di pos ronda: capek kerja tapi tidak ada alasan tidur lebih awal

“Aku mulai dapat piket buat di pos ronda itu sejak menikah, berkeluarga. Karena mungkin sudah dianggap dewasa lah. Bisa memikul tanggung jawab berpartisipasi dalam keamanan desa,” ujar Fakhrur, Kamis (17/9/2026) malam melalui sambungan telepon. 

Sebagai pekerja pabrik non-to-five, ada dilema tersendiri tiap tiba jadwal piketnya untuk ke pos ronda. Sering kali Fakhrur pulang dengan kondisi badan yang sudah kecapekan. Oleh karena itu, ia membayangkan sepulang dari pabrik bisa istirahat dengan jenak bersama keluarga di rumah. 

Namun, capek karena pekerjaan jelas tidak bisa menjadi alasan untuk absen bertugas bersama bapak-bapak ronda lain. Jangankan absen, mengeluh capek di depan bapak-bapak ronda yang lain saja tidak bisa leluasa kok. Karena jika bilang capek kerja, pasti akan disahut: Kayak yang kerja dan capek cuma kamu aja. 

Alhasil, di pos ronda, Fakhrur harus kuat-kuat menahan pegal-pegal di sekujur badan. Hanya memang, ia pasti kepayahan kalau kantuk berat sudah menyerang. Sementara ia tidak punya alasan untuk tidur lebih awal. Sebab, kalau bapak-bapak ronda lain masih asyik main catur atau mengobrol, maka Fakhrur harus mengikuti ritme mereka pula. 

“Kalau kelihatan sudah sipit banget karena ngantuk, pasti kena juga, ‘Jam segini kok sudah ngantuk’,” kata Fakhrur. 

Disalahpahami istri vs dirasani tongkrongan bapak-bapak pos ronda

Fakhrur memang masih pasangan baru. Istrinya juga bukan warga setempat, tapi dari daerah luar. Maka tidak heran jika aktivitas di pos ronda kemudian membuatnya terantuk persoalan salah paham. 

Bagaimana tidak. Ketika ia baru siap-siap ke pos ronda, jika mood istrinya sedang tidak bagus, maka Fakhrur bisa dituding “Memang lebih betah di tongkrongan ketimbang sama keluarga di rumah.”

“Hadeh. Padahal aku di pos ronda juga kan nggak setiap hari. Hanya waktu piket, satu kali dalam seminggu. Di kondisi tertentu, misalnya menggantikan warga lain, ya bisa dua kali,” tutur Fakhrur. 

“Aku sendiri, pas lagi capek-capeknya, ya pengin di rumah aja. Nggak bisa absen, dong. Karena kalau misalnya bikin-bikin alasan lah biar nggak datang ke pos, nanti malah jadi bahan rasan-rasan bapak-bapak di sana,” sambungnya. 

Selain persoalan tanggung jawab sosial, kepentingan Fakhrur mencoba patuh pada jadwal piket rondanya adalah karena ia ingin memberi kesan “srawung”. Dengan begitu, ia bisa mengamankan posisinya dan keluarga agar tidak menjadi sasaran rasan-rasan. 

Jadi serba dilema memang. Kalau berangkat piket kena sinis istri. Sementara jika absen, malah jadi bahan rasan-rasan bapak-bapak ronda yang lain. Belum lagi bakal kena ceng-cengan lawas sebagai suami takut istri. 

“Gimana ya, tapi memang ada bapak-bapak yang semangat ke pos ronda itu karena pengin menghindari rumah. Pengin nongkrong-nongkrong aja sama teman-teman. Jadi wajar kalau ada orang sepertiku yang agak berat keluar rumah, jadi ceng-cengan,” tutur Fakhrur. 

Obrolan sering tidak nyambung

Dalam pengalaman Fakhrur, catur atau main remi menjadi aktivitas paling efektif agar antara bapak-bapak bisa nyambung satu sama lain. Selain itu mungkin siaran tinju atau MMA. 

“Kalau bola, cuma kalau Timnas main bapak-bapak lain bisa nyambung. Sementara aku kalau tepat jaga pas ada Liga Inggris (misalnya), kan aku nonton, ya nggak nyambung lah,” ujar Fakhrur. 

Jika catur maupun main remi sudah berakhir karena sudah sama-sama bosan, maka Fakhrur harus meladeni obrolan random bapak-bapak di pos ronda, yang sering kali memang terkesan asla nyeplos saja.

Obrolan soal konspirasi, politik, gosip artis, hingga nostalgia masa muda bisa berlangsung sangat gayeng di pos ronda. Di titik itu, Fakhrur hanya bisa “iya-iya” saja. Obrolan random tersebut, bagi Fakhrur, toh lebih menarik ketimbang para bapak-bapak ini rasan-rasan soal warga desa tertentu. 

“Kalau toh ada satu obrolan yang aku benar-benar nyambung, ya ngomongin presiden yang hobi pidato tanpa teks tapi ngelantur, yang program makan bergizinya membuat siswa-siswa keracunan. Itu sih,” ujar Fakhrur. 

Bapak-bapak ronda: orang paling disalahkan kalau ada kemalingan

Meski dengan segala dilema tersebut, Fakhrur menyebut, jadwal ronda memang sudah semestinya selalu ada. Pasalnya, ada masa ketika sistem ronda di kampung Fakhrur sangat longgar. Kadang ada yang berjaga, tapi kadang juga sepi sama sekali. 

Pada saat itu, momen ketika pos ronda sepi dan kampung luput dari penjagaan, menjadi celah bagi maling untuk melancarkan aksi pencurian. Kampung geger. Dan jelas saja, bapak-bapak ronda menjadi orang yang paling disalahkan atas kemalingan tersebut. 

“Ini biasanya yang jaga di pos ronda kok nggak ada piket lagi gimana.”

Lah wong sekarang udah nggak ada lagi yang ngeronda kok.”

“Harus diketatkan lagi ini piket rondanya.” Begitu celetukan-celetukan warga kampung Fakhrur. 

“Pokoknya bapak-bapak ronda ini penuh dilema lah. Kalau sedang jaga ya diserang cepak dan bosen, sama disalahpahami istri karena dikira nggak betah di rumah. Tapi kalau sedang longgar, maling bisa leluasa membobol kampung,” tutup Fakhrur. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effndi

BACA JUGA: Menyesal Tak Tertular Skill Hidup Bapak karena Kesan Pekerjaan Kasar, Padahal Berguna buat Hidup Laki-laki Dewasa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version