Sepanjang perjalanan pulang ke Rembang via Grobogan dengan travel, amat mudah mendapati rumah bertingkat dua bak istana. Rumah tersebut menjadi pemandangan kontras sebab berdiri “jauh dari peradaban”.
Jalur yang saya lewati terhitung jalur pelosok. Jalanannya rusak dikelilingi dengan bentangan sawah dan ladang yang cukup panjang. Jarak antarrumah warga merenggang jauh. Itupun dengan model rumah-rumah kayu khas desa pelosok.
Pemandangan serupa ternyata juga ada di beberapa desa pelosok lain di Grobogan: rumah tingkat 2 berdiri di antara rumah kayu reyot dan akses desa yang jauh dari peradaban.
Sepintas, punya rumah besar di desa pelosok memang bisa meningkatkan status sosial. Namun, jika rumah itu berdiri di desa pelosok Grobogan, rasanya justru nelangsa. Hal ini seperti yang dirasakan Danan (23), pemuda asal Grobogan.
Bangun rumah istana di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron biar puas
“Rumah-rumah itu dibangun dari hasil jerih payah menjadi pekerja migran,” ujar Danan berbagi informasi.
Memang, merangkum statistik kumulatif 2024-2025 dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Grobogan menempati urutan 4 besar daerah di Jawa Tengah penyumbang Pekerja Migran Indonesia (PMI). Negara-negara yang dituju meliputi: Jepang, Taiwan, dan Malaysia.
Kata Daan sendiri, belakangan ini anak-anak lulusan SMK saja semakin banyak yang berangkat ke Jepang. Karena nyata-nyata kerja di luar negeri menjanjikan uang besar yang bisa dikonversi menjadi rumah bak istana.
Bapak Danan sendiri bertahun-tahun bekerja di Malaysia. Hasilnya adalah sebuah rumah bertingkat dua yang ditempati Danan, ibu, dan adik perempuannya.
“Kalau pernah ngobrol sama ibu, kenapa rumahnya dibuat model-model istana? Katanya karena gara-gara sinetron. Kan sinetron di tv dulu gitu to, kalau orang kaya rumahnya pasti magrong-magrong kayak istana,” jelas Danan.
Di situlah letak kepuasannya. Karena bisa membangun rumah yang mirip di tv. Rumah yang ditempati artis. Kepuasan itu semakin paripurna karena meningkatkan derajat sosial si pemilik rumah di mata warga.
Sampai saat ini, orang-orang masih berlomba-lomba mengejar derajat sosial tersebut. Itulah kenapa, kata Danan, masih banyak yang mengadu nasib ke negara orang.
Punya rumah istana di desa pelosok Grobogan percuma karena tetap tidak sejahtera
Semasa kecil, Danan memang merasakan kepuasan tersendiri karena bapaknya bisa membangunkan rumah bak istana. Namun, seiring waktu, Danan malah merasa percuma.
Kini Danan menyadari, memang ia dan beberapa orang di Grobogan punya rumah impian. Sayangnya, rumah itu tidak berarti menjadi simbol kesejahteraan.
“Karena percuma punya rumah besar tapi aslinya hidup tidak sejahtera, ekonomi masih mobat-mabit,” ujar Danan.
“Kan nggak banyak pilihan, Mas, bagi orang sini. Kalau nggak merantau, mau kerja apa? Industri terbatas. Bertani nggak menjanjikan. Aku sendiri akhirnya merantau buat cari kerja di Semarang,” sambungnya.
Bapak Danan sendiri hingga saat ini pun masih harus berjibaku di Malaysia. Pasalnya, rumah besar juga diikuti oleh biaya maintenance yang tidak kalah besar pula.
Bapak Danan masih untung masih kuat bekerja di Malaysia. Ada tidak sedikit orang yang memilih tidak lagi kembali menjadi PMI. Alhasil, meski rumah tampak besar, tapi hidupnya tidak jauh lebih baik dari warga yang berada di garis kemiskinan.
“Tapi percuma juga bagi bapakku kan. Bangun rumah bak istana, tapi dia sendiri nggak bisa menikmati seutuhnya, karena hidupnya lebih banyak di luar negeri,” sambung Danan.
Jadi wagu karena “jauh dari peradaban”
Punya rumah bertingkat dua bak istana di desa pelosok di Grobogan pun akhirnya juga terasa wagu bagi Danan. Apalagi setelah ia mencicipi suasana kota di Semarang yang menawarkan aksesibilitas.
Danan menggambarkan begini: Oke, ia punya rumah bak rumah dalam sinetron. Namun, untuk sekadar mencari Indomaret dan SPBU Pertamina saja ia kesusahan saking jauhnya dari peradaban.
Jarak desa menuju untuk mengaksesnya merenggang jauh. Harus melewati jalanan berlubang dan area kebun atau persawahan yang cukup panjang.
“Sebenarnya nggak ada yang salah. Tapi poinku begini, kayaknya perlu sadar diri saja. Kalau tinggal di sebuah daerah pelosok, mending sewajarnya saja. Bikin rumah nggak usah besar-besar, yang penting nyaman, cukup,” ujar Danan.
“Tapi ya nggak mungkin kubilang ke bapak atau warga lain. Aku cuma sadar saja, oh iya ya, harusnya begitu cara mikirnya,” sambungnya.
Ngurusnya amat merepotkan
Belum lagi, lanjut Danan, mengurus rumah sebesar itu sungguh amat merepotkan. Sesederhana nyapu secara rutin, sungguh amat melelahkan. Baru melihat lanskap rumah yang luas dan bertingkat dua saja, kata Danan, sudah wegah dan terbayang capeknya.
“Pas bangun kan nggak kepikiran kalau rumah besar milik artis itu kan punya ART. Jadi si pemilik rumah nggak capek karena yang bersih-bersih ART. Kalau kita ya kita sendiri kan yang nyapu-nyapu,” ungkap Daan.
Tak ayal jika adik Danan kerap malas-malasan dan menggerutu kalau disuruh ibu bantu-bantu nyapu. Danan pun sama halnya. Tapi kalau tidak membantu, kasihan ibu kalau harus menyapunya sendirian.
“Kalau aku lagi di Semarang, terus adikku males, ibu itu nyapunya nyicil loh. Hari ini nyicil bagian atas, besoknya bagian bawah,” beber Danan.
Memberi kesan horor, bikin takut di rumah sendiri
Dan yang paling konyol, rumah bak istana di desa pelosok Grobogan ternyata bisa memberi nuansa horor. Apalagi kalau penghuni rumahnya sedikit.
Pasalnya, banyak ruang kosong. Karena besar, jarak antara kamar dengan kamar mandi pun cukup merenggang. Itu membuat penghuni rumah bahkan takut kalau malam-malam ingin ke kamar mandi atau dapur sendirian.
Danan ingat, dulu semasa kecil, ia pasti minta diantar kalau hendak ke kamar mandi. Adiknya malah sampai sekarang (usia SMA) masih tidak berani ke kamar mandi atau tidur di kamar sendirian. Ia pasti tidur sekamar dengan ibunya.
“Aku sebenarnya nggak berani-berani amat. Karena nggak tahu kenapa, kalau ke kamar mandi malam-malam itu kok tiba-tiba merinding. Ada bayangan, eh pas melintasi salah satu sudut rumah tiba-tiba ada putih-putih (pocong atau kuntilanak) lewat. Kocak memang,” tutup Danan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
