Dalam dunia penggemar memancing, mendapatkan ikan tentu adalah tujuan yang utama. Namun, ada alasan di balik berpindahnya sejumlah pemancing dari kolam pemancingan ke mancing di sungai untuk memuaskan hobi mereka.
***
Bagi para pemancing, membawa pulang ikan pastinya menjadi tujuan utama. Namun, ada hal yang lebih penting daripada memenuhi ember dengan hasil tangkapan. Mereka ingin menikmati tantangan, mencari suasana berbeda, sekaligus menghemat pengeluaran. Karena itulah, sejumlah kawan saya mulai melirik sungai dan meninggalkan kebiasaan menghabiskan waktu di kolam pemancingan.
Rigen (27), misalnya, dulu gemar menghabiskan waktu di kolam pemancingan. Ia bisa datang berkali-kali dalam sebulan, bahkan menghabiskan beberapa sesi dalam satu malam. Namun, lama-kelamaan, ia mulai menghitung biaya yang harus keluar setiap kali melempar kail. Dari situ, ia menemukan alasan untuk lebih sering membawa joran ke sungai.
“Secara ekonomi jelas lebih hemat kalau mancing di sungai. Sekarang bayangkan tiket untuk mancing di kolam itu per sesinya Rp15 ribu untuk kolam kecil, dan semalam aku bisa sampai tiga sesi yang artinya Rp45 ribu harus aku keluarkan. Itu belum beli umpan, cadangan kail, minuman, dan rokok,” ujar Rigen kepada saya, Kamis (22/10/2026).
Bersama Rigen, saya merangkum lima alasan yang membuat mancing di sungai terasa lebih menarik daripada terus-menerus mengunjungi kolam pemancingan.
1. Mancing di kolam pemancingan bikin pengeluaran membengkak
Tiket Rp15 ribu untuk satu sesi memang terlihat murah. Namun, pengeluaran mulai membengkak ketika seorang pemancing tidak puas hanya dengan satu sesi. Rigen, misalnya, bisa menghabiskan tiga sesi dalam satu malam. Artinya, ia perlu merogoh kocek Rp45 ribu hanya untuk membayar tiket kolam.
Kalau kebiasaan itu berulang delapan kali dalam sebulan, biaya tiketnya mencapai Rp360 ribu. Angka tersebut belum memasukkan biaya umpan, kail pengganti, minuman, dan rokok selama menunggu ikan menyambar.
Jika total pengeluaran Rigen mencapai Rp800 ribu sebulan, berarti ada Rp440 ribu biaya tambahan di luar tiket. Angka ini perlu disesuaikan dengan pengeluaran aktualnya, tetapi hitungan tersebut menunjukkan bahwa hobi mancing bisa menguras uang jika seseorang terlalu sering mengunjungi kolam berbayar.
Bagi anak muda yang juga harus memikirkan kebutuhan sehari-hari, pengeluaran semacam ini layak masuk perhitungan. Uang ratusan ribu rupiah bisa mereka alihkan untuk membeli bensin, makan, atau memenuhi kebutuhan lain.
Sementara itu, sungai menawarkan pilihan lebih hemat selama pemancing memilih lokasi yang terbuka untuk umum dan tidak memungut biaya. Mereka tetap perlu membeli umpan, menyiapkan perlengkapan, dan membayar ongkos perjalanan. Namun, mereka tidak harus membayar tiket setiap kali ingin memperpanjang waktu mancing.
Meski begitu, sungai tidak otomatis gratis di semua tempat. Biaya perjalanan, akses lokasi, dan kebutuhan perlengkapan tetap perlu masuk perhitungan. Penghematan bergantung pada lokasi serta kebiasaan masing-masing pemancing.
2. Sensasi mancing di sungai lebih menantang
Selain perkara uang, perbedaan sensasi menjadi alasan lain untuk beralih ke sungai. Di kolam pemancingan berbayar, pengelola biasanya menebar ikan dan menawarkan aturan tertentu, mulai dari durasi sesi hingga jenis ikan yang boleh dibawa pulang. Namun, keberadaan ikan di dalam kolam tidak menjamin setiap pemancing mendapat tangkapan.
Di sungai, tantangannya berbeda. Pemancing perlu membaca arus, memperhatikan kedalaman air, memilih titik yang potensial, serta menyesuaikan umpan dengan ikan yang ingin mereka dapatkan. Kondisi cuaca dan perubahan debit air juga bisa memengaruhi aktivitas ikan.
Tidak ada jaminan bahwa umpan akan mendapat sambutan. Pemancing bisa duduk berjam-jam tanpa merasakan tarikan sedikit pun. Namun, ketidakpastian itulah yang justru membuat sebagian orang ketagihan.
Bagi Rigen, perpindahan dari kolam pemancingan ke sungai juga memberinya pengalaman yang berbeda. Ia tidak sekadar menunggu ikan menyambar umpan, tetapi perlu memahami kondisi tempatnya memancing.
“Aku pernah mancing di aliran sungai Opak, memang arusnya deras, namun karena adrenalin terpacu ya gas saja. Memang agak susah dapat ikan, namun setelah sekitar empat jam baru dapat ikan, itu pun tidak besar. Namun bukan perkara ukurannya, malah jauh lebih berkesan karena ada adrenalin yang ditukarkan,” ujar Rigen bersemangat.
Dalam situasi seperti itu, ukuran ikan bukan satu-satunya penentu kepuasan. Ikan kecil yang berhasil didapat setelah mencoba berbagai teknik bisa terasa lebih berkesan daripada tangkapan besar yang datang dengan mudah.
Tentu, hal ini bukan berarti mancing di kolam selalu mudah atau kurang menantang. Kolam dengan jenis ikan, teknik, dan aturan tertentu juga bisa menguji keterampilan pemancing. Perbedaannya terletak pada pengalaman yang mereka cari: sebagian menikmati kompetisi dan target tangkapan, sedangkan sebagian lainnya menyukai proses membaca alam dan menghadapi hasil yang tidak pasti.
3. Sungai Menawarkan Suasana yang Berbeda
Ada alasan lain yang sering luput ketika orang membicarakan hobi mancing: suasana. Kolam pemancingan menyediakan tempat khusus untuk memancing, lengkap dengan pengaturan area dan fasilitas sesuai pengelolanya. Di sisi lain, sungai menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan lingkungan terbuka.
Pemancing bisa mendengar suara air, melihat perubahan arus, memperhatikan pepohonan di tepian, atau sekadar duduk sambil mengamati keadaan sekitar. Mereka tidak harus terus-menerus memikirkan jumlah ikan yang masuk ke ember.
Bagi pemuda yang sehari-hari sibuk bekerja atau menjalani rutinitas, kegiatan tersebut bisa menjadi cara sederhana untuk mengambil jeda. Mereka punya kesempatan untuk duduk, menunggu, dan mengalihkan perhatian dari urusan sehari-hari.
Penelitian Obi Pratama berjudul Urban Fishing as Informal Leisure and Psychosocial Coping: A Case Study from Bandung, Indonesia yang terbit pada 2025 memberi gambaran mengenai fungsi sosial kegiatan memancing. Penelitian tersebut melibatkan survei terhadap 60 responden dan wawancara mendalam dengan 15 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa responden memanfaatkan kegiatan memancing untuk mencari ketenangan, mengurangi stres, dan membangun hubungan sosial.
Penelitian itu tidak secara khusus membahas pemuda yang meninggalkan kolam pemancingan demi sungai. Namun, temuannya membantu menjelaskan mengapa kegiatan memancing bisa menawarkan kepuasan di luar hasil tangkapan.
Bagi Rigen dan kawan-kawannya, pengalaman di sungai dapat menjadi alasan untuk kembali. Akan tetapi, saya tidak ingin buru-buru menganggap sungai selalu lebih tenang. Lokasi yang ramai, air tercemar, sampah, atau akses yang sulit justru bisa merusak pengalaman memancing.
4. Mancing di sungai bisa menjadi ajang srawung
Mancing sering terlihat seperti kegiatan individual. Seseorang membawa joran, memasang umpan, lalu menunggu ikan menyambar. Namun, ketika beberapa pemancing berkumpul di satu tepian sungai, kegiatan itu bisa berkembang menjadi ruang srawung.
Mereka dapat bertukar informasi tentang jenis umpan, membicarakan titik yang dianggap potensial, atau saling membantu ketika kail tersangkut. Percakapan sederhana juga bisa berkembang menjadi obrolan tentang pekerjaan, keluarga, hingga kabar terbaru dari kampung. Kegiatan semacam ini tidak selalu membutuhkan komunitas resmi atau iuran rutin. Pertemuan berulang di tempat yang sama saja bisa membuat para pemancing saling mengenal.
Penelitian tentang urban fishing di Bandung tadi juga menemukan dimensi sosial dalam kegiatan memancing. Interaksi ringan antarpemancing, seperti berbagi umpan dan bertukar pengalaman, dapat membentuk hubungan sosial informal.
Bagi anak muda, sungai berpotensi menjadi tempat berkumpul tanpa perlu mengeluarkan banyak uang. Mereka tetap bisa menghabiskan waktu bersama meski tidak sedang punya anggaran untuk nongkrong di kafe atau membayar beberapa sesi kolam pemancingan.
“Biasanya aku sama kawan yang juga sama-sama suka mancing di sungai. Jarang banget mancing sendirian. Bahkan kalau kepaksa berangkat sendiri, pasti di sungai ketemu orang yang juga suka mancing di sungai,” ujar Rigen
5. Boncos di sungai tidak sama ketika boncos di kolam pemancingan
Salah satu hal menarik dari mancing di sungai ialah hasilnya sulit diprediksi. Pemancing bisa mendapat beberapa ekor ikan, tetapi bisa juga pulang tanpa tangkapan. Mereka tidak bisa memastikan hasil hanya dengan melihat durasi memancing atau banyaknya umpan yang dibawa.
Anehnya, kegagalan tidak selalu membuat kegiatan itu terasa sia-sia. Ada pemancing yang tetap puas karena berhasil mencoba teknik baru, menemukan titik potensial, atau sekadar menikmati waktu bersama kawan-kawannya.
Di sinilah ukuran keberhasilan mulai berubah. Jika tujuan utama seseorang hanya membawa pulang ikan, pengalaman boncos tentu mengecewakan. Namun, jika ia mencari tantangan dan suasana berbeda, hasil tangkapan bukan satu-satunya hal yang menentukan kepuasan.
Bagi Rigen, pilihan antara kolam pemancingan dan sungai akhirnya berkaitan dengan cara ia menikmati hobi. Kolam menawarkan fasilitas serta biaya yang lebih mudah dihitung sejak awal. Sungai memberi ruang untuk menghadapi ketidakpastian, meski pemancing harus memperhatikan kondisi lingkungan dan keselamatan.
Pilihan tersebut tidak harus berlaku bagi semua orang. Ada pemancing yang tetap memilih kolam karena ingin mengejar target tangkapan atau menikmati fasilitas yang tersedia. Ada pula yang lebih menyukai sungai karena bisa memancing dengan pengeluaran lebih terkendali.
Yang jelas, hobi memancing tidak selalu harus berujung pada ember penuh ikan. Bagi sebagian pemuda kampung, duduk di tepian sungai, mencoba membaca arus, dan menghabiskan waktu bersama kawan-kawan sudah cukup menjadi alasan untuk kembali. Apalagi, ketika kesenangan itu tidak harus dibayar dengan menghabiskan ratusan ribu rupiah setiap bulan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pemuda Kampung Tak Punya Pekerjaan Idaman, Tak Masalah Gaji Kecil yang Penting Bisa Mancing atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan