ADVERTISEMENT

Alasan Gen Z Balas Chat WA Singkat demi Kewarasan, tapi Bikin Orang Lain Jengkel

balas chat WA singkat dan lama. MOJOK.CO

Sebagian orang tak peduli dicap red flag hanya karena memiliki kebiasaan balas chat singkat di WhatsApp (WA). Bukan karena cuek, tapi ada alasan tertentu yang melandasinya.

***

ADVERTISEMENT

Komunikasi melalui chat WA seringkali menjadi masalah. Ada tipe orang yang membalas super panjang atau memilih menggunakan voice note. Sementara itu, orang yang mengirim pesan singkat atau dry text dikategorikan redflag.

Misalnya, hanya menjawab ‘ok’, ‘ya’, ‘thx’, ‘p’, hingga ‘wkwk’. Meski ‘wkwk’ sering diartikan sebagai tanda orang tertawa, bukan berarti orang yang mengetiknya bisa sambil tersenyum, melainkan berwajah datar atau biasa saja.

Sebagian juga ada yang jengkel dengan orang yang sudah membaca pesan, tapi tidak membalas. Alasannya, “sudah dijawab lewat pikiran” seolah-olah keduanya adalah ahli cenayang.

Ada pula yang baru membalas berjam-jam setelah itu menghilang. Tak pelak, gaya komunikasi semacam ini seringkali rawan disalahpahami, bahkan dianggap sebagai tanda orang yang red flag. 

Meski begitu, Melisa, Ines, dan Miftah sebagai gen Z yang memiliki kebiasaan tersebut mengaku punya alasan tersendiri. 

Balas chat singkat di WA untuk menghindari obrolan

Ines (25), salah satu pengguna WA yang terbiasa mengirim chat singkat rasanya sudah kebal dengan cibiran orang yang menganggapnya red flag. Ada yang bilang bahwa dirinya tipe time-waster atau sering membuat orang ‘digantung’. 

Padahal, ia hanya membalas chat WA singkat kepada orang-orang tertentu.

“Sebenarnya karena pertanyaan dari obrolan tersebut juga sudah berakhir dan nggak membutuhkan penjelasan lebih. Jadi aku memilih mengakhiri obrolan dengan jawaban singkat seperti ‘ok, ya, sdh, thx’,” ujar Ines, Senin (19/10/2026).

ADVERTISEMENT

Ines pun tak peduli jika pesan itu terkesan cuek, bahkan ia masa bodoh dengan persepsi orang. Menurutnya, setiap orang bebas menilai. Ia tidak ingin membatasi cara pikir mereka atau perasaan orang lain.

“Jika itu membuat mereka overthinking, ya bukan tanggung jawabku, lagian nggak ada yang suruh mereka overthinking karena jawabanku. Intinya pesan kusampaikan sudah selesai,” kata Ines.

Apalagi, ada beberapa orang yang menurut Ines berisik, terlalu banyak bicara atau banyak tanya. Ines juga tidak nyaman dengan pertanyaan yang sifatnya privasi atau mengulik tentang dirinya.

“Makanya aku pilih jawaban singkat sebagai hakku, sekaligus cara yang tepat agar mereka paham kalau aku nggak ingin melanjutkan obrolan,” ujar Ines.

Balasan pesan menyesuaikan komunikan

Namun, tak semua orang Ines perlakukan begitu, terutama pada orang-orang dengan status sosial atau jabatan tertentu. 

“Aku masih bisa mengukur kedudukan dan mengposisikan diriku dalam menjawab chat WA,” kata Ines.

Ines juga masih mempertimbangkan sekiranya ada kondisi genting sementara mereka tak dapat bertemu. Misalnya, saat seorang teman ingin curhat melalui chat WhatsApp. Ines harus memahami dulu karakter dan kepribadian orang tersebut agar pesannya tidak menyinggung.

Tak jauh berbeda dengan Miftah, dalam kondisi lain seperti urusan pekerjaan, ia sebisa mungkin menjawab klien atau teman kantornya dengan chat WA panjang. Sementara, untuk nomor WhatsApp pribadi, ia lebih sering membalas pesan selama berjam-jam lalu menghilang.

“Kalau aku nggak akrab malah slow respons parah aku,” kata Miftah.

Sebaliknya, Miftah pernah menyinggung temannya yang sering membalas pesan dry text tapi akhirnya dia menyerah. Sebab, meski sudah diingatkan berkali-kali, temannya tetap melakukan hal yang sama.

“Dulu aku kesal sih, tapi sekarang nggak karena sudah hafal dan paham dengan kepribadiannya,” kata Miftah.

Alasan orang membalas chat singkat di WA

Dalam dunia psikologi, gaya bahasa melalui chat WA juga mengindikasikan adanya beban psikologis seseorang. Pendiri My Online Therapy, Elena Touroni mengatakan kebiasaan tersebut dapat dipicu karena kesibukan seseorang hingga mengalami kewalahan saat menerima banyak pesan.

Tak hanya itu, orang yang kewalahan menerima pesan juga memunculkan perasaan cemas yang membuatnya ingin merespons secara singkat. Pada akhirnya, perasaan cemas saat menerima pesan adalah hal yang wajar.

Elena berujar tidak semua orang sanggup menghadapi banyak komunikasi di tengah banyaknya aplikasi pesan dalam satu waktu. Dalam dunia psikologi, fenomena ini disebut sebagai digital behaviour.

Karena itu, Elena menyarankan bagi orang yang terbiasa membalas pesan singkat, sebaiknya mencari motivasi untuk terhubung kembali dengan orang lain, memiliki niat baik yang lebih, sehingga chat di WA tidak hanya sebatas kata ‘ok’, ‘y’, atau ‘wkwk’.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.