Bagi orang lain, Honda GL Pro hanyalah motor tua biasa. Namun bagi Galang (35), ceritanya jelas berbeda. Motor tua tersebut memiliki sejarah dan kebanggaan simbahnya menjadi Carik (Sekretaris Desa). Motor tersebut menjadi simbol status sosial keluarganya di desa.
***
Pagi itu saya mampir ke rumah Galang sebelum berangkat ke kantor. Kami mengobrol di teras rumah sambil sesekali melihat ke arah garasi. Di sana ada sebuah Honda GL Pro tua yang berdiri dengan standar dua. Cat dan bodinya terlihat terawat. Tidak banyak aksesori tambahan yang menempel di tubuh motor itu.
Motor itu mengingatkan Galang kepada Mbah Kromo, simbahnya yang dahulu menjadi Carik atau Sekretaris Desa di salah satu kalurahan di Gamping, Sleman. Mbah Kromo menjabat sejak sekitar 1980-an sampai 1995.
Pada masa itulah sebuah Honda GL Pro menjadi bagian dari perjalanan tugasnya sebagai pamong kalurahan.
Motor tua dengan sejuta kenangan simbahnya
Galang bercerita, Honda GL Pro milik simbahnya dahulu merupakan motor dinas yang digunakan untuk menunjang aktivitas sebagai Carik. Ia masih mengingat cerita keluarganya tentang bagaimana motor tersebut dipakai Mbah Kromo untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari.
“Dulu, siapapun yang memiliki Honda GL Pro di kampung kita, pasti kalau tidak orang kaya ya pejabat kelurahan,” ujar Galang kepada saya, Jumat (18/9/2026).
Menurut Galang, motor juga ikut menjadi penanda kelas sosial pada zamannya. Pamong atau staf kalurahan lain, menurut ingatannya, lebih sering menggunakan motor seperti Honda Astrea Grand atau Astrea Impressa. Sementara GL Pro terlihat lebih besar dan gagah.
Cerita itu membuat GL Pro bukan cuma kendaraan bagi Galang. Motor tersebut menjadi benda yang menghubungkannya dengan masa ketika simbahnya masih aktif bekerja.
Setelah Mbah Kromo pensiun, motor dinas tersebut dikembalikan kepada kalurahan. GL Pro itu kemudian tidak lagi berada di rumah keluarganya. Namun, ingatan Galang terhadap motor tersebut tidak ikut hilang.
GL Pro White Engine memang cocok disebut motor sport pada zamannya
Honda GL Pro yang menjadi referensi Galang adalah generasi GL Pro White Engine, yang diproduksi sekitar 1985-1991. Julukan White Engine merujuk pada warna blok mesin yang tampak putih atau abu-abu terang. Honda meluncurkan model ini pada 1985 dengan mesin 144,7 cc.
Spesifikasinya cukup besar untuk ukuran motor pada zamannya. Mesin yang digunakan merupakan mesin 4-tak satu silinder OHC. Tenaga maksimumnya tercatat sekitar 15 HP pada 8.500 rpm.
Dimensinya juga menunjukkan karakter motor sport-touring pada zamannya. Rem depannya sudah cakram single-piston, sementara belakang masih menggunakan tromol. Ban depan-belakang masih gagah. Tangki bahan bakarnya sekitar 8 liter.
Bagi Galang, sederet spesifikasi itu bukan alasan utama mengapa ia mencari motor tersebut. Ada alasan yang jauh lebih personal.
Sengaja membeli Honda GL Pro demi menghidupkan kenangan simbah
Setelah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, Galang mulai berpikir untuk mencari Honda GL Pro yang bentuknya mendekati motor milik Mbah Kromo.
Ia kemudian menemukan sebuah unit melalui Facebook. Motor itu dianggapnya cukup mirip dengan motor yang dahulu digunakan simbahnya. Setelah berkomunikasi dengan penjual dan melakukan transaksi, Galang mengeluarkan sekitar Rp20 juta.
“Waktu itu mikirnya ya sudah, aku pengen punya sendiri. Biar ada lagi barang yang mengingatkan sama simbah,” katanya.
Pagi itu, Galang menunjuk motor yang terparkir di garasi. Ia terlihat cukup puas melihat kondisi motor tersebut.
Bagi Galang, uang Rp20 juta bukan semata-mata untuk membeli kendaraan tua. Ada sesuatu yang menurutnya ikut terbeli: perasaan memiliki kembali benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan simbahnya.
“Orang Jadi Yakin Kalau Simbahku Carik”
Saya kemudian bertanya kenapa ia menyebut motor tersebut sebagai simbol kebanggaan keluarga. Galang menjawab tanpa banyak berpikir.
“Bangga, bro. Orang-orang jadi semakin yakin kalau simbahku Carik karena motor itu,” katanya sambil menunjuk GL Pro yang mengilap di hadapan kami.
Bagi Galang, jabatan Carik yang pernah dipegang simbahnya masih memiliki tempat tersendiri dalam cerita keluarganya. Ia tidak sedang mengatakan bahwa sebuah motor membuktikan seseorang pernah menduduki jabatan tertentu. Namun, GL Pro membuat cerita tentang simbahnya terasa lebih nyata baginya.
Ia merasa seperti mendapatkan kembali sebagian kecil dari citra sosial yang dahulu melekat pada keluarganya.
Motor tua itu akhirnya menjadi semacam pengingat visual bahwa pernah ada seseorang di keluarganya yang setiap hari berangkat menjalankan tugas sebagai pamong kalurahan dengan motor tersebut.
Honda GL Pro dan warisan ingatan juga simbol kebanggaan keluarga
Menariknya, Galang tidak menyimpan motor itu sebagai barang pajangan.
Ia masih menggunakannya untuk berkeliling desa. Sesekali motor tersebut dipakai untuk mengantar anaknya sekolah. Mesin dan bagian bodinya, menurut Galang, sebisa mungkin dipertahankan dalam kondisi orisinal.
“Gagah, bos. Rasanya kayak lurah yang baru pulang dari kelurahan kalau lewat jalan sawah di sana,” katanya sambil tersenyum.
Saya tertawa mendengar perumpamaan itu. Pagi semakin beranjak, sementara saya harus segera berangkat ke kantor. Galang masih berdiri di teras rumah, sesekali melihat ke arah GL Pro yang kembali ia standar dua.
Motor itu memang tidak lagi menjadi kendaraan dinas Mbah Kromo. Tidak pula membawa surat tugas atau mengantarkan simbahnya menuju kantor kalurahan seperti puluhan tahun lalu.
Tetapi bagi Galang, Honda GL Pro itu tetap membawa sesuatu yang lain: cerita tentang simbahnya.
Sebuah motor tua akhirnya tidak cuma menjadi kendaraan yang diwariskan lewat cerita. Ia menjadi benda yang membuat Galang merasa sedang membawa sedikit kebanggaan keluarganya ketika melintas di jalan kampung.
Dan setiap kali mesin motor itu menyala, kenangan tentang Mbah Kromo seperti ikut berjalan bersamanya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
Baca Juga: Honda GL Pro dan Modifikasi yang Membuatnya Loyo atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
