Unjuk rasa atau yang kerap disebut demo seringkali lekat dengan sesuatu yang anarkis, rusuh, dan berbahaya. Namun, tidak bagi beberapa pasangan yang menjadikan demo date sebagai salah satu ide kencan yang romantis, terkini, dan revolusioner.
***
Banyak pasangan yang menghabiskan waktu bersama mungkin cukup dengan makan malam, menonton film, atau berjalan-jalan ke tempat wisata. Namun, Raka (27) dan Icha (25) punya cara berbeda untuk menikmati waktu bersama: turun ke jalan, bergabung dengan massa aksi, dan menyuarakan kritik terhadap pemerintah.
Demonstrasi #INDONESIASADAR pada Rabu (28/10/2026) di Yogyakarta menjadi pengalaman pertama Icha mengikuti aksi unjuk rasa. Bukan sekadar menemani kekasih, ia justru menemukan pengalaman baru tentang solidaritas, keberanian, dan cara mencintai negara bersama orang yang dicintainya.
Mengajak pasangan demo, bukan sekadar mengajaknya jalan-jalan
Raka punya alasan tersendiri ketika mengajak Icha mengikuti demonstrasi #INDONESIASADAR. Ia mengetahui bahwa kekasihnya belum pernah merasakan langsung atmosfer demonstrasi. Raka kemudian melihat aksi tersebut sebagai kesempatan untuk mengenalkan Icha pada kehidupan gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil.
“Awalnya karena memang Icha kan belum pernah ikut demo-demo gitu, Mas. Jadinya saya ajak untuk demo, biar dia tahu bagaimana rasanya turun ke jalan dan membaur bersama kawan-kawan yang lainnya,” ungkap Raka ketika saya hubungi Kamis (29/10/2026).
Ajakan itu ternyata tidak langsung mendapat jawaban iya. Icha sebenarnya tertarik, tetapi ia masih memikirkan satu persoalan: bagaimana meminta izin kepada orang tuanya?
“Kalau aku sih mau saja sebenarnya, Mas. Cuma kan izin ke orang tua yang agak repot karena ini pertama kali buat aku. Meski agak alot, akhirnya aku diizinkan asalkan berangkat dan pulang harus sama Raka,” jelas Icha.
Setelah mengantongi izin, keduanya berangkat menuju kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Mereka tidak sekadar mencari hiburan bersama, tetapi juga ingin melihat langsung bagaimana masyarakat menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap pemerintah.
Dari takut kerusuhan hingga menemukan solidaritas di jalanan
Sebelum berangkat, Icha punya gambaran tersendiri tentang demonstrasi. Berbagai video kericuhan yang beredar di media sosial membuatnya membayangkan aksi unjuk rasa sebagai kegiatan yang menegangkan, tidak aman bagi perempuan, bahkan berpotensi membahayakan dirinya.
“Awalnya aku mikir kok bisa ide kencan yang diajukan itu ikut aksi, padahal menurut saya awalnya bahwa aksi itu pasti bakalan ricuh, karena itu yang ada di medsos kan kayak benar-benar undangan perang buat orang-orang. Terus takut juga kalau nanti di sana tidak banyak perempuan, atau malah tidak bisa membaur. Pokoknya aneh-aneh deh pikirannya. Maklum baru pertama kali ikut beginian,” ceritanya.
Namun, pengalaman di lapangan justru mengubah pandangan tersebut. Ketika tiba di lokasi, Icha melihat banyak orang datang dengan tujuan yang sama: menyampaikan kritik dan menunjukkan kepedulian terhadap kondisi negara.
“Ternyata pas sampai lokasi dan membaur, ya rasanya amaze saja sih, Mas. Melihat orang-orang yang datang meluangkan waktu untuk demo, untuk mengkritik pemerintah, mereka masih punya energi buat mencintai negara ini,” ungkapnya.
Icha juga menemukan beberapa kelompok perempuan yang membuatnya lebih nyaman mengikuti aksi. Kehadiran Raka di sampingnya turut membantu mengurangi kecemasan selama mengikuti demonstrasi.
“Jujur, pikiran soal kericuhan itu tidak ada, malah mikirnya ini menjadi demo date pertama aku yang menyenangkan dan menarik sekali. Aku di sana juga akhirnya bergabung sama beberapa rombongan perempuan. Apalagi Raka selalu gandeng tangan aku, jadi makin romantis deh, menikmati revolusi bersama pasangan,” tambah Icha.
Demo date, ketika kencan bertemu kesadaran politik
Pengalaman Raka dan Icha ternyata bukan satu-satunya cerita pasangan yang menjadikan demonstrasi sebagai agenda bersama. Saya juga bertemu Adi (25) dan Rani (24), pasangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mengikuti aksi pada hari yang sama.
Berbeda dengan Raka dan Icha yang berangkat atas inisiatif pribadi, Adi dan Rani bergabung bersama rombongan mahasiswa. Mereka memang sudah merencanakan keberangkatan bersama sejak awal.
“Kami kan awalnya berangkat barengan sama rombongan mahasiswa, Mas, jadi memang sudah direncanakan bersama,” ungkap Adi dan Rani ketika saya temui.
Bagi mereka, demonstrasi menjadi pengalaman bersama yang memadukan ketegangan, kebersamaan, dan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi. Istilah demo date pun terasa relevan untuk menggambarkan pengalaman semacam ini. Dan cocok rasanya demo date menjadi salah satu ide kencan yang bisa dicoba bersama pasangan.
Tentu saja, demo date tidak harus selalu berarti pasangan bergandengan tangan di tengah barisan massa. Ada pula pengalaman saling menjaga, berdiskusi tentang persoalan politik, hingga menyadari bahwa hubungan personal tidak harus menjauhkan seseorang dari persoalan sosial di sekitarnya.
Demonstrasi bukan sekadar kerumunan, ada solidaritas yang dibangun dan juga pasangan yang memilih ide kencannya adalah demo date
Fenomena pasangan mengikuti demonstrasi bersama juga menarik jika kita melihatnya melalui penelitian tentang partisipasi politik dan hubungan sosial.
Cynthia Peacock dan Joshua R. Pederson dalam penelitian berjudul Love and Politics: The Influence of Politically (Dis)similar Romantic Relationships on Political Participation and Relationship Satisfaction yang terbit di jurnal Human Communication Research (2022) menemukan hubungan antara kesamaan pandangan politik pasangan, kualitas komunikasi, kepuasan hubungan, dan partisipasi politik.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki kesamaan pandangan politik cenderung memperlihatkan partisipasi politik lebih tinggi. Kualitas diskusi dan cara pasangan mengelola perbedaan juga berperan dalam hubungan tersebut.
Sementara itu, Ming-sho Ho dalam penelitian Relational Tactics and Trust in High-risk Activism di International Journal of Comparative Sociology (2024) menjelaskan pentingnya hubungan sosial, kepercayaan, dan ikatan antarpeserta dalam aktivitas protes yang memiliki risiko.
Kedua penelitian tersebut memang tidak secara khusus membahas istilah demo date. Namun, keduanya membantu menjelaskan mengapa hubungan personal dan rasa saling percaya dapat memengaruhi pengalaman seseorang ketika terlibat dalam aktivitas politik.
Dari Jogja hingga kota lain, anak muda masih punya energi untuk turun ke jalan
Demonstrasi 28 Oktober 2026 di Yogyakarta juga tidak berdiri sendiri. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, aksi berlangsung di sejumlah titik, mulai dari Titik Nol Kilometer, Kantor DPRD DIY, hingga Kompleks Kepatihan.
Harian Jogja melaporkan keterlibatan mahasiswa, pengemudi ojek daring, dan kelompok suporter sepak bola dalam aksi tersebut. Mereka membawa berbagai persoalan, mulai dari tuntutan upah layak, kebebasan sipil, hingga pengusutan dugaan korupsi Stadion Mandala Krida.
Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah kota, termasuk Jakarta dan Makassar. Amnesty International Indonesia mencatat bahwa demonstrasi pada 28 Oktober membawa sejumlah tuntutan, antara lain penanganan bencana ekologis, penurunan biaya pendidikan, pemberantasan korupsi, serta perlindungan kebebasan berpendapat.
Bahkan, penelitian Febrito Montanus Ngaji dan kawan-kawan yang terbit di Journal of Cultural Analysis and Social Change (2025) menunjukkan bagaimana media sosial ikut membentuk opini publik, solidaritas, dan persepsi masyarakat terhadap demonstrasi di Yogyakarta pada 29 Agustus hingga 3 September 2025.
Sayangnya, demonstrasi di Yogyakarta pada 28 Oktober 2026 juga mengalami eskalasi. Setelah aksi berlangsung kondusif pada sore hari, sejumlah kelompok massa terlibat kericuhan pada malam hari di sekitar Gedung DPRD DIY dan kawasan Malioboro.
Bagi Raka dan Icha, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka mengenal ruang demokrasi secara langsung. Setidaknya, Icha pulang dengan pengalaman yang berbeda dari bayangannya sebelum berangkat.
Mungkin bagi sebagian orang, mengajak pasangan berkencan cukup dengan membelikan bunga atau mentraktir makan malam. Namun, bagi pasangan seperti Raka dan Icha, sesekali mengajak kekasih turun ke jalan juga bisa ide kencan yang romantis, kekinian, dan revolusioner.
Sebab, hubungan yang sehat tidak hanya memberi ruang bagi dua orang untuk saling mencintai, tetapi juga memungkinkan keduanya peduli terhadap kehidupan yang lebih luas. Kalau bisa bergandengan tangan sambil menyuarakan aspirasi, kenapa harus selalu menghabiskan akhir pekan di kafe?
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Di Balik Demo Malioboro: Ormas Bersenjata Tajam, Medis Diserang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan