Cerita Sebuah Keluarga Membangun Kebiasaan Membaca Saat Orang Lain Berubah Menjadi “Phubbing”

Tingkatkan literasi dengan baca buku. MOJOK.CO

ilustrasi - cara suka membaca buku di tengah cepatnya arus informasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sebuah keluarga pecinta literasi, tampak lebih dulu datang ke Taman Baca Kampung Buku, Jalan Abdulrahman, Gang Rukun RT 15 RW No.56, Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur pada Sabtu (6/6/2026), sebelum kedatangan saya pukul 14.00 WIB. 

Tanpa berniat mengganggu ibu, ayah, dan seorang anak laki-laki yang sedang asyik membaca buku, saya langsung meletakkan sepatu dengan rapi di dekat pintu, lalu berjalan menuju area belakang taman baca untuk mewawancarai Edi Dimyati selaku pendiri Taman Baca Kampung Buku.

Hingga pukul 16.00 WIB, saya masih melihat ketiganya membaca buku masing-masing dengan posisi yang sama. Sontak, saya berdecak kagum terutama kepada anak laki-laki mereka yang tahan membaca buku berjam-jam.

“Anaknya kalau tidak dirayu, nggak mau pulang itu, Mbak,” ucap Edi seketika melihat wajah kagum saya, “dia suka sekali baca buku di sini,” lanjutnya yang senang melihat semangat baca dari sang anak.

Sampai kapan tingkat literasi kita rendah?

Menjelang pukul 17.00 WIB, saya sedikit mengobrol dengan orang tua si anak. Mereka berujar kegemaran anaknya membaca buku memang sudah dibiasakan dari kecil, bahkan ketika anaknya baru mengenal huruf alfabet.

“Anak saya usianya 8 tahun dan dia ini sebetulnya aktif sekali dalam artian lincah. Terus saya coba ceritakan buku bacaan agar dia tenang. Eh, ternyata dia suka,” kata si ibu.

“Buku pertamanya itu cerita islami, jadi kayak semacam komik. Terus makin ke sini dia suka baca buku ‘Why?’,” lanjutnya.

Di tengah tantangan zaman modern, ia merasa bersyukur karena anaknya masih bisa mengontrol diri untuk tidak bermain gawai lama-lama, dan justru memanfaatkan waktunya dengan membaca buku pengetahuan.

Sebab, tak bisa dipungkiri, kehadiran internet menyebabkan pergeseran minat dimana anak-anak sekarang lebih suka mencari hiburan instan dibanding membaca buku. Alhasil, daya berpikir kritisnya bisa melemah.

Lebih buruknya, mereka jadi tidak peduli dengan sekitar karena sibuk menatap layar HP daripada berinteraksi dengan lawan bicaranya secara langsung. Fenomena inilah yang dikenal dengan nama phubbing, gabungan dari kata phone dan snubbing yang artinya mengabaikan.

Sebuah program evaluasi sistem pendidikan global, PISA mencatat skor rata-rata kemampuan membaca siswa Indonesia hanya mencapai 359 poin pada tahun 2022. Angka ini jauh di bawah rata-rata internasional yakni 476 dan belum banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya.

UNESCO bahkan pernah menempatkan Indonesia di peringkat kedua terbawah mengenai literasi dunia dengan rasio minat baca hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada 1 dari 1.000 orang Indonesia yang punya kebiasaan membaca. 

Dalam standar penilaian yang dimaksud, literasi bukan sekadar bisa membaca teks, melainkan pemahaman mereka setelah membaca informasi dari apa yang mereka baca. Salah satu faktornya bisa karena akses buku yang sangat timpang. 

Meski beberapa tempat baca buku gratis terbilang jauh dari rumah keluarga yang saya temui tadi, mereka berujar selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan hari liburnya ke perpustakaan, baik di perpustakaan nasional, daerah, maupun lapak baca seperti milik Edi.

“Tadinya kami mau ke perpustakaan Perpustakaan Jusuf Kalla di kawasan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Bertiga pakai motor, tapi anak saya lebih suka di sini (Taman Baca Kampung Buku),” kata si ibu.

Dulu, baca buku adalah pemandangan lumrah

Sebagai pustakawan sekaligus pegiat literasi, Edi Dimyati cukup concern dengan pergeseran budaya di atas. Dulu, kata dia, membaca buku adalah hal yang lumrah. Berbeda dengan era sekarang, yang melihat orang baca buku saja sudah langsung dicap kutu buku atau pasti berkepribadian introvert—meski hal itu tidak sepenuhnya salah.

“Zaman saya anak-anak, buku jadi salah satu hiburan yang digemari, selain itu kami tetap bermain di luar bersama teman-teman misalnya main bola. Jadi membaca buku sebetulnya adalah pemandangan yang biasa di masa itu,” kata Edi mengenang masa kecilnya.

Sementara itu, banyak generasi baru terutama Gen Alpha yang lebih suka bermain gawai. Namun, ia pun tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran buku cetak maupun buku digital tak bisa dibandingkan.

Lewat buku digital, informasi bisa lebih cepat dan mudah untuk diakses. Namun, mata kita jadi gampang lelah karena terpapar cahaya layar. 

Lebih dari itu, ia berujar bahwa membaca informasi di gawai bagaikan kita sedang berenang di lautan. Sementara saat membaca buku cetak, rasanya seperti menyelam di bawah laut. Artinya, akan ada banyak informasi lebih mendalam dan detail saat kita membaca buku cetak. 

“Di bawah permukaan laut, kamu bisa melihat terumbu karang maupun ikan, begitu pula dengan banyaknya informasi, pengetahuan, serta kebahagiaan di dalamnya,” ujar Edi.

Oleh karena itu, Edi punya prinsip bahwa pendidikan seharusnya dapat diakses gratis oleh semua orang. Jangan sampai ada orang yang merasa terbebani untuk membeli buku karena mahal.

Bangun kebiasaan kecil untuk tingkatkan literasi

Demi menyebarkan minat baca ke anak-anak zaman now, sekaligus memperkenalkan perpustakaannya, Edi pun rela datang ke ruang-ruang publik sambil membawa 100 buku bacaan dengan sepeda kargonya. 

Hal itu dilakoninya sejak tahun 2017. Saat itulah banyak orang yang penasaran dan mengira Edi adalah petugas PLN hingga pegawai konstruksi. Padahal, lebih dari itu, ia sedang membawa misi mulia untuk mencerdaskan anak bangsa.

Beberapa tahun terakhir, Edi juga mengunjungi sekolah-sekolah untuk membuat program gerakan literasi. Namun, bukannya disambut baik, ia sempat dikira orang yang mau minta “sumbangan”. Meski begitu, Edi tak menyerah sampai dia diundang sendiri oleh salah satu pihak sekolah.

Saban pagi, tepatnya pukul 07.00 WIB, Edi sudah siap untuk menggowes bersama buku-bukunya. Setibanya di sekolah, Edi pun membebaskan siswa membaca se-PW (posisi wenak) mungkin. Edi bahkan mengadakan atraksi sulap untuk membangun kedekatan hingga menyarankan mereka membaca.

“Untuk membuat anak suka pada buku memang tidak bisa langsung. Kita harus membangun hubungan emosional lebih dulu, sehingga mereka mau meniru dan akhirnya paham bahwa kegiatan membaca menyenangkan sekaligus bermanfaat,” jelas Edi.

Setelah kedekatan emosional terjalin, kata Edi melanjutkan, kita perlu tahu hal apa yang disukai oleh anak-anak. Dengan begitu, kita dapat merekomendasikan buku yang sesuai dengan minatnya. Cara ini juga bisa dilakukan untuk usia remaja maupun orang dewasa.

“Ikut saja komunitas baca lebih dulu walaupun di awal cuma mau mendengarkan atau ngobrol dengan mereka. Karena sejatinya, lingkungan akan memengaruhi kita juga.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang 

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version