Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Fakultas Kedokteran Baru Dibangun di Mana-mana, padahal Kesejahteraan Dokter Masih Tiarap dan Fasilitas Kesehatan Dibilang Jelek Saja Belum

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
2 April 2024
A A
Fakultas Kedokteran Baru Dibangun di Mana-mana, padahal Kesejahteraan Dokter Masih Tiarap dan Fasilitas Kesehatan Dibilang Jelek Saja Belum rumah sakit

Fakultas Kedokteran Baru Dibangun di Mana-mana, padahal Kesejahteraan Dokter Masih Tiarap dan Fasilitas Kesehatan Dibilang Jelek Saja Belum

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Wacana memperbanyak fakultas kedokteran yang baru bergulir dimulai saat kampanye capres. Jumlah dokter dianggap kurang, yang berefek ke susahnya rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang maksimal. Tapi pertanyannya adalah, betulkah fakultas kedokteran baru jadi solusi? Atau bisa jadi, masalah sebenarnya bukan itu?

***

Lini masa Twitter (saya tak akan pernah sudi menyebutnya X) berguncang gara-gara ada cuitan tentang fakultas kedokteran UNY. Sebagai alumni universitas tersebut, saya ikutan heran. Untuk apa UNY bikin fakultas kedokteran? Urgensinya apa?

Pertanyaan tentang urgensi ini mungkin tak hanya muncul di UNY, tapi juga di universitas lain. Banyak kampus yang tiba-tiba bikin FK baru, meski jurusan lain masih butuh bantuan yang tak sedikit. Ada yang menduga FK baru ini bertujuan untuk meraup uang sebanyak-banyaknya, ada yang bilang kampus FOMO karena kampus keren selalu punya FK. Entah mana yang benar, tapi keduanya terdengar masuk akal.

Sepintas, pembangunan fakultas kedokteran yang masif terdengar masuk akal. Rasio dokter dengan penduduk di Indonesia begitu menyedihkan, 1:1000. Jauh lebih rendah ketimbang Kuba, yang memiliki rasio 8.4:1000. Langkah (yang terlihat) paling masuk akal adalah menambah jumlah dokter. Siapa pun tahu hal ini.

Tapi, masalahnya, apakah menambah jumlah dokter menyelesaikan masalah, atau malah membuat masalah lain makin parah?

Tentunya, yang tahu jawaban ini ya para dokter. Kali ini, saya bertanya seputar fenomena ini pada mereka.

FK baru bukan jawaban

Saya menanyai 3 narasumber terkait ini. Mbak Riri, Mbak Tika, dan Mas Ardi (semua nama disamarkan) terkait fenomena FK baru ini. Makin banyak perspektif, makin variatif.

Riri baru membalas pesan saya jam 7 malam. Saya tentu tak bermasalah dengan itu. Setelah sedikit berbasa-basi, saya langsung ke poinnya. Apakah masifnya pembangunan fakultas kedokteran itu sebenarnya bagus? Dan bagaimana pendapatnya tentang universitas yang terkesan latah dengan ikut-ikutan bangun FK.

“Pembangunan FK baru bagi aku nggak masalah karena rasio dokter pasien di Indonesia masih di bawah standar. Persebaran dokter juga belum baik. Yang aku pertanyakan itu kualitas FK barunya mas. Apakah tenaga pengajarnya bener-bener sudah sesuai? Mengingat jumlah dokter spesialis di Indo terbatas, apalagi dokter spesialis yg jg merangkap jadi dosen.”

“Jujur, aku kurang tau nih FK baru itu apa tenaga pengajarnya udah dokter spesialis yg sudah punya banyak pengalaman dan sudah mumpuni untuk ngajar. Atau kebanyakan pengajarnya dokter spesialis yang baru lulus atau malah didominasi dokter umum yg punya gelar master saja. Juga termasuk kualitas sarana prasarananya. Laboratoriumnya, kelas skill lab-nya, dan lain-lain.”

Perkara universitas yang latah, Riri punya pendapat yang menarik.

Fakultas kedokteran itu ribet

“Menurutku aku ragu ya, Mas. Univ X (nama disamarkan) buka FK juga aku ragu. Soalnya FK itu mahal banget pembangunan dan persiapannya. Belum mikirin runah sakit jejaring, rumah sakit pendidikan dll. Universitas tempatku kuliah aja baru punya RS pendidikan sendiri setelah aku lulus. Sebelumnya, RS pendidikannya sifatnya kerja sama, blm bener-bener milik sendiri. Jadi istilahnya kalo dari universitas yg dananya kurang kuat dan buka FK, jujur aku ragu.

“Walaupun swasta kalo dana kuat, kayak UXX, aku malah nggak ragu. Jejaringnya RS besar, kerja sama luar negeri banyak. Bahkan udah punya 2 program pendidikan dokter spesialis. FK swasta pertama di Indo yang punya program pendidikan dokter spesialis. Walaupun pas awal buka banyak nada miring sih.”

Iklan

Tika, narasumber yang lain, menjawab di waktu yang hampir sama dengan Riri. Jawabannya pun mirip-mirip.

“Ukuran baik (pembangunan fakultas kedokteran yang baru) ini sangat relatif, karena tergantung banyak faktor. Apakah tujuan penambahan itu bisa terlaksana sesuai sasaran, bukan membangun atau membuka saja, namun juga harus mempertimbangkan keberlangsungan proses pendidikannya juga harus dipikirkan.”

Bom waktu yang dibuat sendiri

Mas Ardi punya pendapat lain. Dia langsung menembak tanpa babibu, mengirimkan saya link berita yang berisi informasi dari Kemendikbud bahwa ada 115 fakultas kedokteran yang ada di Indonesia.

“Bayangkan dari 115 fakultas itu, katakanlah menghasilkan 100 lulusan tiap tahunnya. Akan ada 11,500 dokter baru. Ini per tahun, bayangne 10 tahun meneh, Mas, profesi iki dadi profesi sing wagu.”

Saya tertohok dengan pendapat ini. Saya mendukung jika jumlah dokter diperbanyak, tapi nggak mengira kalau akan sebanyak ini. Dengan jumlah fakultas kedokteran yang segini saja, harusnya sudah bisa memenuhi rasio dokter ke penduduk lets say, 10 tahun lagi. Jadi ya, FK baru ini jadi solusi yang obsolete menurut saya.

Mudahnya, makin banyak jumlah pekerja suatu profesi, makin murah tenaga mereka. Itu hukum yang menyedihkan, tapi realitasnya memang seperti itu. Masalahnya, kesejahteraan dokter tak bisa dibilang bagus, meski jumlah dokter yang belum memenuhi rasio.

Dan semua narasumber saya sepakat dengan ini.

Kesejahteraan adalah faktor utama

Bicara kesejahteraan dokter, tak bisa melepaskannya dari persebaran. Sulit untuk melepaskan dua hal ini, dan Mas Ardi memberikan gambaran yang jelas perkara ini.

“Sekarang kita ambil contoh Blitar, Mas. Ada 1 juta lebih penduduknya. Kalau dengan rasio ideal 1:1000, maka Blitar butuh 1200 dokter. Ini masih masuk akal karena penduduknya banyak. Yaaa masih bisa usaha kiri-kanan lah. Tarif pun tergolong masih bisa diusahakan sesuai dan tak rugi.”

“Lha kalau kita bicara di tempat lain. Contohnya Muara Teweh, Kalimantan. Tempatnya lebih gede ketimbang Blitar, tapi penduduknya jauh lebih sedikit (46 ribu). Pun penduduknya tidak terpusat seperti Blitar. Apa masih bisa dipaksa pemerataan kalau gitu? Dan berapa dana yang dibutuhkan untuk pemerataan? Dan terakhir, mau matok tarif berapa, Mas?”

“Ini aku jelas ngomongin sisi ekonomi soalnya dokter kan profesi. Tetap harus dibayar. Pun, klinik butuh pemasukan agar bisa tetap mengisi obat, peralatan, maintenance, dan sebagainya. Kalau dokter dan faskes numpuk di kota, karena realitasnya kayak gini.”

Riri punya pendapat yang mirip-mirip. Persebaran belum bisa maksimal sebab sarpras tak mendukung. Akhirnya, rasio dokter ke pasien sulit terwujud. Ujung-ujungnya, dokter menumpuk di pusat.

“Banyak yang nggak mau ke daerah, karena nggak ada fasilitasnya. Yang artinya jadi nggak bisa kerja. Misal, ada dokter bedah saraf, tapi di daerah rumah sakitnya nggak ada yang punya CT scan atau MRI. Ya otomatis jadi nggak bisa kerja kan?”

“Lalu masih bergelut dengan gaji yang tak sesuai, keamanan yang tak terjamin, juga dana medis yang nunggak. Menurutku sih, fakultas kedokteran yang masif tidak akan menyelesaikan ini.”

Menguatkan fakultas kedokteran yang ada harusnya jadi prioritas

Pegangan saya dalam hidup itu sederhana: jika pondasi kuat, semuanya akan lebih mudah. Pondasi keilmuan yang kuat akan bikin kita mudah dalam belajar. Pondasi logika yang bagus mempermudah kita dalam menjalani pekerjaan. Dan fakultas kedokteran pun, saya rasa berbagi hal yang sama. Riri pun sepakat akan hal ini.

“Sebenernya lebih setuju melanjutkan FK yg sudah ada, tapi diperbesar sarpras dan tenaga pengajarnya sehingga daya tampungnya bs ditambah. Kalo FK yang sudah berdiri lama harusnya sarprasnya, rumah sakit pendidikannya, dan lain-lain sudah lebih mumpuni. Tinggal “diperbesar” saja supaya daya tampung meningkat.”

Bagi Mas Ardi, fokusnya harusnya bukan di fakultas kedokteran, tapi di fasilitasnya. Percuma juga jika dokter banyak, tapi fasilitasnya kurang. Setuju sih, buat apa dokter banyak kalau rumah sakit dan puskesmasnya nggak merata?

“Menurutku fasilitasnya memang perlu diperbaiki. Percuma juga melahirkan banyak dokter baru tapi nggak ada penunjang kerjanya. Ya kalau ini nggak diperbaiki duluan, ya selamanya itu dokter akan menumpuk di kota.”

***

Masalah dasar dalam dunia kesehatan, hingga kini, tak teratasi. Rumah sakit kurang, kesejahteraan dokter yang tak segera membaik, dan masalah lainnya. Tapi, seperti masalah-masalah lain yang ada di negara ini, solusi yang ditawarkan dan dijalani bukanlah solusi yang tepat. Malahan seringnya menimbulkan masalah baru.

Tapi, tetap saja, fakultas kedokteran baru akan bermunculan. Gedung-gedung megah akan dibangun dengan girang. Tak ada yang bisa kita lakukan, kecuali jadi curiga bahwa motif pembangunan tersebut bukan untuk mengatasi masalah.

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Fakultas Kedokteran, Fakultas Paling Terhormat Melebihi Fakultas Lainnya di Indonesia

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 6 April 2024 oleh

Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Perfeksionis
Sehari-hari

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co
Sehari-hari

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO
Edumojok

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.