Tahun 2026 ini, Cynthia Frasisca (22) akhirnya berhasil meraih gelar Sarjana Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Madah (UGM). Tentu saja, perjuangannya tak semudah membalik telapak tangan. Ia harus siap mental dan belajar sungguh-sungguh untuk meraih gelar tersebut. Alasannya sederhana, agar kedua orang tuanya yang hanya lulusan SD turut bangga.
Minder masuk UGM karena merasa tak punya privilege
Cynthia lahir di Pulau Bangka, salah satu pulau yang terkenal sebagai tempat penghasil timah terbesar di dunia. Sayangnya, Bangka termasuk pulau yang jauh dari pusat pendidikan. Meski begitu, Cynthia tak berhenti bermimpi.
Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Cynthia memutuskan untuk kuliah ke luar daerah. Salah satu kampus yang menjadi minatnya saat itu adalah UGM. Awalnya, Cynthia sempat ragu karena harus merantau dan bersaing dengan banyak orang untuk masuk kampus top pertama di Indonesia itu. Apalagi, mengingat latar belakang kedua orang tuanya yang berijazah sekolah dasar.
Namun kemudian ia sadar, privilege tidak selalu hadir dalam bentuk materi. “Privilege tidak datang kepada setiap orang dengan cara maupun waktu yang sama. Tidak juga hadir dalam bentuk kemudahan, tapi seringkali berupa kesempatan. Yakni kesempatan untuk belajar, mencoba, dan bertahan,” ujar Cynthia dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (6/3/2026).

Cynthia percaya dapat menciptakan privilege-nya sendiri dengan tekad, kerja keras, dan ketekunannya dalam belajar. Lebih dari itu, ia yakin bahwa setiap orang punya garis yang sama dalam memulai.
Lewat keyakinan tersebut, Cynthia akhirnya berani mendaftar di Jurusan Akuntansi FEB UGM. Pilihan itu cukup membuat Cynthia percaya diri, karena sebelumnya ia sudah mendapat bekal akuntansi saat SMK. Pada akhirnya, segala kekhawatiran Cynthia luruh setelah dia dinyatakan lolos masuk UGM pada tahun 2023.
Tak sia-siakan kesempatan belajar
Tentu saja, perjuangan Cynthia untuk meraih pendidikan tinggi tak berhenti sampai dia masuk daftar mahasiswa baru UGM. Cynthia mengaku harus belajar lebih keras untuk beberapa mata kuliah seperti matematika ekonomi.
“Di satu sisi saya sempat merasa unggul di beberapa materi. Tapi di sisi lain, saya juga pernah merasa paling tidak paham. Dari situ saya belajar bahwa di perkuliahan semua akan kembali ke nol, yang membedakan hanya kemauan untuk terus belajar,” ucapnya.
Cynthia pun mengakui perjalanan kuliahnya tidak selalu berjalan mulus. Di awal semester ia hampir selalu kewalahan, terutama dalam menghadapi perubahan jadwal dan pola belajar baru.
Karena belum terbiasa, ia mengaku sempat mengalami burnout. Tapi dari situ, ia justru belajar mengenali batas diri, menyusun jadwal lebih terstruktur dan menetapkan prioritas. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya tentang makna keberhasilan.
Alih-alih menyerah, Cynthia justru tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya ikut organisasi kampus. Salah satunya terlibat dalam Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA).
Di semester 2, ia bahkan terpilih sebagai Awardee Beasiswa Tanoto Teladan 2023–2026 dari Tanoto Foundation. Melalui Tanoto Scholar Association (TSA) UGM, ia pun dipercaya menjadi staf hingga manajer divisi networking yang bertugas memperluas jejaring, sekaligus melatih kemampuan koordinasi tim.
Mental juara mahasiswa UGM dalam setiap kompetisi
Memasuki perkuliahan semester 5, Cynthia aktif mengikuti berbagai kompetisi. Bersama timnya, ia berhasil meraih Juara 3 pada ajang Udayana International Accounting Competition 2024.

Meski belum bisa meraih juara pertama, Cynthia justru terpacu untuk mengikuti lomba lainnya. Pernah, ia meraih Gold Medal dalam International Youth Business Competition 2024 yang diadakan oleh Universitas Diponegoro. Lalu, juara 2 pada Decarbonizing Indonesia Business Case Competition 2025.
Tak terhitung berapa kompetisi yang sudah ia lalui, tapi hanya berujung sampai semifinal dan terpaksa harus mengundurkan diri karena terbentur jadwal akademik. Meski begitu, ia tetap menempatkan proses kompetisi jauh lebih berharga dibanding hasil akhir.
“Tidak semua lomba harus berakhir dengan juara, yang penting kita belajar berpikir kritis, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan masalah secara terstruktur,” ucapnya.
Kesiapan kerja melalui pengalaman kuliah di UGM
Meski mengalami pasang surut, Cynthia menilai perjalanan belajarnya di FEB UGM telah membentuk resiliensi dan growth mindset diri. Dari pengalamannya itu, kata dia, Cynthia mampu mengambil keputusan dengan menempatkan prioritas secara matang.
Ia pun mengaku merasakan nilai-nilai integritas dan disiplin selama menjalani perkuliahan. Lingkungan kampus yang suportif juga turut memperkuat jejaring dan kepercayaan dirinya untuk terus berkembang.
Hingga akhirnya, Cynthia berhasil menjadi wisudawan terbaik UGM Periode II Tahun Akademik 2025/2026. Lulusan Sarjana Akuntansi FEB UGM itu berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun 4 bulan 12 hari. Ia juga menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3,97.
Bahkan menjelang kelulusan, Cynthia mengaku telah diterima bekerja di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP), yakni Ernst & Young (EY). Baginya kesempatan mendapatkan pekerjaan itu sebagai pencapaian dari konsistensi dan keberanian mencoba berbagai peluang selama masa studi.
“Kita mungkin lulus di hari yang sama, tetapi kita tidak akan berjalan di jalan yang sama. Kesuksesan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang paling setia pada panggilan hidupnya.” Ujar Cynthia.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














