WNA Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Kontrak di Indonesia dan Mengabdi untuk Anak Pekerja Migran di Sana

Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

ilustrasi - hidup guru CLC di Malaysia lebih sejahtera. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Perempuan kelahiran Aceh ini pilih mengajar di Sabah, Malaysia. Sebelumnya, ia kerja sebagai guru kontrak dengan gaji “imut”. Namun, kondisi ekonomi memaksanya untuk merantau dan menjadi guru Community Learning Centre (CLC).

Guru kontrak vs guru CLC di Malaysia

Awalnya, Ainul Mardhiah (34) adalah guru kontrak di salah satu sekolah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Provinsi Aceh, sekaligus program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2014.

Sebagai guru kontrak yang menjadi tulang punggung keluarga, Ainul berujar upahnya masih kurang untuk memenuhi biaya hidup. Apalagi, adik bungsunya juga sedang menjalani kuliah. Walaupun adiknya mendapat beasiswa, tapi Ainul tetap merasa perlu untuk mengirimkan keluarganya uang.

“Fisik bapak juga sudah nggak sehat, jadi jarang kerja. Makanya, saya harus tetap mengirim uang ke kampung,” kata Ainul saat dihubungi Mojok, Selasa (21/4/2026).

Jujur saja, gaji sebesar Rp2,2 juta tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Boro-boro membayari kuliah adiknya, guna membayar kos dan biaya hidup sehari-hari saja, Ainul sudah kelimpungan.

Mau mencari kerja sampingan pun, ia sudah pesimis duluan karena jam kerjanya baru selesai pukul 16.00 WIB. Belum lagi tugas-tugas sekolah yang tidak ada habisnya. Namun, di tengah kesibukannya mengajar sebagai guru kontrak, Ainul tak berhenti untuk mencari informasi. 

Sampai akhirnya ada seorang kawan yang ternyata bekerja sebagai guru Community Learning Centre (CLC). Guru CLC merupakan pengajar di sekolah bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya mereka yang lahir di Sabah, Malaysia. Materi pembelajaran yang diberikan berkutat pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Guru CLC dibentuk khusus untuk membantu pelayanan pendidikan bagi anak-anak PMI yang tinggal bersama orang tuanya yang bekerja di berbagai ladang sawit di seluruh Sabah. Ainul pun tak segan untuk bertanya soal budaya kerja, beban tugas, sampai gaji ke temannya. Setelah mempertimbangkannya secara matang, Ainul akhirnya mantap untuk mendaftar.

Meninggalkan kerja sebagai guru kontrak

Di tahun 2019, Ainul harus datang ke Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) penyelenggara. Masalahnya, di Aceh pada saat itu belum ada LPTK penyelenggara yang buka. Alhasil, Ainul harus pergi ke Medan untuk melaksanakan tes psikotes, akademik, sampai tes mengajar. 

“Tes mengajar ini yang menurutku paling menantang karena harus menyiapkan sampai model pengajarannya. Kami harus bawa barang macam-macam sebagai alat dukung pembelajaran. Salah satunya topi untuk mengapresiasi murid. Jadi benar-benar harus sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),” jelas Ainul.

Setelah melewati rangkaian tes di atas, sampailah Ainul pada tes wawancara dan focus group discussion (FGD). Untuk mempersiapkan tes tersebut, Ainul juga sudah latihan di rumah seperti cara memimpin sebuah diskusi, komunikasi publik, tata bahasa, dan sebagainya. 

Intinya aku belajar bagaimana cara mengajar yang menyenangkan, agar anak-anak nggak ngantuk misalnya,” tegas Ainul.

Perjuangan perempuan asal Aceh itu pun akhirnya berbuah saat ia diterima jadi guru CLC di Malaysia. Sebagai guru CLC, gajinya naik 10 kali lipat dibandingkan guru kontrak di Aceh. Bagi guru sertifikasi non-PNS, gaji pokok plus tunjangannya tanpa pajak sekitar Rp20 juta.

Lulus S2 di UNNES, lanjut jadi guru CLC

Selama 5 tahun mengajar, Ainul mengaku kondisi ekonominya makin stabil. Terutama untuk mencukupi kebutuhan hidup dia dan keluarganya, serta adiknya yang kuliah. Namun, Ainul tidak merasa puas karena ia perlu mengembangkan diri di bidang mengajar. 

Sebagai lulusan S1 Jurusan Pendidikan Sejarah di Universitas Syiah Kuala (USK) tahun 2013 dan punya pengalaman jadi guru kontrak di Aceh, Ainul merasa banyak perubahan dalam sistem pendidikan. Alhasil, ia tergerak untuk melanjutkan S2.

Masalahnya, ia tak bisa meninggalkan profesinya di Malaysia dan melanjutkan S2 di Indonesia. Beruntung, Ainul menemukan Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang memberikan kesempatan mahasiswanya untuk hybrid. 

“Aku diskusi dengan salah satu ketua prodi sampai akhirnya beliau mendukung, karena sulit juga kalau harus bolak-balik dari Sabah ke Semarang,” ujar guru CLC tersebut.

Perjuangan Ainul tak berhenti sampai di situ. Saat kuliah S2 di Sabah, Ainul harus berjuang mencari sinyal yang lebih sering muncul saat tengah malam. Itu pun tidak terlalu kuat. Hanya bisa dipakai untuk mengirim chat. 

“Untungnya teman-temanku mau mengalah, jadi mereka harus ikut kelas sore karena kondisiku. Selain itu aku juga usaha cari sinyal sampai nebeng truk sawit atau ke tetangga buat cari sinyal,” ucap Ainul. 

Meski harus berkucur keringat, Ainul mengaku menikmati prosesnya. Hingga akhirnya ia lulus S2 Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di UNNES dengan IPK 4.00 di tahun 2025. Keberhasilan itu pun memicu semangatnya untuk segera menyelesaikan studi S3-nya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sarjana Pendidikan Ogah Jadi Guru Honorer, Lebih Memilih Jadi Guru Les karena Gajinya Jauh Lebih Masuk Akal! dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version