Utang bank untuk membeli mobil keluarga sebenarnya tidak pernah masuk dalam daftar ambisi hidup. Namun, tuntutan mertua membuat hal itu harus dilakukan dengan membeli Suzuki Ertiga. Tapi pada akhirnya justru ribet dan sia-sia.
***
Dudul (32), minta disebut begitu, kerap menatap kosong mobil Suzuki Ertiga bekas tahun 2016 yang terparkir di garasi kecil rumahnya. Sebab, mobil tersebut menjadi saksi betapa sia-sianya hidup jika hanya untuk memuaskan orang lain.
Sebelum memiliki mobil tersebut, Dudul sebenarnya sempat memiliki mobil pick-up pemberian sang bapak. Mobil pick-up itu rasa-rasanya jauh lebih fungsional untuk menunjang aktivitasnya sebagai pelaku UMKM di Jawa Barat.
Itulah kenapa awalnya ia tidak terpikir untuk memiliki mobil keluarga. Toh kalau untuk mobilitas sehari-hari bersama istri dan satu anaknya, ia masih bisa menggunakan motor.
Namun, Dudul mengaku lama-lama gerah juga. Sebab, ia sering menerima sindiran dari mertuanya yang memang punya kecenderungan materiil. Maklum, “orang punya”.
Terus-menerus menerima sindiran dari mertua perkara mobil keluarga
Hubungan Dudul dengan mertua memang tidak begitu dekat. Sejak awal sang mertua memang tidak begitu setuju dengan hubungan Dudul dengan istri (anak mertua). Perkaranya adalah perbedaan latar belakang ekonomi keluarga.
Meski pada akhirnya merestui, tapi itu lebih karena bujuk rayu istri Dudul. Selebihnya, sejak menikah pada 2022 hingga sekarang, hubungan Dudul tidak kunjung membaik. Bahkan sekalipun Dudul sudah memberi cucu.
Akan tetapi, Dudul harus menerima sindiran demi sindiran merendahkan dari mertua. Terutama dari ibu mertua.
“Kami memang tinggal terpisah (dari mertua). Tapi setiap dua pekan sekali begitu istri sering ngajak main ke rumah, karena memang nggak terlalu jauh. Aku nggak masalah sebenarnya. Gimana-gimana namanya orang tua kan,” ujar Dudul, Kamis (19/3/2025).
Hasilnya, setiap kali pulang dari rumah mertua, pasti memberi Dudul luka. Sindiran-sindiran yang Dudul terima misalnya:
“Masih naik motor aja? Panas loh ini/Mendung loh ini, nanti kehujanan.”
“Dulu ya, istri kamu kalau naik mobil pasti ketiduran. Karena nyaman.”
“Oh bawa pick-up.”
“Mama-ayah pengin sesekali jalan-jalan sama kalian. Pakai mobil keluarga punya kalian. Kalau sama kakak-kakakmu (dua kakak istri Dudul) kan sudah sering.”
Untuk sindiran yang terakhir itu, Dudul pernah spontan merespons, “Pakai mobil ayah nanti saya yang sopiri.” “Kan penginnya pakai mobil kalian,” jawab si ibu mertua dengan mimik wajah menyebalkan.
Jual pick-up peninggalan bapak hingga utang bank demi beli mobil Suzuki Ertiga
Sebenarnya berkali-kali istri Dudul menyergah orang tuanya, agar tidak terus-menerus menyinggung mobil keluarga kepada Dudul. Toh istri Dudul sudah merasa cukup dengan hidup yang ia jalani bareng suaminya tersebut.
Hanya saja, mertua Dudul memang sudah terlanjur dibutakan materi. Begitu kalau kata Dudul. Sehingga sergahan anak sendiri tidak mempan.
“Istri sebenarnya juga sering bilang ke aku, nggak usah masukin hati. Biarin aja. Dia bilang, sebagai anak cuma berusaha tetap terjalin hubungannya dengan orang tua. Hanya di situ. Tapi soal mobil-mobil pribadi, itu abaikan. Tapi lama-lama aku gerah,” ungkap Dudul.
Alhasil, karena muak, merasa harga dirinya diinjak-injak, pada 2024 lalu Dudul memutuskan menjual pick-up pemberian bapaknya itu. Tentu setelah melewati diskusi alot dengan sang istri.
Sang istri menolak keras rencana Dudul. Sementara Dudul, setelah diskusi dengan keluarganya sendiri, merelakan pick-up pemberian sang bapak dijual. Pertimbangan keluarga Dudul bukan semata persoalan harga diri. Tapi kalau Dudul punya mobil keluarga, pasti lebih mengenakkan Dudul dan anak-istri.
“Panjang lah itu (debat sama istri). Tapi akhirnya tetap kejual. Laku ya Rp15 jutaan. Nggak dapet kan kalau beli mobil keluarga. Solusinya adalah utang bank. Ini nih bagian yang ditentang istri. Ngapain utang bank buat sesuatu yang nggak produktif? Kata dia begitu,” ujar Dudul.
“Ya biar nggak terus disindir mertua lah. Lagi pula, aku bisa utang bank atas nama pelaku usaha. Bayar cicilannya juga kan ada pemasukan, maksudnya aku bukan pengangguran atau pekerja serabutan. Terus sedari awal memang niat cari mobil keluarga yang murah-murah aja. Jadi utangnya nggak gede,” bebernya.
Dari situ terbeli lah Suzuki Ertiga bekas tahun 2016 di harga Rp130 jutaan. Rekomendasi itu Dudul dapat setelah ngobrol dengan istri dan keluarga Dudul. Tidak mungkin juga beli baru karena alasan itung-itungan tenor cicilan tadi.
Mobil Suzuki Ertiga tetap tidak bisa puaskan mertua
Kenyataannya, mobil keluarga Suzuki Ertiga tersebut tetap tidak memuaskan mertua Dudul.
Pertama, sudah Suzuki Ertiga, bekas pula. Sementara mobil mertua dan kakak-kakak ipar Dudul adalah Toyota Avanza. Bahkan mobil pribadi kakak ipar pertama Dudul—yang seorang PNS—adalah Innova.
“Kupikir beli Xpander atau HR-V gitu, Dul,” respons ibu mertua. Pada saat itu, Dudul hanya bisa saling tatap dengan sang istri. Batinnya semakin tegores.
Setelah kejadian itu pun sempat terjadi perdebatan dengan istri. Istri mengungkit kalau ia sudah mencegah Dudul untuk memberi makan ekspektasi mertua. Sementara Dudul membantah kalau ini semua ia lakukan karena muak dengan sikap mertua yang selalu merendahkan Dudul.
Kedua, meski berlabel mobil keluarga, tapi kenyamanan mobil Suzuki Ertiga untuk perjalanan bersama keluarga memang kerap dikeluhkan. Mulai dari performa mesin, kursi yang tidak nyaman di punggung dan pantat, hingga soal bagasi yang sangat sempit.
Belum lagai, dalam persoalan mobil bekas Dudul, saat pertama kali dibeli kondisi AC-nya memang tidak terlalu terasa. Maka, alih-alih bakal ada agenda jalan-jalan keluarga—sebagai momen akurnya menantu-mertua—yang terjadi justru penghinaan yang semakin menjadi-jadi.
Berujung ribet dan sia-sia
Ujung dari membeli mobil Suzuki Ertiga bekas 2016 itu: jelas membuat hidup Dudul semakin ribet. Sebab, setelah itu, sering kali terjadi cekcok dengan istri karena persoalan sikap mertua.
Selain itu, ribet juga karena setiap bulan harus bayar cicilan ke bank gara-gara barang yang ternyata tidak terlalu Dudul perlukan. Sudah tidak bisa memuaskan mertua, tidak terlalu fungsional juga untuk keperluan angkut-angkut keperluan dagangan.
Lebih-lebih, mobil keluarga tersebut dibeli dengan mengorbankan pick-up pemberian bapak: saksi masa-masa awal sang bapak merintis usaha yang kemudian bakat wirausaha itu diturunkan pada anak-anaknya—termasuk ke Dudung.
“Kayaknya emang sampai kapan pun aku nggak bakal bisa bener-bener diterima mertua. Tapi karena terlanjur beli, aku mencoba mensyukurinya karena bisa lah buat ngangkut keluargaku sendiri,” ujar Dudul. Walaupun keluarga Dudul tidak pernah menuntut Dudul untuk ini-itu.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
