Beberapa hari yang lalu, seorang kawan saya uring-uringan sepulang dari barbershop langganannya. Sambil mengaca di cermin kosannya, ia mengeluhkan potongan rambut barunya. Padahal, sejam yang lalu saat masih duduk di kursi tempat cukur, ia merasa pantulan wajahnya sudah sangat tampan.
Namun, begitu sampai di kamar kos, pesona itu mendadak luntur. Potongan rambutnya terasa aneh, kaku, dan seolah tidak nyambung dengan wajahnya.
“Dlogok tenan. Sing motong ora damang [Kurang ajar sekali. Yang motong rambut tidak becus],” kira-kira begitu ia meluapkan rasa dongkolnya.
Mendengar omelannya, saya cuma bisa tertawa lepas. Meski sekarang saya berambut gondrong dan jarang berurusan dengan tukang cukur, saya sangat paham penderitaan itu.
Dulu, saya juga pernah berada di fase rutin potong rambut sebulan sekali agar terlihat rapi. Dan, siksaan “merasa jelek setelah potong rambut” itu hal umu yang, barangkali, dialami hampir semua laki-laki.
Puncaknya biasanya terjadi menjelang Lebaran. Sudah jadi rahasia umum kalau tempat cukur akan antre panjang pada H-1 hari raya. Ironisnya, saat salat Idulfitri keesokan harinya, banyak orang yang penampilannya malah terlihat “aneh”.
Alih-alih tampil maksimal, rambut mereka justru terlihat kurang pas. Ada yang malah menyebutnya seperti sapu ijuk yang baru saja dipangkas.
Mitos absurd kaca ajaib di barbershop
Saat rasa tidak puas itu muncul, pihak yang paling sering dijadikan kambing hitam tentu saja si tukang cukur. Teman saya tadi, dan mungkin banyak orang di luar sana, sering kali melemparkan tuduhan tak berdasar.
Misalnya, menuduh kaca barbershop itu “kaca ajaib” yang bisa memberikan efek meniruskan wajah. Kedua, menuduh manipulasi cahaya. Lampu sorot berwarna kuning yang estetik di tempat cukur dianggap menipu mata karena menciptakan bayangan dan gradasi rambut yang tajam.
Alhasil, begitu pelanggan pulang dan mengaca di cermin rumah sendiri, potongan rambut terlihat jauh berbeda.
Keresahan dan tuduhan-tuduhan absurd ini ditanggapi oleh Yudha (28), tukang cukur yang sudah lima tahun beroperasi di kawasan Sleman. Menurutnya, tuduhan soal “kaca ajaib” atau itu sangat berlebihan.
“Boro-boro punya kaca ajaib. Ya itu sih kaca pada umumnya aja,” tawa Yudha, saat ditemui Sabtu (15/8/2026) lalu.
“Masalah potongan rambut yang jadi aneh itu malah sering gara-gara dari pelanggan itu sendiri, Mas.”
Korban referensi TikTok
Kesalahan paling fatal, kata Yudha, adalah memaksakan gaya rambut tanpa berkaca pada bentuk wajah sendiri. Banyak pelanggan datang membawa referensi foto artis TikTok dengan potongan French Crop atau Mullet.
“Padahal bentuk wajah tiap orang itu beda. Nggak semua orang cocok dipotong model begitu,” jelasnya.
“Saya sering kasih saran, ‘Mas, wajahnya agak bulat, kalau dipotong French Crop nanti malah kelihatan aneh’ Tapi ya gitu, pelanggannya ngeyel dan kekeh minta dipotong sesuai foto. Giliran hasilnya aneh, kami yang disalahkan,” keluh Yudha.
Selain ego yang kelewat tinggi, penyakit lain yang sering menjangkiti pelanggan adalah kecenderungan “iya-iya aja” saat duduk di kursi cukur.
Yudha sering kali berhenti di tengah proses pemotongan untuk memastikan keinginan pelanggannya. Ia akan menyodorkan cermin kecil dan bertanya, “Bagian belakangnya kurang tipis nggak, Mas? Atasnya mau dipotong seberapa?”.
Alih-alih menjawab jujur sesuai kata hati, kebanyakan pelanggan cuma mengangguk kaku sambil bergumam, “Iya Mas, udah pas.” Padahal, barangkali, dalam hatinya mereka merasa potongannya masih kurang sreg.
“Masalah ketebalan, panjang-pendek, atau poni, itu kan hak pelanggan buat memutuskan. Kalau memang kurang tipis, ya bilang saja. Jangan pas di depan kita manggut-manggut setuju, tapi pas sampai rumah malah misuh-misuh,” tambahnya sambil tertawa.
Rahasia agar potongan rambut kelihatan pas di wajah
Lebih jauh lagi, Yudha membeberkan sebuah rahasia yang mungkin belum banyak diketahui orang, terutama untuk menjawab “potongan rambut aneh” saat Lebaran.
Menurutnya, kesalahan terbesar laki-laki adalah memotong rambut pada H-1 atau bahkan di hari H sebuah acara penting.
Idealnya, potong rambut itu dilakukan tiga sampai lima hari sebelum acara. Yudha menjelaskan, rambut yang baru saja terkena gunting tajam dan clipper biasanya masih dalam kondisi kaku.
Garis potongannya masih terlalu tegas, dan pori-pori kulit kepala belum memproduksi minyak alaminya secara sempurna untuk melembutkan rambut tersebut.
“Orang itu biasanya lagi di fase ‘ganteng-gantengnya’ di hari ketiga atau kelima setelah potong rambut. Di hari itu, rambut udah mulai lemas, minyak alaminya udah keluar jadi lebih gampang di- styling, dan secara psikologis mata kita juga udah terbiasa ngelihat pantulan gaya rambut baru itu di cermin,” jelas Yudha membagikan tips pamungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pertama ke Barbershop untuk Gaya-gayaan: Jadi Goblok Perkara Undercut, Kelaparan Seharian karena Bayar Mahal demi Potong Rambut Tak Memuaskan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
