ADVERTISEMENT

Lelahnya Perempuan Kerja di Luar Negeri: Gaji Banyak tapi Tak Bisa Dinikmati, Masih Dicap Buruk sama Tetangga

Derita TKI Perempuan, jadi omongan tetangga.MOJOK.CO

TKI perempuan itu punya beban ganda: sudah nggak menikmati hasil jerih payah, itu pun masih dicap negatif sama tetangga di kampung. Tidak sukses di luar negeri dibilang gagal, kalau sukses difitnah kerja nggak halal.

***

Himawan (25) kehabisan akal. Rasa bingung dan amarah bercampur aduk setiap kali ia harus menjelaskan pekerjaan kakaknya di Jepang kepada kedua orang tuanya yang sudah sepuh

Kakak perempuannya itu berangkat tahun lalu, bekerja secara resmi di sebuah perusahaan teknologi pangan. Sebuah pekerjaan profesional, yang menurut Awan, punya standard operasional yang jelas. 

Namun, berkali-kali dijelaskan pun, orang tuanya tetap sulit memahami rutinitas sang anak di negeri orang. Barangkali memang faktor usia yang membuat mereka gagap membayangkan industri modern.

Namun, amarahnya memuncak pada satu kejadian belum lama ini. Orang tuanya tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat dadanya sesak: 

“Kakakmu di sana kerjanya halal, kan?”

Awan kaget.

Usut punya usut, pikiran orang tuanya telah diracuni oleh omongan sekitar. Entah dari mana asalnya, mereka mendapat cerita dari tetangga bahwa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) perempuan di Jepang sering kali melakoni pekerjaan “aneh-aneh“, berkonotasi asusila. 

Alih-alih bangga anaknya bisa berkarier di luar negeri, keluarga ini justru dihantui kecemasan akibat stigma kotor dari lingkungan terdekat.

“Kayaknya tetangga emang kebanyakan nonton bokep. Dikiranya kehidupan di sana persis kayak di film-film itu,” keluh Awan, saat ditemui beberapa hari lalu.

TKI perempuan kalau sukses sedikit dituduh jual diri

Apa yang dirasakan Himawan dan keluarganya jelas bukan cerita baru. Kakak Himawan mungkin masih berada di posisi yang sedikit aman karena tidak mendengar langsung gunjingan itu. 

Di luar sana, narasi tentang perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) selalu punya pola yang sama.

Beberapa waktu lalu, di sebuah grup Facebook, sempat ramai curhatan seorang TKI perempuan yang bekerja di pabrik perikanan di Jepang. Ia menanggung stigma negatif dari warga kampungnya dengan alasan yang nyaris sama dengan kakak Himawan.

“Perempuan merantau ke luar negeri selalu dikira pasti kerjanya tidak benar,” tulis postingan itu.

Membaca kolom komentar di unggahan tersebut justru membuka tabir realitas yang lebih miris. Seorang mantan TKI yang pernah merantau ke Kuwait ikut membagikan pengalaman kelamnya. 

Bertahun-tahun ia bekerja keras secara halal, menabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya mampu merenovasi rumah orang tuanya di kampung menjadi jauh lebih megah.

Sialnya, jerih payah itu tidak disambut dengan kekaguman. Warga desa justru melempar fitnah keji. Karena dianggap mendadak sukses dan punya banyak uang, ia dituduh “menjual diri” kepada majikannya di Arab sana. 

Menurut akun tersebut, bagi masyarakat dengan budaya patriarki yang kental, kesuksesan finansial seorang perempuan, apalagi yang merantau jauh dari pandangan keluarga, nyaris selalu direspons dengan kecurigaan dan penghakiman sepihak.

Gaji TKI memang belasan juta, tapi cuma “numpang lewat”

Di sisi lain, derita perempuan yang bekerja di luar negeri bukan cuma soal kejamnya mulut tetangga. Ada realitas lain yang jarang dibicarakan orang-orang yang gemar memuja gelar “pahlawan devisa”.

Nyatanya, gaji besar yang mereka terima, tak pernah benar-benar bisa mereka nikmati.

Kenyataan ini, salah satunya, dialami oleh Nur. Sejak tahun 2023, ia bekerja sebagai caregiver (perawat lansia) di Jepang. Gajinya sangat lumayan, mencapai 200 ribu yen per bulan. Jika dikonversi ke dalam rupiah, angkanya menembus kisaran 12 juta rupiah. 

Secara matematis, itu adalah jumlah yang sangat besar, apalagi bagi ukuran pekerja asal daerah di Jawa Barat.

“Itu lebih dari cukup. Sangat cukup untuk menghidupi satu keluarga,” kisah Nur saat dihubungi Mojok, Selasa (15/9/2026) lalu.

Namun, besarnya gaji Nur sebagai TKI berbanding lurus dengan besarnya beban eksploitasi finansial dari keluarganya. Uang Rp12 juta itu nyatanya hanya sekadar angka yang numpang lewat di rekening. 

Hampir seluruh gajinya habis ditransfer ke orang tua di kampung.

Nur harus membiayai sekolah dua adiknya–satu masih duduk di bangku SMA dan tahun depan butuh biaya besar untuk masuk kuliah, sementara satu lagi sudah menjadi mahasiswa aktif. 

Belum lagi uang bulanan untuk mencukupi kebutuhan harian dapur keluarga dan mencicil biaya pembangunan rumah orang tuanya. Nur hanya bisa menyisihkan remah-remah gajinya untuk ditabung demi masa depannya sendiri. Ia bekerja sekeras tenaga, tapi hasil keringatnya diperas untuk menghidupi orang lain.

“Tapi ini kayaknya memang jadi konsekuensi anak pertama,” ujar TKI perempuan ini.

Tak bisa dimungkiri, mulut tetangga memang kejam

Meski hidupnya sudah dihabiskan untuk menghidupi keluarga, nasib Nur tidak lantas terbebas dari masalah. Ia mengaku memang belum pernah mendengar secara langsung fitnah atau cap jelek dari tetangganya di desa. Entah karena memang tidak ada yang berani menggunjing di belakangnya, atau sekadar ia tidak tahu saja karena jarak ribuan kilometer yang membentang.

Namun, imbas dari stigma masyarakat tentang perempuan yang merantau ke luar negeri itu tetap merembes masuk dan merusak kehidupan personalnya. 

Hubungan asmaranya dengan sang pacar, misalnya, kerap diwarnai pasang surut yang melelahkan. Mereka sering bertengkar hanya karena urusan pekerjaan.

Sang pacar sering kali menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan terhadap pekerjaan Nur di Jepang. Kekhawatiran itu bukan soal kesehatan fisik Nur sebagai caregiver. Ketakutan tak beralasan, yang menurutnya, berakar dari stigma negatif di masyarakat. 

Kekasihnya termakan asumsi tak berdasar bahwa perempuan yang bekerja jauh dari pengawasan keluarga sangat rentan terjerumus pada hal-hal yang menyimpang.

“Kami ini serba salah. Tidak sukses dibilang gagal, tapi kalau sukses dibilang kerja aneh-aneh. Sekalinya kami viral itu cuma saat kami disiksa atau meninggal saja di negeri orang,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ibu-Ibu Rembang “Dipaksa” Kerja Pabrik karena Para Suami Tak Bisa Lagi Jadi TKI di Malaysia, Kaget Ternyata Kerja Secapek Itu, Baru 3 Hari Langsung Berhenti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.