Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

Ilustrasi - Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Perjalanan ke Candi Borobudur, Magelang, di momen Hari Trisuci Waisak menjadi semacam “panggilan” kesadaran bagi penganut agama Buddha. Di hadapan mandala suci Borobudur, mereka meluruhkan ego diri—merenungkan kembali untuk apa mereka hidup di dunia yang fana ini? 

***

Pada Sabtu (30/5/2026) malam WIB, rumah keluarga Sunari (50-an) di Desa Padureso, Kecamatan Jumo, Temanggung, Jawa Tengah, disibukkan dengan kegiatan masak-memasak. 

Mereka memasak makanan untuk menyambut perayaan Hari Trisuci Waisak yang jatuh esok harinya, Minggu (31/5/2026). Memang hanya masakan sederhana: ayam kuah santan. Akan tetapi, bagi keluarga penganut Buddha Theravada tersebut, masakan sederhana tetap terasa istimewa karena esok harinya mereka akan menyambut Hari Trisuci Waisak 2026 M/2570 BE. 

“Sudah menjadi kebiasaan keluarga dan umat Buddha di desa kami, setiap acara agama (Buddha) pasti masak-masak. Bentuk sukacita lah. Khususnya Waisak,” ujar istri Sunari, Pariana (50-an) saat bercerita di rerumputan taman kawasan Candi Borobudur, Magelang, Minggu (31/5/2026) siang WIB. 

Setelah masak-masak, mereka akan memanjatkan doa-doa untuk leluhur dan diri sendiri sebelum akhirnya makan bersama dan bercengkrama dengan hangat. 

Bagi keluarga Sunari asal Temanggung, merayakan Waisak di Candi Borobudur Magelang menjadi momentum meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Bagi keluarga Sunari asal Temanggung, merayakan Waisak di Candi Borobudur Magelang menjadi momentum meluruhkan ego diri. (Aly Reza/Mojok.co)

Perjalanan ke Candi Borobudur Magelang untuk meluruhkan ego diri

Bagi keluarga Sunari dan warga Buddha di Desa Padureso, Hari Trisuci Waisak rasanya kurang paripurna kalau tidak mengikuti rangkaian ibadah puncak di Candi Borobudur. Sunari dan Pariana sendiri sudah sedari kecil mengikuti. 

“Rasanya ada yang kurang kalau setiap Waisak tapi nggak ibadah ke Borobudur,” ujar Pariana. 

“Karena sejak nenek moyang kami, Borobudur itu memang sakral,” sambung Sunari. 

Perjalanan dari Temanggung ke Magelang memang pendek belaka. Namun, perjalanan ini bukan perkara panjang atau pendek, tapi tentang seberapa dalam untuk merenung. 

Waisak di Candi Borobudur Magelang jadi momentum meluruhkan ego diri. (Aly Reza/Mojok.co)

Meluruhkan ego. Begitu yang Sunari renungkan dan refleksikan sepanjang roda bus membawa rombongan umat Buddha di desanya menuju Magelang. Tahun ini ada dua bus dengan total 50 umat Buddha yang berangkat. 

“Kita ini hidup untuk apa? Itu kesadaran yang harus kami miliki. Karena ibadah dalam kami kan soal kesadaran,” jelas Sunari. 

Untuk apa manusia hidup? Kesadaran di hadapan magisnya Candi Borobudur

Di sela berbincang, Sunari menatap lekat-lekat ke arah atas: menatap kemegahan deretan stupa. 

Bagi beberapa orang, candi tersebut mungkin tidak lebih dari tempat wisata. Namun, bagi umat Buddha seperti keluarga Sunari, Candi Borobudur terasa magis. Pasalnya, Candi Borobudur Magelang merupakan candi Buddha terbesar di dunia dan telah menjadi pusat spiritual sejak abad ke-8. 

Duduk bersila untuk munajat doa di pelatarannya memberi energi spiritual yang berlipat-lipat. Meski sejatinya ia meyakini bahwa energi spiritual bisa diperoleh dari mana saja. Dari ladang tempat Sunari bertani, dari dalam rumah sederhananya, maupun dari vihara di bawah lereng Gunung Sindoro. 

“Selalu yang saya pegang adalah, untuk apa manusia hidup? Manusia hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain,” kata Sunari, selaras dengan ajaran ajaran Sang Buddha Gautama: 4 Brahma Vihara (Empat Sifat Luhur), yakni:

  1. Metta (Cinta Kasih): Keinginan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan kepada semua makhluk.
  2. Karuna (Welas Asih): Keinginan untuk meringankan penderitaan makhluk lain.
  3. Mudita (Simpati/Turut Berbahagia): Kebahagiaan murni melihat orang lain sukses dan bahagia.
  4. Upekkha (Ketenangan Batin/Keseimbangan Jiwa): Kemampuan menerima kenyataan dengan pikiran yang tenang dan tidak memihak. 

Sunari selalu siap soal tulang-tulung dan cerita THR saat lebaran

Pariana terkekeh saat menceritakan kebiasaan suaminya yang selalu siap tulang-tulung. 

Pariana menggambarkan, Mayoritas warga di desa Sunari adalah komunitas muslim. Meski begitu, benar-benar tidak ada batas agama yang menghalangi kerukunan masyarakat setempat. Melebur sebagai satu kesatuan. 

Maka, tidak heran jika Sunari—sebagai orang serba bisa (karena selain petani tembakau juga seorang tukang—kerap dimintai tolong oleh tetangga: baik sesama umat Buddha maupun muslim. 

“Genteng rusak, Bapak (Sunari) dipanggil buat benerin. Masang gas, ya Bapak. Listrik konslet. Pokoknya tetangga minta tolong apa, Bapak yang dimintai tolong,” beber Pariana. “Dan Bapak selalu siap membantu.”

Bagi Sunari, itulah implementasi dari ajaran cinta kasih Buddha. Hakikat hidup baginya adalah harus bisa berbuat baik, bermanfaat kepada orang lain, dan memberi kebahagiaan bagi semua. Kalau tidak bisa demikian, artinya tidak sepenuhnya hidup. 

Hidup di dunia ini fana. Jika tidak bisa berbagi kebahagiaan dan kebaikan, maka akan sia-sia tanpa makna. 

Di desa Sunari di Temanggung pun selalu ada kebiasaan berbagi makanan dengan tetangga muslim. Jika umat Buddha sedang ada acara dan masak-masak besar, seringkali tetangga muslim ikut membantu memasak dan menyiapkan acara. Lalu hasil masakan itu dibagikan atau dimakan bersama-sama. 

“Kalau lebaran (Idulfitri), kami juga merayakan. Beli jajan di rumah buat suguhan. Menyiapkan THR juga buat anak-anak tetangga,” ucap Sunari.

“Kalau Hari Raya Kurban (Iduladha), tetangga muslim kasih daging juga ke kami. Jadi memang cinta kasih itu sudah terserap jadi bagian hidup desa kami, jangan ragukan soal toleransi, selalu hangat,” kata Pariana. 

Bahkan, di momen Hari Trisuci Waisak, tidak hanya mengucapkan, tetangga muslim pun kerap kali memastikan: Tahun ini (misalnya) berangkat ibadah ke Borobudur atau tidak? Itu memberi kesan harmoni yang mendalam bagi keluarga Sunari. 

Tidak jujur akan hancur, hidup tanpa berkah akan berantakan, dan sebotol air simbol cinta 

Percakapan saya dan Sunari terjadi menjelang detik-detik Waisak yang jatuh pukul 15.44 WIB. Keluarga Sunari tengah menyantap bekal makanan yang dibawa dari rumah sebelum mengikuti ibadah detik-detik Waisak. 

“Tidak ada doa khusus atau muluk-muluk. Setiap Waisak, yang saya minta cuma keberkahan hidup, itu paling penting,” kata Sunari. 

Tidak ada permintaan agar rezeki berlipat atau hal-hal duniawi lain. Pokoknya asal hidup berkah saja. Hidup berkah artinya Sunari diberi kebahagiaan dan keseimbangan batin tanpa harus terikat dengan materiil. 

Kondisi ladang Sunari tidak selalu menghasilkan panen melimpah. Namun, keberkahan hidup senantiasa membuat hidupnya selalu terasa bahagia dan cukup kendati dalam kondisi seadanya.

“Tapi keberkahan hidup itu harus diusahakan. Satu amalan saya: jujur. Orang kalau tidak jujur, hidupnya hancur, tidak berkah. Kalau tidak berkah, hidupnya berantakan,” bebernya. 

Sembari menanti matahari condong ke barat, saya menghabiskan sisa hari ini bersama keluarga Sunari. Mereka tanpa ragu mengeluarkan dan menawarkan kresek berisi bekal camilan yang dibawa dari rumah. 

Pariana menyodorkan sebotol air minum karena menduga tenggorokan saya kering karena sebelumnya berjibaku dengan panas terik Magelang. Pariana menunjukkan, betapa cinta kasih dan kebahagiaan bisa dibagikan bahkan hanya dari sekadar air minum dari botol kecil. 

Ajaran Buddha yang dipegang keluarga Sunari. (NotebookLM/Created by Aly Reza)

Memanusiakan manusia jadi pondasi hidup

Sejak pagi ribuan umat Buddha memadati kawasan candi yang dikelola PT Taman Wisata Candi (TWC) alias InJourney Destination Management ini sejak pagi. Di antara mereka, hadir pula masyarakat dari agama Islam hingga Katolik. Dalam alunan puja-puji untuk Sang Buddha, semuanya melebur. 


Perdamaian semacam itulah yang diharapkan oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di momentum peringatan Hari Tri Suci Waisak 2026 M/2570 BE. Menag menekankan, sudah selayaknya Waisak menjadi momentum memperkuat komitmen menebarkan kebajikan, mempererat persaudaraan, dan menjaga perdamaian dunia.

Untuk diketahui, Waisak 2026 di Candi Borobudur mengusung tema Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”. Menurut Menag, Dharma tidak hanya dipahami sebagai ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang menuntun manusia untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran, moralitas, dan kebijaksanaan.

 “Dharma bukan sekadar ajaran, melainkan pelita kehidupan yang menuntun manusia untuk tetap teguh dalam nilai-nilai kebenaran, moralitas, kebijaksanaan serta di tengah dinamika zaman. Termasuk menjaga perdamaian dunia,” begitu ujar Menag dalam pesan tertulisnya. 

Ribuan orang padati Cadi Borobudur Magelang untuk perayaan Waisak 2026. (Aly Reza/Mojok.co)

Ia menekankan, nilai cinta kasih harus menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan kehidupan dunia.

Seluruh agama, lanjut Menag, mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Maka dari itu, kehidupan beragama harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya. 

“Agama hadir untuk memanusiakan manusia. Kebijaksanaan yang diajarkan dalam Buddha selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjadi fondasi kehidupan bersama,” tegasnya.***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Upaya Merawat Candi Borobudur agar Bisa Bertahan 2000 Tahun Lagi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version