Selama dua hari (Kamis, 25 Juni-Jumat, 26 Juni 2026), 16 mahasiswa dari berbagai daerah dan universitas saling memaparkan gagasan masing-masing dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026.
Tak hanya mempresentasikan gagasan yang mereka tulis dalam sebuah esai, para mahasiswa—yang merupakan penerima Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum)—juga harus (berlatih) menyusun argumen yang kuat saat menghadapi pertanyaan dari para juri dan mahasiswa lain.
Prinsipnya, dalam kompetisi esai yang berlangsung di Ballroom Grand Mercure Bali Seminyak, Badung, Bali, tersebut, semua punya misi yang sama: menemukan solusi terbaik atas beragam persoalan di tengah masyarakat. Pasalnya, gagasan dan solusi yang mereka tawarkan berangkat dari persoalan-persoalan yang kerap mereka temukan di tengah masyarakat, tapi seringkali luput dari pembicaraan serius.

Menulis esai: melihat persoalan besar dari hal-hal yang selama ini dianggap biasa
Dalam empat tahun terakhir, Essay Contest Beswan Djarum memang dirancang sebagai ruang menumbuhkan nalar kritis dan kepekaan sosial bagi anak-anak muda. Tidak ada batasan tema. Para Beswan Djarum dipersilakan menulis esai hasil mengeksplorasi persoalan apapun yang mereka temukan.
Jajaran dewan juri pun merasa sangat menikmati proses penjurian. Najwa Shihab misalnya. Jurnalis senior tersebut mengaku, sejak disodorkan file-file esai para Beswan Djarum, ia tidak bisa berhenti membaca.
“Yang paling kami (para juri) nikmati selama proses penjurian itu melihat bagaimana cara berpikir anak muda hari ini. Ada yang mengajak kami melihat persoalan besar dari hal-hal yang selama ini dianggap biasa,” ungkap Najwa dalam resumenya untuk Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026.
“Ada yang mengangkat kelompok yang sering tidak terlihat. Ada yang mengajak kita mulai memikirkan tantangan-tantangan baru yang akan kita hadapi di masa depan,” sambungnya.
Bagi Najwa, gagasan dalam esai setiap peserta membuat siapapun yang membaca dan mendengar idenya bisa melihat sesuatu dengan cara yang berbeda.
Tak hanya itu, dalam penilaian Najwa dan dewan juri lain, para peserta tampak betul sangat rajin mencari informasi dan referensi. Kemampuan tersebut, bagi Najwa, menjadi modal besar bagi generasi muda sekarang di tengah tsunami informasi yang kerap memunculkan bias antara fakta dan data.
Itulah kenapa, meski harus memilih tiga terbaik dari 16 peserta, Najwa menyebut seluruh finalis sudah menjadi juara bahkan jauh sebelum kompetisi dimulai.
“Itu bukan basa-basi atau pernyataan klise. Saya bilang semuanya menang jauh sebelum kompetisi dimulai, itu alasan utamanya adalah karena setiap esai yang kami baca menunjukkan bahwa adik-adik semuanya memiliki kepedulian terhadap persoalan di sekitar sekaligus keberanian untuk menawarkan solusi,” tegas Najwa.
Anak muda harus menulis, apapun profesinya
Dua hari Mojok berbincang dengan sejumlah peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026.
Beberapa mengaku awalnya tidak terbiasa menulis esai. Bahkan ada pula yang harus berhadapan dengan lingkungan yang memandang remeh keterampilan menulis. Namun, proses menulis esai kemudian membuka kesadaran mereka: bahwa perubahan besar ternyata dimulai dari kemampuan menstrukturkan pikiran serta menuliskan gagasan.
“Apa sih istimewanya menulis esai? Menulis esai itu bukan sekadar latihan menulis saja, karena menulis itu memaksa kita berpikir,” ujar Najwa Shihab.
“Ketika kita menulis, kita belajar menyusun logika. Kita menguji asumsi kita, mencari data, dan kita mempertanggungjawabkan pendapat. Di era ketika semua orang bisa menyampaikan opini, kemampuan untuk membangun argumentasi yang kuat itu jadi pembeda,” tegasnya.
Dengan begitu, lanjut Najwa, apapun profesi yang digeluti kelak, menulis menjadi pondasi vital. Kemampuan menulis—yang memicu kemampuan berpikir solutif—adalah modal dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan. Dengan kemampuan tersebut, seseorang akan tumbuh dengan daya pikir kreatif: mampu memecahkan masalah, menemukan jawaban, serta menemukan solusi-solusi baru.
Tak lupa akar di manapun posisinya
Tak lupa akar. Pada akhirnya itulah yang diharapkan bagi anak-anak muda—16 Beswan Djarum—usai Essay Contest ini berakhir. Harapannya tidak hanya berhenti pada menulis dan menuangkan gagasan, tapi juga kelak bisa memiliki aksi nyata.
“Mahasiswa memiliki banyak peran, termasuk dalam menyumbang berbagai solusi dari persoalan di kehidupan sehari-hari. Melalui Program Djarum Beasiswa Plus, kami menyiapkan generasi muda yang terbiasa berpikir kritis, menganalisis situasi, hingga menghasilkan jalan keluar dengan kebaruan sudut pandang,” kata Felicia Hanitio, Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation.
Sementara itu, Ronny Rachman Noor, guru besar bidang Genetika Hewan dan Genetika Ekologi Fakultas Peternakan IPB University yang menjadi dewan juri menyebut, Essay Contest Beswan Djarum mengisi kekosongan di kampus.
Ronny melihat, di kampus tidak diajarkan menulis sesuatu berdasarkan permasalahan yang ada di masyarakat, yang berangkat dari keresahan sehari-hari.
“Essay Contest mengajarkan anak-anak muda menulis bahkan dari keresahannya sendiri, dan itu memang berdasarkan realitas di masyarakat. Tujuan utamanya adalah menjangkau kepekaan anak-anak muda ini terhadap masyarakat,” ujar Ronny kepada Mojok.
“Kekurangan kita di kampus itu seolah justru berjarajak sama masyarakat. Seolah-olah hidup di zona-zona. Padahal di kiri dan kanannya banyak masalah,” sambungnya.
Jangan sampai pendidikan membuat seseorang tercerabut dari tempatnya berasal. Sementara itulah pesan yang ditekankan Najwa Shihab.
Selama dua hari bergelut dengan esai dan gagasan Beswan Djarum, Najwa melihat bagaimana anak-anak muda sangat melek dan peduli dengan persoalan di daerah masing-masing.
“Jadi di manapun nanti bekerja, jangan sampai kehilangan hubungan dengan akar itu. Kita seringkali perubahan besar justru bisa kita lakukan dari tempat yang kita kenal,” pungkasnya. ***(Adv)
BACA JUGA: “Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan