Memberangkatkan orang tua umrah perlahan-lahan menjadi standar sukses mainstream di desa. Tidak peduli pekerjaanmu apa-gajimu berapa. Asal sudah bisa membawa orang tua ke tanah suci, sudah dihitung sebagai anak sukses dan mencapai puncak berbakti. Hal tidak menyenangkan jika yang terjadi sebaliknya.
***
“Bulan ini Si A memberangkatkan orang tuanya umrah.”
“Si B katanya juga udah mulai mendaftarkan orang tuanya umrah.”
“Insyaallah segera, tinggal melunasi, terus bisa berangkatkan Ibu ke tanah suci.”
Perbincangan-perbincangan tersebut mewarnai desa Hasyimi (25) di Jombang, Jawa Timur, belakangan ini. Di satu sisi, Hasyimi merasa salut, karena banyak anak yang punya orientasi spiritual “mengumrahkan orang tua”.
Pasalnya, bertahun-tahun, umrah apalagi haji menjadi sesuatu yang terkesan jauh dari jangkauan orang desanya. “Anak-anak muda yang kerja di Timur Tengah, rata-rata sekarang sudah pada bisa mengumrahkan orang tuanya,” ungkap Hasyimi, Jumat (18/9/2026).
Memberangkatkan umrah orang tua jadi standar sukses baru di desa
Obrolan di tengah tetangga dan orang desa Hasyimi sekarang lebih sering membahas soal “kehebatan” anak-anak yang bisa memberangkatkan orang tuanya umrah itu.
Umrah yang semula adalah aspirasi hidup yang jauh, kemudian menjadi indikator kesuksesan arus utama selain pencapaian materiil dan finansial. Karena itulah, sesuatu yang dimulai dari para pekerja muda di Timur Tengah itu lantas mulai diikuti oleh anak-anak desa secara umum.
“Ada teman, pekerja pabrik belaka, akhirnya sampai patungan dengan kakak-kakaknya buat mengumrahkan orang tuanya. Ada motif bakti, tapi juga ada motif ingin menjadi bagian yang diakui,” ujarnya.
Seiring itu, cara pandang masyarakat desa Hasyimi soal “kesuksesan” pun mulai bergeser. Jika sebelumnya mereka mengukur dari jenis pekerjaan, bekerja di luar negeri, hingga hal-hal materiil yang bisa dibeli (seperti tanah, kendaraan, dan sejenisnya), kini variabel itu tidak penting-penting amat.
Pokoknya apapun pekerjaanmu, asal bisa memberangkatkan orang tua umrah dengan biaya sendiri, maka kehebatan dan baktimu terhadap orang tua sudah akan diakui dan diperbincangkan mulut ke mulut.
Merasa ciut, konsekuensi bagi ia yang belum mampu
Hasyimi bekerja di Jakarta. Ia jarang pulang. Hanya sesekali jika sempat.
Jangankan memberangkatkan umrah, merenovasi rumah orang tua, membeli kendaraan baru, dan standar sukses mainstream sebelumnya saja ia masih gagap mewujudkan. Dengan kata lain, hidupnya masih begini-begini saja. Maka, momen ketika ia pulang belum lama ini tidak pelak membuatnya merasa sangat ciut.
“Lah katanya murah kok, Rp25 jutaan katanya sudah bisa memberangkat umrah, perorang. Kamu masa belum ada segitu?” Ada orang desa yang melontarkan kalimat tersebut kepada Hasyimi. Ia tidak tersinggung, tapi justru merasa betapa dirinya semakin tidak berdaya.
Hasyimi bukannya tidak menyisihkan uang. Namun, jika ia berhitung, tabungannya memang ia proyeksikan sebagai back up (dana darurat) jika terjadi guncangan ekonomi terhadap dirinya.
Hasyimi juga menegaskan, bukannya ia tidak punya keinginan untuk memberangkatkan umrah orang tuanya. “Siapa yang tidak ingin? Orang tua pasti bahagia sekali bisa umrah. Bukannya aku nggak percaya sama rezeki Tuhan. Tapi aku juga harus hati-hati di situasi ekonomi yang serba sulit begini,” ujarnya.
Saat bentuk bakti lain yang terkesan kecil mulai tidak lihat
Hasyimi menegaskan, yang membuat Hasyimi tidak nyaman sebenarnya bukan umrahnya. Ia justru senang melihat semakin banyak anak desa punya kesempatan untuk membawa orang tuanya ke tanah suci. Artinya, banyak anak muda desa yang kini mengalokasikan uang hasil kerjanya untuk berlomba-lomba dalam orientasi spiritual, demi membahagiakan orang tua mereka.
Yang membuat Hasyimi tidak nyaman adalah ketika kemampuan tersebut perlahan berubah menjadi semacam ukuran baru untuk menilai bentuk bakti seorang anak. Sebab, dalam percakapan sehari-hari, pencapaian tersebut bisa merembet menjadi pertanyaan lain:
“Kapan giliranmu memberangkatkan orang tua?”, atau
“Kok bisa anak yang sudah bekerja bertahun-tahun tetapi belum juga mampu mengumrahkan bapak-ibunya?”
“Di desa itu ya, kabar baik tentang seseorang bisa dengan mudah berubah menjadi standar pembanding bagi orang lain,” ucap Hasyimi.
“Sekarang juga pasti ada kalimat, ‘Wis insyallah surga itu, sudah berbakti sebegitunya ke orang tua’,” sambungnya. Seolah hal itu menjadi ukuran puncak dalam berbakti. Alhasil, bentuk-bentuk bakti konvensional—seperti santun kepada orang tua, berbuat baik kepada mereka, dan sejenisnya—menjadi tampak kecil belaka nilainya.
Perbincangan dengan orang tua yang bikin merasa tidak berguna
Orang tua Hasyimi termasuk di antara orang tua yang kagum dengan mereka yang bisa memberangkatkan orang tuanya umrah ke tanah suci. Maka belakangan ini, Hasyimi melempar tanya ke orang tuanya: “Apakah bapak dan ibu juga pengin umrah?”
“Kalau ditanya pengin ya pengin. Apalagi kan kalau mau daftar haji semakin tidak mungkin. Biaya lebih mahal, waktu tunggunya puluhan tahun. Tapi ya nggak tahu, semua kan panggilan Allah. Bapak dan Ibu juga kalau punya uang pasti buat kebutuhan dulu,” jawaban sang Ibu membuat Hasyimi merasa terpukul.
Ia merasa semakin gagal sebagai anak. Sebab, saat orang tuanya menjawab demikian, ia tidak punya keberanian untuk memberi jawaban: “Aku berangkatkan Bapak-Ibu umrah, pakai uangku sendiri”.
Hasyimi hanya bisa terduduk diam. Sembari berdoa (setengah berkhayal) dalam batin, “Ya Allah, mbok saya dikasih rezeki yang nggak terduga gitu, yang kira-kira angkanya bisa buata memberangkatkan orang tuaku umrah.” Selain tentu saja ia mulai menghitung ulang pemasukan, mengukur kira-kira pada tahun berapa keinginan orang tua untuk umrah itu bisa ia wujudkan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Umroh Bareng Pacar Itu Memang Romantis, Pahami Hukum dan Begini Aturan Mainnya dalam Islam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
