Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) bagi mahasiswa asal Malaysia, awalnya menjadi tawaran menarik. Namun, pada akhirnya justru menyesal karena merasa tidak dapat apa-apa. Terlebih lulusan UIN ternyata tidak begitu dipertimbangkan di dunia kerja karena dianggap minim keterampilan.
***
Panggil saja Haliza (27), perempuan asal Malaysia. Ia mengenal Universitas Islam Negeri (UIN) dari brosur digital yang ia dapat dari kakak tingkatnya semasa “SMA” yang sudah lebih dulu kuliah di PTN Islam tersebut.
Dari si kakak tingkat, Haliza tahu kalau ternyata ada beberapa mahasiswa asal Malaysia yang kuliah di UIN (maksudnya UIN dalam brosur itu).
“Masa itu memang ingin rasakan kuliah di luar Malaysia. Lalu mencoba kuliah UIN. Terutama karena saya tertarik jurusan Sejarah Kebudayaan Islam. Dan karena informasi biaya kuliah lebih murah,” ujar Haliza, Rabu (25/3/2026).
Jika di Malaysia biaya persemester bisa menyentuh Rp10 jutaan dalam mata uang rupiah, di UIN bisa mendapat umumnya Rp1 juta-Rp2 jutaan pada tahun-tahun saat Haliza kuliah (2017).
Toh tidak butuh adaptasi lama juga. Bahasa relatif tidak ada kendala. Sementara soal makanan, kata kakak tingkat Haliza, juga cenderung mudah diterima. Singkat cerita, pada akhirnya Haliza pun kuliah di sebuah Universitas Islam Negeri di Indonesia.
“Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, dari brosur yang saya baca, kurikulumnya ada juga Filologi. Saya nak belajar karena siapa tahu kelak jadi Filolog. Indonesia kan dikenal kaya dengan naskah-naskah kuno,” ucap Haliza.
Banyak mahasiswa Indonesia malah pertanyakan keputusan kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN)
Selama menjadi mahasiswa UIN, Haliza tinggal satu kontrakan dengan komunitas mahasiswa asal Malaysia. Meski begitu, ia tidak menutup pertemanan dengan mahasiswa asal Indonesia.
Tahu kalau Haliza dari Malaysia, ada saja yang beraksi mempertanyakan. Pasalnya, mahasiswa asal Indonesia saja kerap mencari-cari beasiswa untuk kuliah di Malaysia.
Sebab, temannya itu mengakui, di mata orang Indonesia sendiri UIN adalah universitas yang kerap diremehkan dari banyak hal. Orang-orang yang kuliah di UIN pun tidak sedikit yang hanya sebatas pelarian karena tidak diterima di PTN impian.
“Saya pun pada dasarnya memang pelarian. Karena saya tidak berhasil ke universitas impian di Malaysia. Tapi kalau lihat di brosur digital kan kualitasnya bagus. Biaya murah terutama. Walaupun sejak pertama kali, teman di komunitas Malaysia sudah memperingatkan jangan pasang ekspektasi tinggi-tinggi,” beber Haliza.
Kuliah di Universitas Islam Negeri seperti kuliah di gedung mangkrak
Kekagetan pertama mahasiswa asal Malaysia itu saat kuliah di UIN adalah kesan seperti kuliah di gedung mangkrak.
Katanya, dari bagian depan kampus sebenarnya memang terlihat mewah. Namun, ke bagian belakang, bukan gedung bagus yang ia dapati. Melainkan sebuah gedung yang seperti mangkrak tidak terurus. Tembok retak di mana-mana. Cat mengelupas dan berwarna kusam di sana-sini.
“Jadi seperti kamuflase. Bagian depan tampak elite. Tapi bagian belakang berbeda sama sekali,” kata Haliza.
Lebih-lebih di gedung fakultas Haliza kuliah, banyak ruang kelas yang AC-nya tidak berfungsi. Mengandalkan AC alami berupa jendela yang tetap tidak bisa menangkal panasnya cuaca.
Bangku-bangku yang tersedia sekadarnya. Beberapa bahkan masih menggunakan kayu yang bagian mejanya ada yang sudah patah. Suasananya benar-benar seperti berada di dunia pasca-apokaliptik.
“Hanya kalau benar-benar beruntung kalau dapat mata kuliah di ruang lebih bagus. Soal toilet pun sama halnya. Jorok sekali. Lebih bagus toilet semasaku sekolah di Malaysia dulu,” ujar lulusan UIN tersebut.
Haliza sempat menyatakan kekagetannya itu kepada teman-teman sesama dari Malaysia. Teman-teman Haliza justru meresponsnya dengan tawa. Ya memang sejak awal Haliza sudah diperingatkan agar buang jauh-jauh ekspektasi.
“Lantas kenapa kalian tetap kuliah di sini?” Tanya Haliza.
“Karena kami mengincar murah. Kalau kamu kan awalnya mencari pelarian. Maka seperti ini lah kualitas universiti pelarian,” jawab teman Haliza.
Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…
Terpaksa dibetah-betahkan meski hadapi hal tak mutu dan skill yang mentok segitu














