Sayur-sayuran tergolek di kios-kios Pasar Condongcatur, Sleman. Pedagang menungguinya lesu. Dulu, 15 kilogram terong bisa habis terjual. Sementara kini, 1 kilogram habis pun belum tentu.
Saat Mojok datang di Pasar Condongcatur, Sleman, pada Jumat pagi (23/10/2026), lorong pasar tampak lengang. Tidak banyak pembeli yang berlalu-lalang.
Beberapa pedagang menata ulang barang dagangan yang sebenarnya sudah rapi. Pedagang lain memilih bercengkrama dengan pedagang di sebelahnya. Tidak banyak suara tawar-menawar. Artinya, tidak banyak transaksi jual beli yang terjadi.
Pada pertengahan Agustus 2026 lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman sebenarnya sempat menggalakkan program GEMPAR (Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat) GEMPAR. Tujuannya tidak lain untuk menghidupkan kembali pasar tradisional.
Namun, persoalan ekonomi di tingkat makro, setidaknya hingga saat ini, masih membuat masyarakat Indonesia harus menekan betul pengeluaran. Apalagi di satu sisi, harga-harga kebutuhan pokok juga cenderung naik.
”Sepi sekarang, Mbak,” kata Trianti (74), seorang pedagang di Pasar Condongcatur, Sleman, saat Mojok mampir ke kiosnya.
Beragam cara pedagang Pasar Condongcatur Sleman menyiasati sepi pembeli
Tak banyak sayuran yang tersedia di kios milik Trianti (74) di Pasar Condongcatur, Sleman. Hanya ada tiga buah labu siam, dua ikat kacang panjang, dua kilo terong hijau dan ungu, serta beberapa sayuran hijau.
Bahan masakan lain pun sengaja ia sediakan sedikit. Minyak dengan berbagai ukuran tertata dalam keranjang putih, jumlahnya kurang dari 20. Saos dan kecap disusun pada rak di belakang tubuhnya, berjumlah kurang dari 10. Bahan lain hanyalah setengah keranjang bawang merah, bawang putih, dan bawang bombay.
Begitulah cara Trianti menyiasati pembeli yang mulai sepi imbas melemahnya daya beli masyarakat. Ia mulai mengurangi barang dagangannya. ”Ini yang beli belum ada,” imbuh Trianti ketika ditanyai jumlah pembeli hari itu.
Trianti menuturkan, perbedaan pendapatan terasa sangat jauh sekali. Ia mencontohkannya lewat penjualan terong. ”Dulu terong sehari bisa laku 10-15kg, Mbak. Sekarang, terong 1-2 kg saja belum tentu habis,” keluh Trianti sambil menunjuk dagangannya.
Bila tak habis, ia sering memberi bahan makanan kepada orang lain. Hal ini karena, ia tak ingin sayuran tersebut malah terbuang sia-sia akibat membusuk.

Harga naik, pembeli berpikir dua kali untuk membeli
Di tengah perbincangan kami, ada dua perempuan datang. Katanya, mereka berencana membeli kacang tanah. Suasana sedikit berubah ketika pembeli mulai bertanya, ”Pinten niku (Itu berapa)?”
”Sekilo 48 ribu, sekarang semuanya mahal.” Jawaban Trianti membuat pembeli itu diam sejenak. Trianti mulai membuka plastik yang membungkus kacang tanah. Ia tampaknya dapat melihat keraguan dari calon pembelinya.
Keluhan tentang harga yang kian mahal Trianti ucapkan berkali-kali. Lalu, ia bertanya memastikan apakah kacang tanah dalam genggamannya jadi akan dibeli. Calon pembelinya mengangguk lalu berkata, ”Jadi, tapi setengah kilo aja.”
Menurut Trianti, kenaikan harga berdampak besar bagi pedagang sepertinya. Hal ini karena semakin besar modal yang dibutuhkan, maka semakin tipis pula keuntungan yang bisa ia peroleh. Padahal, sejak awal Trianti memang tidak mengambil banyak keuntungan.
”Kadang modalnya nggak balik,” ujarnya.
Sudah sulit dapat untung, masih harus bayar retribusi tiap bulan
Trianti sudah menjadi pedagang di Pasar Condongcatur, Sleman, selama 22 tahun. Pada 2004 lalu, ia putuskan untuk membeli dua kios. Walau sudah mendapat hak milik, ia tetap wajib membayar retribusi tiap bulannya. Tidak peduli apakah kiosnya sedang ramai pembeli ataupun sepi.
Satu kios harus membayar retribusi sebesar Rp50.000. Trianti membeli dua kios, artinya ia harus membayar retribusi sebesar Rp100.000. ”Setiap bulan harus bayar 100 ribu, itu udah sekalian uang kebersihan,” jelasnya.
Padahal, keuntungan yang didapatkan Trianti tidak menentu. Keuntungan dari penjualan sayuran misalnya, bahkan tidak dapat dihitung karena memang tidak stabil. Apalagi sayuran jualannya sering tidak habis.
Trianti mencontohkan keuntungan dari penjualan bumbu kemasan saset. Satu renceng hanya memberinya keuntungan seribu rupiah. Itupun kalau dibeli persaset. Kalau dibelinya satu rencengan sekaligus, Trianti hanya untung Rp500.
”Ini untungnya sak renteng cuma seribu, itu juga kalo belinya eceran,” tutur Trianti sambil menunjukkan bumbu ketumbar dalam kemasan putih.
Sepinya pasar dimulai dari Covid-19, semakin sepi ketika ada MBG
Menyusutnya pembeli sudah Trianti rasakan sejak pandemi Covid-19. Kala itu, pemerintah memberi arahan untuk tidak pergi ke luar rumah. Akibatnya, pasar menjadi lumpuh.
Masyarakat pun mulai beradaptasi dengan marketplace. Hingga kini, pilihan berbelanja online menjadi solusi sekaligus persoalan baru. Di sisi lain, menurut pengalaman Trianti, sejak adanya MBG pasar menjadi lebih sepi.
Mengutip CNBC, pertumbuhan daya beli masyarakat saat ini memang melambat. Daya beli masyarakat hanya tumbuh 1,4% secara tahunan di September 2026. Angka ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan 1,8% di Agustus 2026 lalu.
Hal itu dirasakan secara nyata oleh Trianti. ”Dulu, apa-apa dijual bisa laku, sekarang apa-apa dijual nggak laku,” tuturnya.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Jurnalistik Mojok.co periode Agustus-November 2026
Penulis: Feninda Rahmadiah
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan