Tugas marbot seringkali dianggap sepele. Toh, hanya membersihkan masjid, setidaknya begitu kata sebagian orang. Namun, bagi dua pemuda rantau yang kesulitan mencari kos di Jogja, menjadi marbot masjid justru menyelamatkan hidup anak rantau.
Tidak punya tempat tinggal di Jogja
Iif (25) adalah salah satu saksi kebaikan masjid di Jogja, Masjid Al Huda membantu Iif menemukan jalan keluar dari ketiadaan tempat tinggal setelah lulus dari program sarjana di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.
Setelah lulus, Iif berencana melanjutkan kuliah lagi. Namun, jarak kampus dari tempat asalnya terlalu jauh, sehingga mau tidak mau ia harus mencari kos-kosan baru. Di sinilah letak permasalahnya.
Mencari kos di Jogja bukan perkara mudah, terutama untuk laki-laki. Kos laki-laki yang harganya murah, hampir bisa dipastikan punya fasilitas yang tidak layak. Sementara, kos laki-laki yang harganya mahal, belum tentu juga punya fasilitas layak.
Belum lagi, saat itu, Iif harus bertarung dengan banyaknya mahasiswa baru yang berburu kos-kosan di sekitar UGM—kampus tujuannya.
“Waktu mencari kos dan kontrak saat itu, aku nggak menemukan yang sesuai jarak dan harganya. Mahal gitu,” ujar pemuda asal Sumatra ini saat dihubungi Mojok, Selasa (3/2/2026).
Harga kos di Jogja yang tidak sesuai bujetnya saat itu membuat Iif sebagai anak rantau berpikir, untuk menjadi marbot yang mendapat fasilitas berupa tempat tinggal. Ia juga telah mengenal salah seorang marbot di masjid yang berlokasi di Sleman, Jogja, ini.
Iif berujar telah sering berkunjung ke Masjid Al Huda. Sesekali, ia mengisi kegiatan rutin yang diselenggarakan di masjid, bersama teman-teman marbot, atau bahkan menggantikan posisi yang berhalangan.
“Sering ngisi juga di sini, jadi tugas pengganti lah. Kadang menggantikan muazin, kadang menjadi imam juga,” jelasnya.
Dari kebiasaannya itu, Iif merasa lebih mudah untuk masuk ke dalam lingkungan masjid. Karena sudah terbiasa, ia mengaku tak mengalami kendala. Bahkan dimudahkan dengan posisinya sebagai marbot dalam kehidupan sehari-hari di Jogja.
Biaya kos di Jogja terlalu berat
Sama seperti Iif, Yusuf (27) juga sempat terkendala dalam menemukan tempat tinggal di Jogja. Mengingat dirinya berasal dari Bengkulu, pemuda yang pergi ke Jogja untuk berkuliah ini merasa harga kos di Jogja terlalu berat untuk kondisi finansialnya saat itu.
Selepas lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri di Bengkulu, Yusuf merantau ke Jogja untuk melanjutkan kuliahnya. Namun yang terjadi, tidak sama dengan ekspektasinya bahwa Jogja menawarkan kehidupan yang murah dan ramah.
Sebab, untuk bertahan hidup sehari-hari, Yusuf harus melakukan berbagai pekerjaan dalam satu waktu, termasuk berjualan di salah satu e-commerce.
“Dulu, awalnya pengin ngekos cuma lihat situasi kayaknya terlalu berat ngekos ini,” kata Yusuf.
Anak rantau yang kini berprofesi sebagai guru itu pun mengaku, masih harus meneruskan pekerjaan sampingannya yang berjualan online. Hitung-hitung menutupi kebutuhan, sebutnya. Padahal, dengan melakukan dua aktivitas ini sekaligus, Yusuf masih memiliki tanggung jawab sebagai marbot yang beraktivitas rutin mulai Subuh sampai Isya di masjid.

Sebelum Subuh berkumandang, marbot masjid sudah harus bangun untuk mempersiapkan salat Subuh berjamaah. Mereka akan membagi jadwal sebagai muazin dan imam setiap salatnya. Per hari, akan ada setidaknya dua kali tugas salat dari lima waktu yang diamanatkan kepada marbot.
Di sela-sela itu, marbot juga harus memastikan masjid selalu bersih sehingga mereka juga bertugas untuk kebersihan di lingkungan masjid. Selebihnya, akan ada kegiatan tambahan, seperti di bulan Ramadan, dengan mengajar mengaji dan mengisi tausiah.
Bertobat jalur marbot
Meskipun mengemban beberapa tugas yang tidak mudah, Yusuf menilai menjadi marbot masjid memudahkan urusan dompetnya. Selain itu, berdiam di masjid juga membantunya menghindari kemungkinan-kemungkinan akan berperilaku buruk seperti yang pernah dilakoninya di masa lampau.
Yusuf bilang, suasana masjid setidaknya mampu membuat ia merasa sadar untuk tetap baik. Meskipun harus dibayar dengan menjalani tiga kegiatan sekaligus, Yusuf merasa imbalannya setara.
Menjadi marbot di Jogja, katanya, adalah salah satu langkahnya untuk bertobat.
“Takut tidak terkontrol, takut terjun ke dunia gelap lagi. Makanya sebagai langkah buat insaf, saya pilih jadi marbot,” kata Yusuf.
Sekalipun punya berbagai kegiatan, Yusuf juga mengatakan, pengaturan waktu di Masjid Al Huda yang menjadi tempatnya tinggal cukup longgar. Kegiatan masjid memang dimulai pada waktu Subuh dengan menjadi muazin dan imam salat, dilanjutkan sampai dengan salat Isya.
Kemudian, ada kegiatan pengajian di sore hari bersama anak-anak dan masyarakat sekitar. Akan tetapi, pekerjaannya sebagai guru yang mengajar mulai pagi sampai sore juga tidak terhalang. Yusuf tetap bisa menjadi guru sembari berjualan.
Di saat yang sama, ia bisa menjadi marbot dengan menyesuaikan jadwalnya sebab masjid, sebagai rumah kedua, mempersilakan para marbotnya untuk memprioritaskan kegiatan personal lebih dulu melalui shifting tugas bersama lima marbot lainnya.
Kebaikan masjid terhadap marbot yang telah meramaikan rumah ibadah ini juga membuat Yusuf tidak mengeluarkan uang sepeser pun selama menetap di sana. Ia bisa hidup sehari-hari dan ditanggung makanannya dengan kesediaan fasilitas dari masjid, serta perhatian masyarakat sekitar.
“Kebetulan, di marbot ini sangat fleksibel, udah nggak bayar malah dibayar kadang-kadang, terus untuk makan juga nggak bingung ada yang masakin. Kadang-kadang juga didata buat memperbanyak relasi sebagai rumah kedua, selain kampung halaman,” ujar anak rantau asal Bengkulu tersebut.
“Kalau untuk pengeluaran, dari masjid sendiri, paling di-backup untuk kebutuhan makan sama alat mandi itu aja sih. Di sini disediakan sarana dapur, wifi, untuk menunjang kegiatan anak-anak masjid. Kalau untuk makan pun kadang-kadang udah ada yang ngasih, ya udah. Paling ya di sini, kalau mau jajan aja keluar uang. Jajan, bensin, nah itu nggak ditanggung sama masjid, nanggung,” jelasnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Aisyah Amira Wakang
BACA JUGA: Ketulusan Guru asal Magelang yang Mengajarkan Santri Tunarungu Mengaji, Saat Orangtua Sendiri Frustrasi atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













