Lewat potret keseharian seorang pembersih toilet di Jepang, sutradara Wim Wenders menyisipkan lagu-lagu favorit Hirayama untuk menemani gaya hidup slow living-nya. Berikut 10 lagu ikonik era 60 hingga 70-an yang sukses memberikan makna mendalam bagi perjalanan sang tokoh utama dalam film Perfect Days:
#1 House of The Rising Sun sebagai pembuka film Perfect Days
Belum banyak orang tahu kalau lagu House of The Rising Sun yang dipopulerkan oleh The Animals ini sebenarnya balada rakyat kuno dari Inggris. Konon, para pekerja tambang atau narapidana sering menyanyikan lagu ini sebagai hiburan mereka di tengah kegetiran hidup.
Salah satu penggalan reff-nya yang paling populer ialah:
Oh, Mother, tell your children
Not to do what I have done
To spend your lives in sin and misery
In the house of the rising sun
Usut punya usut, lirik-lirik ini terinspirasi dari rumah asli bernama House of The Rising Sun di New Orleans. Sebagian orang menafsirkan lirik ‘house’ sebagai rumah bordil, sarang judi, atau bar kumuh, tapi ada pula yang menduganya sebagai penjara perempuan.
Namun secara umum, lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang hidupnya hancur akibat terjebak dalam lingkaran dosa, sekaligus pengingat bagi pendengar agar tak terbawa pada kehancuran yang sama. Begitu juga yang diharapkan dalam film Perfect Days.
#2 Sittin’ on The Dock of The Bay – Otis Redding (1968)
Lagu yang dibawakan oleh mendiang Otis Redding ini pernah memenangkan penghargaan Grammy Awards for Best R&B Performance dan Best R&B Song di masanya. Liriknya berisi tentang refleksi mendalam dari seseorang yang merasa hidupnya tidak menentu hingga merasa kesepian dan terasing.
#3 Walkin’ Thru The Sleepy City – The Rolling Stones (1975)
Tak jauh berbeda dengan lagu milik Otis Redding, lagu Walking Thru The Sleepy City ini juga bercerita tentang kesepian, pengasingan diri, dan kerinduan akan koneksi manusia kembali.
Dalam film Perfect Days lagu ini mengiringi perjalanan Hirayama dengan mobil kebersihannya usai bekerja dari pagi hari di tengah jalanan kota Tokyo.
#4 Feeling Good – Nina Simone (1965)
“Birds flying high you know how I feel”. Penggalan lirik lagu Feeling Good tersebut menggambarkan kebebasan dari kungkungan luka masa lalu. Tak hanya burung, penulis juga menggunakan simbol-simbol alam yang bebas.
Dalam film Perfect Days, Hirayama adalah sosok yang menyukai pohon. Ia biasa melihat cahaya dari sela-sela dahan yang dikenal dengan istilah komorebi di Jepang. Sementara lewat lagu ini, pendengar diajak untuk memulai lembaran hidup yang baru.
#5 Pale Blue Eyes – The Velvet Underground (1969)
Lagu ini ditulis oleh Lou Reed untuk cinta sejatinya tapi tidak bisa dimiliki sepenuhnya. Lirik-liriknya berisi tentang perasaan kompleks, kerinduan yang mendalam, serta cinta yang tak kesampaian.
#6 Redondo Beach – Patti Smith (1975)
Saat menuliskan lagu Redondo Beach, Patti Smith mengaku terinspirasi dari pertengkaran hebat antara dirinya dengan saudara perempuannya, hingga saudaranya itu tidak pulang sampai malam.
Lewat lagu tersebut, Smith ingin mengungkapkan kedekatannya dengan sang saudara bahwa ia merupakan sosok berharga dalam hidupnya. Dalam film Perfect Days, Hirayama sempat menangis saat bertemu lagi dengan adik perempuannya.
#7 Adi Sakana (Blue Fish) – Sachiko Kanenobu (1972)
Lagu berjudul Adi Sakana yang berasal dari mahakarya musik folk Jepang ini dipilih oleh Sutradara Wim Wenders sebagai salah satu soundtrack utama Perfect Days, karena menggambarkan realitas kehidupan dewasa yang sering kali terasa stagnan. Namun, ia berhasil membawa karakter Hirayama pada kedamaian dari masa lalu.
#8 Sunny Afternoon – The Kinks (1966)
Di balik melodi santai Sunny Afternoon, lirik-lirik lagu ini menggambarkan satir politik dan isu sosial. Ray Davies menulis lagu ini untuk mengkritik tingginya biaya pajak bagi kelompok kaya di Inggris.
#9 Brown Eyed Girl – Van Morrison (1967)
Lagu ini membawa pendengar untuk bernostalgia mengenang masa kecil hingga remaja yang menikmati kebebasan. Masa-masa di mana seseorang dapat bermain bersama kawan, lari-lari di alam, dan tertawa di bawah sinar matahari yang menjadi kemewahan saat dewasa.
#10 Perfect Day – Lou Reed (1972)
Pada akhirnya, Perfect Day karya Lou Reed dalam film ini mampu menutup segala perasaan yang memuncak dalam diri Hirayama. Lagu ini diputar seiring dengan ekspresi Hirayama yang ambigu, saat dirinya hampir menangis maupun tersenyum secara beriringan, tapi pun bingung dengan alasannya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Potret Himpitan Hidup Guru Honorer dalam Lagu “Optimis” di Album “Semai”, SMARAI Ajak Belajar Menghadapi Kesulitan dan Kegagalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan lainnya di rubrik Liputan