Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
21 Februari 2026
A A
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Ilustrasi - Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salah sasaran LPDP menimbulkan pertanyaan

Karena ketidakjelasan yang dipermudah dengan sebutan “nasib” ini, Ana mengaku menjadi salah satu dari orang-orang yang akan memperhatikan mahasiswa yang terbongkar identitasnya sebagai penerima LPDP.

Pasalnya, ia menjadi penasaran keunggulan yang dimiliki penerima beasiswa sehingga bisa dianugerahi fasilitas dana pendidikan ini.

Sayangnya, temuan Ana berkata sebaliknya. Ia gagal menemukan apa pun untuk membuktikan bahwa penyaluran beasiswa ini telah “tepat” sasaran.

“Hampir semuanya aku lihat nggak deserve LPDP, hanya sebagian kecil,” katanya kesal.

“Di kelasku, ada anak LPDP afirmasi, dan dia bener-bener kayak ‘kosong’. Maksudku, nggak pantas dapat gitu,” tambahnya.

Hal ini, Ana simpulkan dari observasi kecil-kecilannya di ruang perkuliahan. Dari aktivitas kuliah yang umum, ia menemukan bahwa “mereka” tidak bisa melakukan hal-hal biasa yang sudah menjadi makanan mahasiswa pada umumnya.

Contohnya, presentasi dengan mumpuni secara isi dan penyampaian menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Bahkan, sekadar berargumentasi secara teoretis dari bahan baca tidak bisa dikuasai.

Pada akhirnya, Ana merasa bahwa afirmasi ini adalah bentuk kesempatan pada mereka yang juga “kurang” secara akademis. “Ada afirmasi juga nggak menjamin. Mereka bisa jadi kurang pintar kan,” katanya.

Ternyata ada dari mereka yang tidak “tidak mampu”

Kusuma (24) juga berpendapat sama. Ia merasa beasiswa LPDP telah menganakemaskan afirmasi pada satu titik, tanpa menyadari celah yang perlu diperbaiki.

Ia semakin merasakan kejanggalan ini saat mengetahui salah seorang temannya yang tidak “tidak mampu”, tetapi dapat lolos beasiswa. 

“Karena ada teman juga kemarin yang mendaftar lewat afirmasi itu, menurutku itu jadi terasa tidak adil. Aku nggak bisa melihat dengan helicopter view ya, karena yang bisa aku bandingkan hanyalah pengalamanku yang mendaftar reguler,” katanya.

Meski begitu, Kusuma bilang, kemudahan ini terasa terlalu pelik buatnya. Ia juga tidak berasal dari kalangan “mampu”, tetapi daerahnya tidak termasuk, padahal juga butuh pembangunan lebih.

Kusuma menambahkan, dirinya juga perlu mengumpulkan uang untuk melakukan tes TOEFL demi sertifikat bahasa Inggris—dibebaskan untuk pendaftar afirmasi. Membayarkan sekitar Rp650 ribu tidak murah untuknya, Kusuma bisa membayarkan uang kos selama satu bulan dengan nominal sama. Sementara itu, uang yang dikeluarkan terasa “gambling” karena menunggu hasil dengan harap-harap cemas lantaran kemampuan yang juga pas-pasan, tapi tidak bisa kursus karena kendala biaya.

Karena itu, Kusuma menilai beasiswa hakikatnya adalah bentuk afirmasi bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya afirmasi untuk afirmasi.

Iklan

“Dengan pengalaman temanku yang mendaftar afirmasi, dia tidak perlu menyiapkan skor TOEFL, terus passing grade-nya lebih rendah. Cuma menurutku, perlu dipertanyakan lagi afirmasi itu harusnya untuk siapa? Kalau misalnya mau tetap diadakan, lho wong beasiswa itu kan afirmasi. Kenapa harus ada afirmasi di dalam afirmasi?”

Baginya, penerapan sasaran ini terasa seperti standar ganda. Bukan hanya untuk mereka yang juga perlu diafirmasi, tetapi untuk penerima afirmasi itu sendiri.

Dari pandangan Kusuma, mereka yang diafirmasi seakan-akan dilihat “lebih rendah” dan tidak mampu bersaing. Padahal, belum tentu begitu adanya.

Kusuma merasa, mereka yang tidak termasuk afirmasi juga mengalami kesulitan yang tidak jauh berbeda. Jadilah, bersaing bersama menjadi solusi yang dianggapnya paling ideal.

“Pemerintah tuh sadar nggak sih, mereka tuh kalau kayak gitu secara nggak sadar ya memandang ‘rendah’ orang-orang yang menurut mereka lebih butuh diafirmasiin,” ujarnya.

“Udah jadiin satu aja, kalau emang dia dari keluarga kurang mampu, tapi misalnya dia sangat gigih dan kelihatan potensinya untuk melanjutkan studi, ya sudah. Kita bersaing sama-sama di jalur yang ada,” kata dia menambahkan.

Bagaimanapun, bukan Kusuma atau Ana memandang sebelah mata penerima afirmasi LPDP. Namun yang perlu disoroti lebih lanjut adalah sistem beasiswanya yang belum benar-benar “adil” bagi seluruh WNI, seperti yang termaktub dalam panduan beasiswa.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2026 oleh

Tags: beasiswa afirmasi lpdpbeasiswa lpdpcara dapat lpdpcara mendaftar lpdplolos LPDPLPDPpenerima lpdppilihan redaksisyarat LPDP
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Wawancara beasiswa LPDP
Edumojok

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO
Sehari-hari

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO
Esai

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Buka puasa di Blok M saat bulan Ramadan

Blok M Jadi Tempat Buka Puasa yang Dianggap Keren, tapi Terancam Gagal Puasa Keesokan Hari

16 Februari 2026
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Rosalia Indah Armada Tua Bikin Kecewa- Mogok Sampai 4 Kali MOJOK.CO

Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan

17 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.