“Aku mau hidup sama kamu, kita di sini saling memperjuangkan boleh dong?” Ucapan Maurin pada Moko (dalam film 1 Kakak 7 Ponakan) itu membuat banyak orang, terutama laki-laki, berpikir: emang ada ya di dunia nyata orang yang mau dengan tulus menemani pasangannya yang sandwich generation? Dan hidup kemudian menjadi baik-baik saja mesti dalam tekanan ekonomi luar biasa.
Sayangnya, realitas hidup tidak seindah di film-film. Menikah/punya pasangan sandwich generation tidak akan serta-merta memberi kisah cinta rumah tangga yang romantis dan heroik. Tapi justru bisa menjadi neraka dunia. Apalagi jika punya mertua toxic.
Seperti sebuah video viral yang baru-baru ini saya temukan di Instagram. Seorang perempuan, tengah hamil, “terpaksa” harus adu mulut dengan sang ibu mertua toxic.
Ibu mertua menuntut agar pemberian uang dari anak laki-lakinya (suami si perempuan). Sementara si perempuan mengaku, kebutuhan rumah tangga mereka juga sedang banyak, uang suami pun sudah menipis karena sebelumnya sudah dibagi ke ibu mertuanya tersebut.
Perdebatan sengit terjadi. Saling klaim, siapa yang paling berhak menerima uang dari sang si laki-laki: istri dan anak, atau orang tua kandungnya (mertua toxic)? Rumit. Depresif.
Banyak netizen mengaku semakin tidak tertarik untuk menikah usai melihat video tersebut. Sementara beberapa yang punya cerita serupa dengan sukarela berbagi derita: dan sepakat menyebut rumah tangga mereka bak neraka dunia.
Mantap menikahi pasangan sandwich generation karena percaya hidup akan baik-baik saja dan perasaan tak tega
Salah satu yang harus menjalani neraka dunia itu adalah Andin, bukan nama sebenarnya. Perempuan 29 tahun asal Jawa Barat.
Ia mengenal pasangannya (suaminya saat ini) sejak kuliah. Andin tahu persis kalau pasangannya tersebut adalah sandwich generation.
“Dia DO sejak semester 2. Pilih kerja, demi bantu ibu dan adiknya. Ibunya kan single mom dan nggak kerja,” ungkap Andin, Minggu (1/2//2026).
Sebenarnya, ketika Andin sudah lulus kuliah dan menjadi pekerja kantoran, pasangannya sempat meminta Andin untuk mencari laki-laki yang lebih mapan. Karena jika menikah dengan laki-laki sandwich generation, hidup Andin pasti akan penuh tekanan, terutama di mental.
“Tapi aku tetap yakin menikah. Karena kalau lihat etos kerja dia, aku yakin aja hidup kami pasti baik-baik saja. Toh aku juga bakal kerja sendiri,” ungkapnya. Mereka akhirnya menikah pada usia 27 tahun.
Sedangkan Martino (27), bukan nama asli, memilih menikahi istrinya di usia muda (25 tahun) lebih karena perasaan tak tega. Bapaknya sakit-sakitan, ibunya IRT biasa, dan punya kakak tidak tahu diri.
“Kakaknya itu dikit-dikit minta uang istri gua. Buat bayar utang lah, apa lah,” jelas laki-laki yang juga berasal dari Jawa Barat itu.
Susah menyadarkan pasangan sandwich generation kalau dia berhak bahagia
Pernikahan Andin memang dimulai dengan manis. Romantis dan heroik karena saling memperjuangkan. Tapi semua berubah dengan cepat menjadi situasi-situasi runyam.
Andin mengaku tidak pernah meminta angka paten untuk uang nafkahnya. Ia terima sedikasih sang suami saja. Andin juga tidak masalah jika sang suami masih harus membagi uang untuk ibu dan adiknya.
Hanya saja, jadi agak mengganggu ketika uang Andin yang seharusnya digunakan untuk menambal keperluan rumah tangga, harus dilolosi juga untuk menyokong mertua.
“Karena kalau suami kehabisan duit, sementara ibunya (mertua Andin) minta uang lagi, dia pasti ngasihnya ke aku,” keluh Andin. Alhasil, banyak kebutuhan rumah tangga atau keinginan pribadi Andin dan suaminya harus tertunda terlebih dulu.
Lama-lama Andin muak. Ia berkali-kali mencoba menyadarkan sang suami—yang sandwich generation itu—kalau ia berhak bahagia dengan hidupnya sendiri: sekali saja bersikap egois dan tegas soal batasan antara memberi orang tua dan hak pada istri.
“Tapi aku ini anak pertama. Ibu dulu yang ngerawat aku. Jadi aku nggak bisa kalau nggak ngurus dia.” Begitu selalu jawaban suami Andin. Sementara Andin hanya ingin sang suami bisa membagi secara fair: jatah ke ibunya berapa, ya itu yang harus dikelola sebaik-baiknya.
Pertengkaran dan perpisahan tak terhindarkan
Pada akhirnya pertengkaran pun tidak terhindarkan. Andin dan sang suami sebenarnya tinggal sendiri (ngontrak). Karena sejak awal ia memang ingin tidak hidup satu atap dengan orang tua masing-masing.
Situasinya: suatu malam, Andin menguping pembicaraan via telepon antara sang suami dan ibunya. Itu pada bulan-bulan ketika suami Andin sedikit menurut padanya: mulai membatasi, memprioritaskan rumah tangga sendiri dulu.
“Istri kamu emang bisikan apa sampai kamu jadi tega gini sama ibu? Ibu dulu apapun yang kamu minta ibu kasih, loh!”
“Istri kamu kan kerja juga, emang uangnya buat apa? Ya kalian bisa hidup pakai itu, apa beratnya sih ngasih ibu sebagian aja. Toh kan uangmu, bukan uang istrimu.”
“Kamu loh belum punya anak, belum punya tanggungan.”
Kalimat-kalimat itu meluncur deras dari mulut ibu mertua Andin. Tentu sangat menyinggung. Sebab, bagi Andin, ini bukan perkara Andin sudah punya anak atau belum, bukan soal Andin bisa menghasilkan uang sendiri dari kerja atau tidak, tapi lebih ke prioritas tanggung jawab. Andin tidak bisa tidak memberi sang ibu mertua label toxic.
“Aku minta suamiku milih: rumah tangga sendiri atau keluarganya? Aku sudah nggak tahan dengan posisi dia sebagai sandwich generation. Dia bingung,” ucap Andin. Tapi pada akhirnya rumah tangga mereka kandas, mereka memutuskan berpisah.
Perasaan tak tega menggerogoti keuangan dan kebahagiaan rumah tangga
Kalau kisah Martino seperti ini: awalnya sang istri bekerja. Sebagai sandwich generation, ia nyaris tidak pernah punya waktu dan uang untuk diri sendiri. Uangnya selalu ia kirim ke rumah, sesekali juga diutang oleh sang kakak yang pada akhirnya tidak dibayar juga.
“Setelah menikah, gue minta istri berhenti kerja. Gue pengin dia istirahat. Gue mau bahagiain dia,” ujar Martino.
Namun, situasinya benar-benar rumit bagi Martino. Sebab, karena perasaan tak tega pula, ia pada akhirnya menggantikan posisi sang istri sebelumnya: turut menanggung biaya keluarga istri (pengobatan bapak mertua, belanja bulanan sang ibu, dan sesekali memberi utang ke kakak iparnya).
“Lebih karena keluarga istri baik. Jadi aku nggak tega kalau nggak ngasih,” ucap Martino.
Lama-lama ternyata itu menjadi berat bagi Martino. Ia memang tidak menyebutnya sebagai neraka dunia. Tapi ia tidak menampik kalau lama-lama ia terbebani. Sementara secara organik, situasi “menanggung beban mertua” sudah terlanjur mengikatnya dan sulit dilepas.
Apalagi, di sisi lain, walaupun orang tua Martino tidak membebaninya untuk memberi uang ke mereka, sering kali Martino merasa bersalah. Sebab, ia lebih sering dan lebih banyak membantu keuangan mertua ketimbang orang tuanya sendiri.
“Nggak diskusi sama istri soal ini?” Tanya saya.
“Udah, sih. Kesimpulannya, istri gue mau kerja lagi. Tapi aku kayak kasihan ke dia. Juga harus mikir nanti kalau udah punya anak gimana,” jawab Martino lesu.
Di luar sana, masih banyak orang-orang seperti Andin dan Martino: punya derita dan beban usai menikah dengan pasangan sandwich generation.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














