Dari jualan pigura dan lukisan hingga tertuntun kuliah di UT
Pengakuan serupa dituturkan oleh Riyandi Regia (27), mahasiswa semester 6 program studi Sains Data di Universitas Terbuka kampus Bandung. Ada alasan serius kenapa ia akhirnya memilih kuliah di UT, bukan sekadar “buat nambah-nambah gelar”.
Kilas balik ke belakang, sudah sejak SMP Riyandi tertarik pada dunia “seni kreatif”. Semasa SMP ia berjualan pigura dan lukisan di Pasar Minggu Cimahi (Brigif). Saat masuk SMK, ia kemudian mengambil jurusan animasi.
Riyandi lulus SMK pada 2016. Setelahnya, Riyandi sudah malang-melintang di dunia industri kreatif sebagai seorang animator di sebuah perusahaan pengembang animasi. Kliennya bahkan kebanyakan datang dari luar negeri.
“Aku juga sering mengisi pelatihan. Di sekolah-sekolah atau bahkan di kampus-kampus negeri. Ada satu momen yang membuat aku merasa harus kuliah. Pas ngisi kelas di sebuah kampus ternama di Bandung, aku dapat pertanyaan yang aku nggak bisa jawab. Ada hubungannya sama AI,” beber Riyandi bercerita pada Mojok, Minggu (8/2/2026) malam.
Dari situ Riyandi terpantik untuk kuliah. Ia kemudian tertuntut untuk mengambil Sains Data di Universitas Terbuka.
“Pertama, aku jelas melihat sisi fleksibilitasnya. Perkuliahan full online. Aku bisa nentuin sendiri jadwalku. Itu membantuku sih buat ngimbangin kesibukan kuliah, kerja, dan ngurus keluarga karena aku sudah punya istri dan anak,” ucap Riyandi.
Kuliah daring tapi sama industri tetep bisa relevan
Perkuliahan di UT memang berlangsung secara daring: mahasiswa dituntut banyak eksplorasi sendiri atas materi-materi pembelajaran yang diberikan. Meski begitu, Riyandi merasa sistem itu sama sekali tidak mengurangi kualitas pembelajaran.
Sebab, sebagaimana disinggung juga oleh Fika, mahasiswa UT itu bukan kuliah hanya untuk pantes-pantesan. Tapi memang benar-benar serius untuk menambah pengetahuan dan keterampilan.
“Materi dan tugas yang diberikan itu relevan dengan konteks zaman dan industri. Misalnya, aku ambil Sains Data, dari situ aku bisa dapat insight baru soal analisis dalam dunia teknologi dan informasi digital yang sedang berkembang, ambil contoh AI,” jelas Riyandi.
“Selama ini mungkin aku cuma paham cara bikin animasi, tapi pembelajaran di Sains Data UT bikin aku bisa mengerti lebih jauh, soal industrinya bagaimana, potensi inovasinya kayak gimana, dan macem-macem,” imbuhnya.
Kuliah 8 semester di UT dengan biaya murah bahkan gratisan
Tak kalah penting, dengan segala kemudahan dan relevansi yang ditawarkan Universitas Terbuka, Riyandi dan Fika mengaku amat diuntungkan dengan biaya kuliah yang masih sangat ramah kantong, di tengah banyak kampus negeri yang mematok UKT terendahnya saja sudah di angka Rp3 juta-Rp5 jutaan ke atas.
Riyandi mendapat UKT Rp1,9 juta per semester. Angka yang masih sangat bisa dijangkau dari gajinya yang juga dibagi untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara Fika malah kuliah “gratisan” karena menerima beasiswa penuh berupa Beasiswa Prestasi dari UT.
“Di UT itu kalau sering ikut lomba dan berprestasi, dapat beasiswa. Misal kita menang lomba dan juara minimal tuh juara 3 nasional, itu kita dapat beasiswa satu semester. Nah karena saya tier lombanya internasional, jadi dapat beasiswa sampai lulus,” ungkap Fika.
Memang ada beberapa lomba tingkat internasional yang pernah Fika ikuti. Rata-rata berhubungan dengan public speaking, antara lain: lomba economic speech international, lomba presenting, story telling, dan lain sebagainya.
Tidak ada hubungannya dengan program studi yang Fika ambil. Tapi ternyata UT tetap memberi penghargaan berupa beasiswa tersebut. Selain juga ada beasiswa-beasiswa lain seperti KIP Kuliah dan program beasiswa dari CSR kolaborator UT.
“Sudah nggak bayar, aku malah dapat benefit banyak. Aku pernah diberangkatkan ke Kuala Lumpur, Hungaria, jadi delegasi Indonesia untuk ikut konferensi internasional,” papar Fika. “Nanti juga bakal ditugaskan ke event yang berlangsung di Bali.”
Benefit yang Fika dapat selama kuliah di UT sampai membuat sang ayah “geleng-geleng”: kok bisa gitu ya? Sang ayah pun semakin menyadari, stereotip soal UT sebagai “kampus pantes-pantesan” itu sudah usang. Sudah tidak relevan lagi.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Alasan Saya Mengabaikan Pengumuman Lolos di UGM, Lebih Pilih Kuliah di Universitas Terbuka Malang untuk Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan












