In this economy, orang bahkan tega maling rumah tetangga yang nyata-nyata pra-sejahtera (tidak punya), saking kesulitan menyambung hidup, saking butuhnya uang untuk bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
***
Rumah tetangga Faqih (23) di sebuah desa di Jawa Timur secara kasat mata sudah menunjukkan kalau si tetangga merupakan keluarga pra-sejahtera. Rumah dengan tembok di bagian depan dan dinding kayu reyot di bagian belakang. Pada sisi atas pintu pun sudah tertera stiker “keluarga kurang mampu”.
Rumah itu dihuni oleh sepasang suami-istri pekerja serabutan. Sementara satu anak mereka tinggal di sebuah pesantren sejak memasuki SMP.
Namun, yang membuat Faqih dan warga desa lain tidak habis pikir adalah: rumah tersebut justru paling kerap disatroni oleh maling, jadi langganan ketimbang rumah-rumah warga lain yang lebih bagus dan meyakinkan.
“Logikanya kan, kalau rumah bagus, mungkin saja uangnya banyak. Kalau mau maling juga ada pilihan barang-barang yang bernilai jual. Atau mungkin karena rumah yang bagus dianggap lebih sulit dibobol ya,” ujar Faqih, Kamis (15/10/2026).
Keheranan tersebut muncul karena dalam jarak berdekatan, rumah si tetangga yang tidak berpunya itu belakangan ini pasti kemalingan.
Padahal si maling tahu kalau dompet penghuni rumah kosong
Penghujung tahun 2025 lalu, di sela seruan azan Subuh di musala-musala kampung, terdengar gaduh-gaduh di rumah tetangga Faqih. Beberapa warga sudah berdatangan.
Rumah si tetangga yang dari keluarga tidak berpunya tersebut baru saja disatroni maling. Lemari baju mereka sudah awut-awutan bekas dibongkar-bongkar. Sebuah dompet kecil tempat menaruh uang tergolek di lantai.
“Berapa uang yang hilang? Warga kan tanya-tanya begitu. Kata si penghuni rumah cuma ada uang recehan, paling totalnya Rp100 ribu sekian lah. Diambil sama maling. Sementara uang sisanya kan mereka taruh di bank, walaupun katanya nggak banyak,” ujar Faqih menggambarkan situasi saat itu.
Satu-satunya barang berharga yang hilang adalah sebuah hp merek murahan. Karena memang, selain itu, tidak ada barang lain yang bernilai jual yang bisa digondol.
“Ya ada motor buat kerja. Itu pun kayaknya si maling nggak berminat. Entah karena susah mengeluarkannya dari rumah, atau karena tahu kalau nggak bakal laku dijual,” sambung Faqih.
Usut punya usut, si maling ternyata membobol pintu belakang rumah yang terbuat dari kayu. Semakin membuat warga heran. Sebab, kondisi bagian belakang rumah tetangga Faqih itu saja tampak menyedihkan. Tapi tidak mengurungkan niat si maling untuk menyikat isi rumah.
Ternak hingga pisang setandan pun disikat karena kondisi ekonomi sulit
Kondisi di desa Faqih sempat aman-aman saja di beberapa bulan kemudian. Meski si tetangga sering tidak nyenyak saat tidur, kerap tiba-tiba tergeragap bangun di tengah malam.
Sampai akhirnya maling kembali menyatroni rumah tetangga Faqih pada pertengahan 2026 ini. Kali itu bukan area dalam rumah yang diincar, tapi area belakang rumah.
“Tetanggaku itu punya kandang di belakang rumah, karena belakang rumah kan langsung kebun. Dulu jadi kandang kambing, satu-dua ekor, tapi sudah dijual-jual kan buat kebutuhan,” terang Faqih.
Kandang tersebut kemudian digunakan tetangga Faqih untuk memelihara ternak unggas: ada beberapa ekor ayam dan bebek. Di pertengahan tahun itulah, enam ekor bebek peliharaan tetangga Faqih ludes dicolong maling.
Tidak berhenti di situ, baru beberapa minggu lalu, sisa ternak di kandang tersebut (beberapa ekor ayam), juga raib. Hanya menyisakan anak-anak ayam yang masih kecil-kecil.
“Bareng sama ayam itu, setandan pisang di kebun juga hilang. Padahal tetanggaku sudah berencana buat ngambil,” ujar Faqih.
Faqih mengaku agak miris ketika melihat wajah lesu sepasang suami istri tersebut saat mendapati ternak-ternak di kandang ludes. Juga setandan pisang. Padahal, ternak-ternak itu menjadi penopang alternatif bagi si tetangga: kalau tidak dijual, ya bisa lah dikonsumsi sendiri.
Kesal, tapi memaafkan si maling karena kesulitan ekonomi
Kesal dan sedih. Dua kesan itulah yang diungkapkan si tetangga setiap bercerita kepada warga lain—termasuk kepada Faqih yang rumahnya hanya sepelemparan batu saja dari rumah si tetangga.
Meski begitu, sepasang suami istri tetangga Faqih itu mengaku pasrah dan ikhlas saja. Mereka bahkan mengaku memaafkan tindakan si maling.
“Pasti orang susah banget itu. Pasti lagi sangat kesulitan ekonomi itu. Makanya, nyolongnya yang kecil-kecil, pokoknya yang cukup buat bertahan hidup. Kira-kira begitu ucap mereka,” beber Faqih.
“Malah tetanggaku bersyukur, karena meski dalam kondisi sulit ekonomi (bahasa sekarang: in this economy), tapi mereka nggak sampai berbuat begitu (maling). Meski sulit ekonomi, tapi mereka masih cukup lah jadi nggak harus begitu-begitu. Nggak sampai utang besar pun sudah cukup disyukuri. Merek bilang begitu,” sambungnya.
Realitas di balik pertumbuhan ekonomi
Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatat, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sekilas, angka ini cukup meyakinkan. Namun, pertumbuhan ekonomi nasional tidak serta-merta berarti semua orang merasakan kehidupan yang lebih lapang.
Lihat saja perkembangan harga. Pada September 2026, inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,28 persen. Pada bulan yang sama, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) umum naik 6,76 persen dibandingkan September tahun sebelumnya.
Kenaikan kedua indikator ini memang tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai kenaikan harga setiap kebutuhan rumah tangga dalam persentase yang sama. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga masih menjadi bagian dari situasi ekonomi yang perlu diperhatikan.
Jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 pun sebenarnya terbilang turun: mencapai 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk. Memang, angka tersebut turun dibandingkan September 2025. Artinya, tidak tepat mengatakan bahwa kemiskinan secara nasional terus memburuk.
Akan tetapi, jutaan orang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara kelompok masyarakat di luar kategori tersebut pun tidak otomatis terbebas dari tekanan biaya hidup.
Dewan Ekonomi Nasional (DEN), dalam laporan September 2026, bahkan menyoroti meningkatnya tekanan daya beli masyarakat menengah bawah. Konsumsi rumah tangga memang masih tumbuh, tetapi tekanan yang dirasakan kelompok ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang tetap berjalan tidak selalu identik dengan kondisi keuangan yang nyaman bagi semua orang. Alhasil, bahkan rumah keluarga pra-sejahtera pun tidak luput dari sasaran maling.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: In This Economy, Kerja Lembur Bagai Kuda Meski Gaji Tak Seberapa dan Tetap Miskin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan