Berangkat dari ketertarikannya dengan permasalahan sosial, Trixi Karinina Dewi Sindhutomo akhirnya mendaftar kuliah S1 di Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik. Selama 3 tahun berselang, dia pun lulus di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja dengan skripsinya yang mengangkat isu tentang kebijakan social housing atau perumahan rakyat di Belanda untuk kelas menengah.
Jalani sempro Manajemen dan Kebijakan Publik sepulang dari Belanda
Akhir tahun 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa hingga saat ini, masih terdapat 29 juta rakyat Indonesia yang masih belum memiliki rumah. Isu ini pun segera menjadi concern baik bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia gencar melaksanakan program 3 juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Misalnya, petani, nelayan, buruh, guru, pengemudi, hingga pekerja media.
Permasalahan itu pada akhirnya ikut menarik perhatian Trixi. Saat melakukan pertukaran pelajar ke Belanda di University of Groningen, dia tak sengaja melihat perumahan rakyat di sana dan kagum dengan kebijakan pemerintahnya.
Maka, walaupun Trixi masih semester 5 pada saat itu, dia tetap melakukan riset serta mengambil data untuk skripnya yang berjudul National Social Housing Policy for the Indonesian Middle Class: Policy Learning from the Netherlands.
“Jadi aku pulang dari Belanda langsung seminar proposal (sempro), habis itu langsung analisis data. Jadi sebelum KKN, skripsi sudah selesai tinggal revisi aja. Selesai KKN, itu udah bener-bener selesai revisiannya juga, jadi tinggal nunggu nilai KKN langsung bisa sidang,” jelasnya dilansir dari laman resmi UGM, Rabu (18/2/2026).
Membandingkan kebijakan perumahan rakyat di Indonesia dan Belanda
Saat di Belanda, Trixi mengambil riset Spatial Planning. Jenis riset yang cukup berbeda dengan jurusannya di Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, meskipun tujuannya sama-sama membangun sarana publik.
Data primernya dia ambil dari 2 representatif orang Belanda yang bekerja di Housing Association dan satu akademisi ahli di bidang di housing market yang juga merupakan dosennya. Sementara, data sekundernya dia ambil lewat hasil wawancara dengan 2 orang pegawai Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Indonesia.
Lewat riset tersebut, Trixi berhasil mengembangkan pengetahuannya soal ekonomi geografi dan juga tata kelola kota. Hanya saja, dia lebih berfokus pada pembangunan tata kelola spasial. “Termasuk juga tata kelola kota ataupun rural (desa),” ucapnya.
Menurut Trixi, kebijakan perumahan rakyat di Belanda khususnya untuk masyarakat kelas menengah bisa menjadi contoh pengalaman sukses yang bisa diterapkan di Indonesia.
“Meskipun kebijakan perumahan sosial Belanda telah bergeser dari yang dipimpin negara menjadi desentralisasi, yang mengakibatkan berkurangnya pembangunan dan meningkatnya disparitas regional, pengalaman masa lalunya tetap relevan dengan permasalahan perumahan Indonesia saat ini,” kata Trixi.
Dalam skripsinya, Trixi mengangkat soal pengakuan kebutuhan masyarakat kelas menengah dalam kebijakan perumahan sosial nasional, dan kebijakan zonasi inklusif 40-40-20. Tak hanya itu, dia juga membahas soal adaptasi proyek horizontal yang dipimpin negara seperti VINEX. Sebuah kebijakan perencanaan kota di Belanda yang berfokus pada pengembangan perumahan dan infrastruktur di area pinggiran kota.
Temuan Trixi menunjukkan bahwa kelembagaan dan hukum di Indonesia perlu melakukan revisi jika ingin menerapkan pembelajaran kebijakan seperti di Belanda, khususnya reformasi hukum dari atas ke bawah dan inovasi kelembagaan dari bawah ke atas.
Lulus Sarjana Manajemen dan Kebijakan Publik dengan predikat cumlaude
Tentu saja untuk menyelesaikan skripsi tentang perumahan rakyat di Belanda tidaklah mudah. Trixi mengaku harus menyeimbangkan waktu dengan kegiatan program pertukaran pelajarnya. Namun, berkat kegigihan dan juga disiplin yang tinggi, ia mampu untuk meraih prestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik.
Sebelum berangkat ke Belanda, Trixi turut aktif dalam berbagai kepanitiaan dan volunteering. Tak hanya itu, dia juga pernah meraih piagam penghargaan seperti Peraih Medali Perak Pimnas, serta memperoleh predikat best presentation dan best paper pada Temu Administrator Muda Indonesia tingkat nasional.
Berkat ketekunannya, Trixi akhirnya lulus sebagai Sarjana Manajemen dan Kebijakan Publik UGM dengan IPK 3,85 selama masa studi 3 tahun 27 hari. Hal itu menjadikannya sebagai wisudawan yang lulus dengan masa studi tercepat pada periode I tahun 2025 lalu.
“Kuncinya memang harus tekun dan konsisten. Jadi misalnya, walaupun lagi menghadapi hari-hari yang sulit, tetap harus dijalanin. Dan sadar bahwa nggak semua hari itu happy. Jadi nggak apa-apa, jalan aja terus. Jangan sampai berhenti,” ujar alumnus yang lulus dengan skripsi soal perumahan rakyat di Belanda tersebut.
Trixi juga berpesan bahwa jalan setiap orang tidaklah sama karena memiliki waktu dan tantangannya masing-masing. Dan apa yang dia jalani sekarang, tidak harus sama dengan yang dilalui orang lain.
“Aku disini 3 tahun itu karena memang ada berbagai alasan yang aku pertimbangkan secara pribadi dan aku merasa nggak semua orang harus seperti itu,” ujarnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.














