Pada mulanya, lowongan kerja menjadi kasir di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menjadi semacam jawaban atas kerisauan Aira (22), perempuan desa yang hanya lulusan SMA.
Aira bukannya belum pernah bekerja sama sekali. Ia pernah punya pengalaman sebagai kasir minimarket sebelum akhirnya nganggur karena kontraknya habis—dan tidak diperpanjang. Maka, adanya lowongan kasir di Kopdes Merah Putih jelas menjadi jawaban.
“Gimana ya, Mas, zaman sekarang, perempuan juga harus kerja karena ekonomi sulit. Siapa tahu dengan kerja di program pemerintah, ya bisa lah buat nambal kehidupan,” ujar perempuan asal Jawa Timur tersebut, Minggu (19/7/2026).
Aira membatasi diri: tidak hendak bercerita lebih detail soal operasional Kopdes Merah Putih tempatnya bekerja di sebuah desa di Jawa Timur. Termasuk gaji yang ia terima dan kehidupan keluarganya di desa.
Tapi, sesingkat menjalani rutinitas awal menjadi kasir di Kopdes di desanya tersebut, Aira mengaku memang harus kuat-kuatan mental. Sebab, di tengah seretnya pembeli, sekali ada pembeli yang datang eh ternyata sangat menyebalkan. Dan inilah hal-hal menyebalkan yang Aira rasakan:
Jadi bagian dari Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih: tiap buka medsos selalu malu
Aira tentu tidak tahu-menahu soal perincian dan rasionalisasi pemilihan lokasi berdirinya Koperasi Desa—yang kebanyakan ada di tempat-tempat yang cenderung jarang terjamah manusia.
“Isunya kan karena keterbatasan lahan, itu yang kutahu,” kata Aira.
Kendati tidak tahu-menahu, jujur semakin ke sini Aira sering diserang malu tiap membuka media sosial. Mau di TikTok atau Instagram, kerap muncul parodi-parodi soal lokasi terpencil Kopdes Merah Putih.
Kalau sekadar parodi Koperasi Desa berada di tengah hutan mah basic. Tapi di medsos, parodi warganet parah-parah. Ada yang koperasinya di dalam laut, di bawah air terjun, bahkan literally berada di dalam belantara ladang jagung.
“Momen latsarmil, saat para calon manajer Kopdes yel-yel seperti tentara juga kan jadi lelucon di medsos,” ungkap Aria.
Hal itu membuat Aira kerap malu-malu sendiri. Tiap keluar rumah, dengan menyandang status sebagai kasir Kopdes Merah Putih, entah kenapa Aira merasa ada saja yang menatapnya dengan tatapan penuh lelucon. Hadeh.
Orang datang ke Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih bukan karena butuh, tapi iseng
“Sejak buka, ramai pembeli nggak?”. Mendengar pertanyaan saya itu, Aira malah tersenyum meringis. Itu sudah cukup menjawab.
Tapi memang, sejauh penelusuran saya ke Kopdes Merah Putih ke beberapa desa di Jawa Timur, ada koperasi yang sejak buka di pagi hari hingga tutup tampak lengang. Hanya ada aktivitas staf toko. Bahkan ada pula yang belum sebulan buka, tapi sudah tutup (belum beroperasi lagi).
Tapi itu di desa-desa pelosok. Siapa tahu di desa lain, yang lokasinya lebih “terakses peradaban”, aktivitas ekonomi Kopdesnya sudah menggeliat.
“Ya ada ibu-ibu yang sengaja datang buat beli beras atau minyak. Tapi seringnya anak-anak muda buat iseng,” jelas Aira.
Gelagat anak-anak muda iseng ini sebenarnya sudah terbaca sejak memarkir motor. Mereka tidak akan langsung masuk. Melainkan memfoto dan memvideo bagian luar koperasi.
Tidak lama kemudian, mereka akan masuk. Tidak langsung berbelanja, tapi mengarahkan kamera dari satu rak ke rak lain. Sesekali terdengar suara cekikian. Dari cekikian itu Aira sudah bisa menebak: ah, pasti buat parodi atau konten-konten lelucon lain soal Koperasi Desa.
Diminta nyanyikan yel-yel hingga tepuk Kopdes: mau marah tapi takut jadi bumerang
“Orang-orang iseng ini memang korban parodi medsos sih,” tutur Aira.
Bagaimana tidak. Aira sebenarnya tidak masalah-masalah amat kalau mereka mau merekam-rekam bagian luar-dalam koperasi. Namun, yang paling menyebalkan adalah ketika mereka mengambil barang, lalu saat membayar di kasir tiba-tiba menodong Aira dengan permintaan aneh: “Mbak, Mbak, kasih yel-yel atau tepuk Kopdes dong.”
“Itu kan korban medsos. Karena nggak ada lah SOP nyambut pembeli dengan yel-yel atau tepuk-tepuk. SOP-nya ya standard aja,” beber Aira.
Kalau sudah begitu, Aira paling hanya tersenyum karier sembari menjelaskan kalau tidak ada yang namanya SOP nyanyikan yel-yel dan tepuk Kopdes ke setiap pembeli. Orang-orang iseng itupun hanya berseru kecewa (yang bernada meledek): “Yaaah.”
“Kadang mau marah. Karena aku ini kerja baik-baik. Nggak usah lah ganggu begitu. Mereka kan rekam wajahku juga. Tapi untung bisa jaga emosi. Karena kalau terpancing dan aku ketus, nanti viral kan aku makin malu,” ucap Aira.
Selalu kena saat Pak Presiden bicara
Di lingkaran teman-teman SMA Aira dan sejumlah pemuda desa, ada sindiran kalau orang yang kerja di Koperasi Desa Merah Putih adalah “abdi negara” alias antek-presiden. Karena memang bekerja di dalam program presiden.
Masalahnya, label tersebut seringkali berkonotasi negatif kepada Aira. Pasalnya, tiap kali Pak Presiden mengeluarkan statement yang dinilai publik kontroversial dalam pidatonya, pasti Aira kena juga. Jadi bahan roasting, baik saat bertemu teman-temannya atau di WA Group.
Aira tentu tidak bisa melawan. Ia diamkan saja. Atau paling mentok ia beri emoticon tertawa terbahak, walaupun dalam hatinya jengkel sekali.
“Iya aku ini kerja di program presiden. Tapi aku ini kan cuma butiran debu, cuma pekerja UMKM. Masa ya harus nanggung beban moral pula sama setiap pidato beliau,” pungkasnya. “Hadeeeh.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
