Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 April 2026
A A
kuliah s2.MOJOK.CO

Ilustrasi kuliah s2 (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tari dan Dimas adalah dua narasumber Mojok yang menyesal lanjut kuliah S2 hanya karena FOMO dan menjadikannya pelarian. Setelah lulus kuliah, ijazahnya tak dihargai dan susah dapat kerja.

***

Bagi sebagian besar anak muda, lulus S1 tak lagi menjadi jalan menuju kebebasan, tetapi awal mula kepanikan. Setelah sah jadi sarjana, euforia dan kebahagiaan langsung digantikan oleh rutinitas bangun pagi dan mencari lowongan kerja.

Biasanya, ketika berbulan-bulan lamaran kerja tak berbalas, sementara pertanyaan “sekarang kerja di mana?” mulai meneror, kepanikan makin memuncak. Banyak sarjana pada akhirnya memilih satu jalan pintas yang dianggap paling elegan dan bisa menyelamatkan wajah mereka: lanjut kuliah S2.

Berlindung di balik status “mahasiswa pascasarjana” memang terasa sangat nyaman. Tidak ada lagi tetangga yang mencibir. Namun, bagi Tari (26) dan Dimas (27, bukan nama sebenarnya) keputusan mengambil gelar magister tanpa bekal pengalaman kerja malah menjadi bom waktu. 

Alih-alih memuluskan karir, gelar S2 itu kini malah menghancurkan masa depan mereka sendiri.

Bosan ditanya “kapan kerja”, memilih lanjut kuliah S2 saja

Tari sebenarnya adalah gambaran kebanggaan keluarga. Sejak SMA, perempuan asal Banyumas ini dikenal sangat cerdas, selalu masuk ranking 10 besar di sekolahnya.

Tak heran, berkat kecerdasannya itu, ia berhasil diterima di sebuah PTN ternama di Jogja lewat jalur prestasi pada 2018 (saat itu bernama SNMPTN). Ia bahkan masuk jurusan yang begitu mentereng, S1 Manajemen.

Karena dasarnya anak yang pintar, ia pun menjalani masa kuliah dengan lancar dan berhasil lulus tepat waktu. Dengan predikat cumlaude pula.

“Aku kuliah S1 sewajarnya mahasiswa lain. Ya kuliah, nongkrong, nugas. Biasa-biasa aja. Tapi Alhamdulillah berhasil lulus dengan IPK 3.7,” ungkapnya, Jumat (3/4/2026)

Saat itu, setelah menjadi sarjana, mimpinya sangat jelas. Ia ingin bekerja di sebuah perusahaan besar di Jakarta, memakai lanyard keren, dan mandiri secara finansial. Sayangnya, status cumlaude itu ternyata tidak membuat perusahaan otomatis meliriknya.

Enam bulan setelah wisuda, Tari masih menjadi pengangguran. Tekanan mental mulai menghantamnya. Setiap kali pulang kampung ke Banyumas, pertanyaan kerabat dan tetangga membuatnya muak. 

“Lho, Tari kan pintar, lulusan kampus bagus, masa belum kerja juga?” Kira-kira begitu kalimat yang selalu dialamatkan kepadanya.

Karena tak sanggup menanggung rasa malu dan stres melihat teman-temannya mulai memamerkan gaji pertama di media sosial, Tari mengambil jalan pintas. Ia merengek pada orang tuanya untuk membiayai kuliah lagi. Ia pun nekat mendaftar S2 di PTN yang sama di Jogja pada 2023 lalu.

Iklan

“S2 itu murni pelarianku,” ujar Tari. “Waktu itu jujur saja aku cuma butuh tameng. Supaya kalau ditanya orang, aku bisa jawab ‘lagi fokus lanjut studi’. Kedengarannya kan lebih keren daripada jawab ‘masih nganggur’.”

Dua tahun masa S2 menjadi gelembung ilusi yang menenangkan bagi Tari. Ia kembali ke zona nyamannya: membaca buku, mengerjakan tugas, dan berdiskusi di kelas. Namun, masalah besar menantinya saat ia akhirnya lulus S2 dua tahun setelahnya. Gelar magister sudah di tangan, usianya menginjak 26 tahun, dan ia terpaksa kembali ke titik nol di bursa kerja.

Setelah lulus kuliah S2 tetap susah dapat kerja, dianggap overqualified

Cita-cita lamanya untuk berkarir di perusahaan impian perlahan memudar, berganti dengan kebingungan dan keputusasaan. 

Saat ia melamar pekerjaan tingkat awal untuk staf biasa, tim HRD menolaknya mentah-mentah. Alasannya, ia dianggap terlalu tinggi kualifikasinya alias overqualified. Dari yang Tari ketahui, perusahaan takut ia akan menuntut gaji besar atau cepat resign karena bosan mengerjakan tugas-tugas dasar.

“Padahal, aku juga sadar diri. Nggak ada pengalaman kerja, melamar ke level dasar pun nggak masalah. Yang penting kerja,” kata dia.

Di sisi lain, saat ia nekat melamar posisi level menengah seperti supervisor atau asisten manajer yang gajinya pas dengan gelar S2, ia juga ditolak. Perusahaan butuh orang yang sudah punya pengalaman memimpin tim atau memegang proyek nyata minimal 3 tahun, bukan orang yang baru lulus kuliah.

Nasib Tari sebenarnya adalah potret nyata dari anomali ketenagakerjaan di negara ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis setiap tahun, angka “Pengangguran Terdidik” di Indonesia terus mendominasi. Ratusan ribu sarjana dan magister kesulitan mendapat pekerjaan.

Ironisnya, di lapangan, perusahaan seringkali lebih memilih merekrut lulusan diploma (D3) atau S1 yang gajinya bisa ditekan dan siap dilatih secara praktis dari bawah. Menggaji lulusan S2 nir-pengalaman dianggap sebagai beban, karena perusahaan tetap harus mengajari mereka bekerja dari nol, tapi kandidat biasanya meminta standar gaji yang lebih tinggi karena merasa punya gelar Master.

Lanjut kuliah S2 karena FOMO

Jika Tari menjadikan S2 sebagai pelarian, lain halnya dengan Dimas (27). Pemuda asli Jogja ini punya motivasi yang berbeda, meski berujung pada penyesalan yang tak kalah menyakitkan.

Setelah lulus S1 dari sebuah PTN di Jogja, Dimas sebenarnya belum sempat merasakan pahitnya dunia pencarian kerja. Namun, ia terserang penyakit mental anak muda masa kini: takut tertinggal tren alias FOMO. 

Saat membuka LinkedIn atau Instagram, linimasanya dipenuhi oleh teman-teman seangkatan yang memamerkan Letter of Acceptance (LoA) beasiswa S2, atau foto keren memakai jas di depan gedung kampus pascasarjana.

Melihat pemandangan itu, ego Dimas meronta. Ia merasa gelar sarjananya mendadak terlihat biasa-biasa saja dan tidak keren. Tanpa pikir panjang soal rencana karir, Dimas langsung mendaftar S2 di salah satu PTS di Jogja pada 2023 lalu, dengan biaya dari orang tuanya.

“Jujur saja aku nggak malu mengakuinya. Iya, kalau dipikir-pikir motivasiku lanjut S2 ya karena FOMO,” ucapnya, Jumat (3/4/2026).

Di kepalanya saat itu, gelar magister yang menempel di belakang nama otomatis akan membuatnya terlihat elite. Ia merasa sertifikat S2 itu akan membuat perusahaan antre untuk merekrutnya, minimal sebagai calon manajer.

Setelah dapat kerja, gajinya setara lulusan SMA

Kenyataannya sangat jauh panggang dari api. Dunia nyata sama sekali tidak peduli dengan riwayat pendidikannya. Setelah lulus S2 pada 2025 lalu, Dimas mengirim puluhan lamaran ke berbagai perusahaan. Hasilnya nihil. 

Sama seperti Tari, posisinya sangat serba salah di mata HRD: gelarnya terlalu tinggi untuk jadi staf biasa, tapi pengalamannya terlalu kosong untuk jadi atasan.

Bulan berganti bulan. Karena desakan ekonomi dan rasa malu karena masih disubsidi orang tua di usia 27 tahun, ego Dimas akhirnya runtuh. Ia nekat melakukan hal yang paling ia hindari: menurunkan standar serendah-rendahnya.

Dimas melamar posisi staf administrasi dan data entry yang secara kualifikasi lowongan sebenarnya ditujukan untuk lulusan SMA/SMK atau maksimal D3. Ia pun akhirnya diterima kerja. 

Secara fisik ia tidak lagi menganggur. Namun, batinnya tersiksa setiap kali akhir bulan tiba.

“Gajiku mentok di UMR. Persis sama kayak karyawan lain, yang mohon maaf, kebanyakan lulusan SMA dan SMK,” kata Dimas sambil tertawa getir. 

“Suka nyesek sendiri kalau ingat dulu minta duit orang tua puluhan juta buat bayar uang pangkal dan semesteran S2. Ujung-ujungnya gelarku nggak kepakai sama sekali.”

Cerita Dimas maupun Tari, menjadi bukti nyata dari fenomena degree Inflation yang kini sedang melanda pasar tenaga kerja di Indonesia. Dulu, punya gelar S1 saja sudah istimewa. Sekarang, saat hampir semua orang bisa meraih gelar S1, banyak yang mengira S2 adalah kunci pembeda. Padahal, gelar master tidak lagi dilihat sebagai barang mewah.

“Aku merasa memang kurang penghargaan aja sih pada tenaga kerja terdidik di Indonesia ini,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 April 2026 oleh

Tags: ijazah s1kuliah s2lanjut kuliah s2lulusan s2magistermahasiswa S2pilihan redaksiPTNS1s2s2 ptn
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO
Edumojok

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO
Sehari-hari

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO
Sehari-hari

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.